GEMA Mathla’ul Anwar meminta Fitnah Terhadap Kapolri dihentikan

ACEHTREND.COM,Jakarta- Menyikapi pernyataan Indonesialeaks yg menuduh secara sepihak Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menerima aliran dana (yang saat itu masih menjadi Kapolda Metro Jaya), terkait kasus hukum dugaan transaksi suap yang melibatkan Ketua Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar dan pengusaha impor daging Basuki Hariman, menurut Gerakan Mahasiswa (GEMA) Mathala’ul Anwar, merupakan fitnah.

Ketua Umum DPP GEMA MA, Ahmad Nawawi dalam siaran persnya yang dikirimkan kepada aceHTrend, Kamis (11/10/2018) menyebutkan, fitnah yang turut dikuatkan oleh Bambang Widjoyanto dan Amien Rais, adalah sesuatu yang tidak mendasar.

“Maka hemat kami Kita semua harus hati hati menyikapinya, Karena bisa jadi tuduhan itu adalah Kebohongan dan fitnah serta upaya pembunuhan karakter,” ujar Nawawi.

Ahamad Nawawi melanjutkan, sebagaimana disampaikan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, bisa jadi laporan tentang dugaan aliran dana pengusaha daging Basuki Hariman kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai berita bohong, dan sejenis operasi intelijen yang bertujuan untuk membunuh karakter seseorang.

Terlebih Ketua KPK Agus Rahardjo juga menegaskan bahwa Pengawas Internal KPK telah memeriksa rekaman kamera closed circuit television (CCTV) itu, dan tak menemukan adanya perobekan halaman-halaman di buku bank berwarna merah bertuliskan Serang Noor IR itu seperti yang diungkap Indonesialeaks.

Terkait hal tersebut di atas, maka GEMA MA meyatakan sikap, pertama, meminta kepada semua pihak untuk hati hati menyikapinya dengan mengedepankan azas praduga tak bersalah, karena sangat mungkin tuduhan sepihak tersebut adalah semacam operasi intelijen untuk menciptakan kebohongan, yang sengaja dilakukan untuk membunuh karakter seseorang dalam hal ini pribadi Jendral Polisi HM Tito Karnavian, membenturkan dua institusi penegak hukum dan menciptakan kegaduhan ditahun politik jelang Pilpres 2019.

“Tindakan Indonesialeaks dan media yang tergabung di dalamnya yang menuduh secara sepihak, memvonis dan menggiring opini publik bahwa Jendral Polisi HM Tito Karnavian benar-benar bersalah dan korup, adalah bentuk pembunuhan karakter, negative campaign dan tidak bermoral. Hal ini sungguh sangat berbahaya dan berpotensi menyulut kegaduhan, memunculkan kecurigaan dan saling tuduh. Sagai gabungan beberapa media dan LSM, mestinya Indonesialeaks menjunjung tinggi azas obyektivitas dan proporsionalitas,” katanya.

Kemudian, pernyataan sepihak Bambang Widjoyanto dengan 11 pernyataan yang cenderung lebih mengagitasi dan memprovokasi dari pada bentuk upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, adalah sebuah tindakan Yang Kasar dan brutal,berpotensi memecah belah dan mengadu domba antar lembaga penegak hukum.

Institusi Polri dan KPK punya pengalaman pahit ketika dibenturkan dalam episode yang dikenal istilah Cicak versus Buaya. Seharusnya sebagai aktivis yang pernah memimpin KPK, Bambang Widjoyanto tentu sangat mengerti cara kerja, prinsip dan SOP di KPK.

“Permintaan sepihak Amien Rais agar Presiden Jokowi memberhentikan Kapolri Tito Karnavian (saat dirinya diminta keterangan terkait pernyataan Bohong Ratna Sarumpaet) tanpa memberikan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, justru menambah panas suhu politik dan memperuncing friksi di tengah masyarakat.

“Publik seharusnya disuguhi diskusi dan perilaku politik yang berkelas, bukan diajak untuk saling curiga, menebar kebencian dan hoax. Kami meminta Amien Rais jangan menggunakan data sekunder seolah data primer untuk membenturkan Polri dan KPK,” sebutnya.

Editor: Muhajir Juli