Donasi dari Aceh untuk Sulawesi Tengah Sudah Terhimpun Rp800 Juta

Mahasiswa FISIP Unsyiah menggalang donasi untuk Palu dengan cara menjual thai tea di Car Free Day Banda Aceh, Minggu, 7 Oktober 2018. @aceHTrend/Ihan Nurdin

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Sejak dibuka pada 1 Oktober 2018 lalu, jumlah donasi masyarakat Aceh yang telah dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk Sulawesi Tengah hingga saat ini mencapai Rp800 juta.

Kepala Pelaksana BPBA Teuku Ahmad Dadek mengatakan, selain donasi dalam bentuk uang, donasi dalam bentuk makanan berupa dendeng juga sudah terkumpul sebanyak 100 kilogram. Dendeng tersebut saat ini berada di Kantor BPBA Banda Aceh.

“Target kita Rp1,3 miliar karena rencananya nanti kita juga membangun mesjid juga di sana. Untuk yang Lombok, peletakan batu pertama pembangunan mesjid dari donasi masyarakat Aceh dilakukan pada 23 Oktober,” kata Teuku Ahmad Dadek dalam sambutannya di acara Diskusi Literasi Bencana bertajuk Memahami Dampak Gempa; Tsunami dan Likuifaksi bersama Forum Aceh Menulis di Aula BPBA pagi tadi, Jumat (12/10/2018).

Pada kesempatan itu Ahmad Dadek juga mengatakan, tahun depan BPBA akan terlibat banyak penelitian dengan Tsunami Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah. Penelitian tersebut di antaranya melakukan studi mengenai likuifaksi di wilayah Aceh Singkil dan Meulaboh dan beberapa sesar lainnya yang ada di Aceh. Hal ini merupakan upaya preventif yang dilakukan BPBA untuk mengurangi dampak risiko terjadinya bencana di Aceh.

Ia juga mengingatkan, ada empat hal yang harus diketahui masyarakat Indonesia khususnya Aceh yang tinggal di wilayah ring of fire atau cincin api yang rawan bencana gempa.

“Pertama, kalau Anda berada di daerah pantai dan terjadi gempa kuat jangan tunggu sampai ada peringatan dini tsunami, segera lakukan evakuasi mandiri, menjauh dari pantai atau mencari dataran yang lebih tinggi,” ujarnya.

Kedua, dengan kondisi seluruh wilayah Aceh rawan gempa, masyarakat diminta jangan memperlakukannya sebagai daerah yang tidak rawan gempa dengan membangun bangungan tidak ramah gempa. Jangan berperilaku seolah-olah wilayah Aceh aman dari gempa.

Ketiga, masyarakat diminta jangan mengaktifkan telepon seluler (internet) setelah gempa besar terjadi, minimal 10 menit pertama. Bila ingin mengirim kabar cukup gunakan layanan pesan pendek saja (sms). Karena akan memengaruhi sistem BTS.

“Keempat, pengetahuan tentang kebencanaan ada relevansinya dengan keselamatan kita saat terjadi bencana. Contohnya pada 2004 masyarakat Simeulue sudah punya pengetahuan tentang tsunami sehingga meminimalisir korban saat tsunami.”

Kejadian di Palu katanya telah mengubah cara masyarakat dalam menyelematkan diri setelah gempa besar. Perlu diketahui juga katanya, bahwa gempa memiliki tiga kolateral atau kejadian sampingan yang bisa mengakibatkan kebakaran, tsunami, dan likuifaksi.[]