Miftahul Jannah dan Cita-citanya untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Miftahul Jannah @merdeka.com/Imam Buhori

JARUM jam menunjukkan angka pukul 14.00 WIB, Rabu (11/10/2018). Aceh Barat Daya baru saja diguyur hujan. Butir-butir hujan masih tersisa di cakrawala yang masih digayuti mendung. Hawa dingin menyergap. Warga yang sebelumnya berteduh di emperan toko kembali bergerak menuju arah tujuan masing-masing. Begitu juga dengan aceHTrend yang berniat ingin menemui orang tua Miftahul Jannah.

Atlet judo yang gagal bertarung di Asian Para Games 2018 tersebut dalam beberapa hari ini menjadi perbincangan publik. Kekukuhan hatinya yang tidak ingin melepas kerudung –karena terbentur ketentuan dari Federasi Olahraga Buta Internasional (IBSA), yang menyatakan atlet tidak boleh menggunakan jilbab dan harus lepas saat bertanding– menuai simpati masyarakat. Akibatnya Miftahul Jannah didiskualifikasi dari pertandingan Blind Judo kelas 52 kg dengan klasifikasi low vission saat hendak bertanding dengan judoka Mongolia, Oyun Gantulga, di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada Senin (8/10/2018).

Awalnya aceHTren mendapat informasi kediaman orang tua Miftahul Jannah ada di Gampong Pulau Kayu, ternyata setelah ditelusuri mereka menempati salah satu rumah dinas milik SDLB di Gampong Padang Baru, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya. Setelah sempat kesasar, aceHTrend akhirnya berhasil menemui mereka yang hari itu sedang bersiap-siap hendak ke Jakarta untuk bertemu dengan putrinya.

“Assalammualaikum, benar ini rumah Miftahul Jannah?” tanya aceHTrend.

“Benar ini rumahnya, yang itu ibunya. Masuk, Dik,” jawab salah satu perempuan bernama Hj. Heni Helfira yang diketahui sebagai salah satu tetangga keluarga Miftah.

Secara kasat mata, tak ada penampakan sesuatu yang ‘wah’ dari dalam rumah tersebut. Tak ada perabotan apa pun di ruangan tersebut, tak ada sofa, yang ada hanya dua mesin jahit yang sehari-hari digunakan ibu Miftah, Darwiyah, untuk membantu menopang ekonomi keluarga.

Dalam keadaan santai, perempuan berumur 50 tahun itu mengisahkan mengenai sosok putrinya. Tidak hanya tangguh, di mata Darwiyah putrinya itu merupakan anak yang tangguh, pantang menyerah, dan gigih dalam belajar.

“Miftah itu gigih, tidak minder dengan keterbatasannya sebagai tunanetra, dan dia berani mengambil risiko. Insyaallah nanti malam (Rabu malam-red) kami ke berangkat ke Banda Aceh, seterusnya ke Jakarta untuk menemui Miftah,” ungkap Darwiyah.

Darwiyah sadar betul betapa anak keduanya dari lima bersaudara itu berjuang keras saat belajar. Dengan penglihatannya yang terbatas, Miftah harus mendekatkan bahan bacaannya dari jarak yang sangat dekat saat belajar. Namun, niat Miftah tidak pernah surut. Darwiyah dan suaminya terus memberikan motivasi bagi pejuang hijab itu.

Miftah kecil, kisah Darwiyah, mulanya menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Gampong Pawoh, Kecamatan Susoh, kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) Jantho, Aceh Besar. Setelah itu Miftah sempat belajar di salah satu SMA di Banda Aceh hingga semester 1, baru kemudian ia bertolak ke Jakarta dan menyelesaikan pendidikan akhir SMA di sana. Sekarang, Miftahul Jannah tercatat sebagai salah seorang mahasiswi Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Pasundan, Jawa Barat.

“Waktu Miftah minta izin ke Jakarta dan juga ingin kuliah di sana, saya sempat khawatir, sebab Miftah memiliki kekurangan. Namun Miftah bilang ke saya, kalau dia ingin membahagiakan kami orang tuanya. Dan Miftah juga bilang, Bu Miftah punya cita-cita kalau Miftah berhasil nanti, Miftah mau bangun satu tempat untuk menampung anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Miftah harus membuktikan kepada Kabupaten Abdya kalau anak-anak ABK itu juga bisa berhasil layaknya anak-anak normal lainnya,” ujar Wardiyah parau mengenang salah satu momen dengan putrinya itu.

Selain khawatir dengan kondisi Miftah, Wardiyah dan suaminya, Salimin (54), juga sedikit patah arang memikirkan kondisi ekonomi mereka. Sebab, selain Salimin yang hanya bekerja sebagai salah seorang guru di SDLB, kondisi Salimin juga telah dimakan usia, apalagi anak pertama mereka juga sedang menimba ilmu di salah satu Kampus di Bumoe Seramoe Mekah. Di sisi lain, keduanya tidak mungkin menghalang-halangi semangat Miftahul Jannah yang ingin hijrah ke Batavia (Jakarta).

“Ya seperti itulah nyata Dik, abangnya Miftah juga sedang kuliah di Banda Aceh, ketiga adiknya juga sedang sekolah di Abdya. Kalau sepenuhnya kami berharap dari gaji ayahnya Miftah tentu tidak memungkinkan. Jadi waktu itu kami sempat berpikir bagaimana harus bilang ke Miftah. Namun semangat Miftah yang tidak mungkin kami halang-halangi. Awalnya Miftah bukan pejudo, tapi dia pemain catur, dan banyak juga meraih juara, sekitar beberapa tahun lalu, Miftah juga ke Turki dalam rangka tur atlet,” kisahnya.

Meskipun Miftah tergolong anak yang berprestasi di bidang olahraga, tetapi Miftah tidak pernah mendapatkan beasiswa dari pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah Provinsi Aceh. Hal itu sejurus dengan apa yang disampaikan Darwiyah yang juga pernah mengurus agar putrinya bisa mendapatkan beasiswa pendidikan.

Selain itu, Wardiyah sempat juga membicarakan bagaimana perjalanan anaknya itu di dunia atlet. Menurutnya, prestasi yang diperoleh Miftah terkadang tidak sebanding dengan kepedulian pemerintah. Buktinya, Miftahul hari ini sudah tercatat sebagai warga Bandung, Jawa Barat.

“Lebih kurang kami tinggal di rumah dinas ini sudah 28 tahun semenjak ayah Miftah diangkat jadi pegawai di tahun 1990. Dan berkat kerja keras Miftah, sekarang dia bisa membiayai kuliahnya sendiri, paling cuma sekali-kali kami kirim belanja untuknya, dan terkadang dia juga ikut membantu adik-adiknya,” kata Wardiyah.

Ibu Miftah, Darwiyah bersama kedua adik-adik Miftah. @aceHTrend/Masrian Mizani

Wardiyah pun sempat berkisah mengenai kehidupannya bersama sang suami yang dahulu penuh air mata. Berawal saat keduanya tinggal di Panti Asuhan Muhammadiyah Punge Blang Cut, Banda Aceh. Dari situlah jalinan kasih keduanya mulai bersemi hingga bermuara pada jenjang pelaminan.

“Ayah Miftah sejak kecil yatim piatu, beliau aslinya berasal dari Gampong Bakau, Kecamatan Labuhan Haji Tengah, Kabupaten Aceh Selatan. Kemudian beliau diserahkan ke panti asuhan, saya juga tinggal di Panti Asuhan Muhammadiyah Punge Blang Cut. Dari situ kami kenal, dan akhirnya menikah,” kenang Wardiyah dengan wajah agak kemerahan.

Dari pernikahan itu mereka memiliki lima anak, salah satunya Miftahul Jannah yang kini berusia 21 tahun dan telah menjadi seorang atlet judo. Berkat komitmennya mempertahan hijab dalam kompetisi Asian Para Games, kini gadis itu sudah menjadi salah seorang wanita yang dikenal sebagai pejuang hijab dunia. Miftah pun mendapat hadiah pergi umrah bersama kedua orang tuanya dari Ustaz Adi Hidayat, LC. Setidaknya ini menjadi awal bagi Miftah yang bercita-cita menghajikan keduanya.

Miftahul Jannah di Mata Tetangga

Adalah Hj. Heni Helfira, salah seorang guru di salah satu SD di Kabupaten Abdya yang juga tetangga Miftah. Bagi Heni, Miftah yang dikenalnya sejak kecil itu membuat dirinya terharu atas keputusan yang diambil sang tunanetra itu di saat harus memilih antara mempertahankan hijabnya dan harus berlaga.

“Jujur saya sampaikan, Miftah itu dari kecil saya kenal, dan dia anak yang sopan tidak begana begini, dan dia rajin ke musala, intinya Miftah adalah anak yang saleha. Maka di saat saya mendengar keputusan yang diambil Miftah di saat hendak bertanding, membuat saya terharu dan menangis,” sebut Heni.

Heni menjelaskan, sikap taat kepada Allah yang ditunjukkan Miftah tidak jauh dari pendidikan agama yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Ibu Miftah sendiri merupakan guru mengaji bagi anak-anak yang berada di kompleks perumahan dinas SDLB.

“Saya tidak tau harus bagaimana menggambarkan sosok anak itu, karena dia anak yang rajin, taat, meskipun kehidupan mereka tergolong tidak layak, sampai sekarang rumah pribadi saja belum ada,” kata Heni.

Hari-hari yang dilalui Miftah kecil, lanjut Heni, dipenuhi dengan kegiatan belajar, meskipun dia tidak terlahir dengan sempurna, tetapi tidak menyurutkan semangat anak itu dalam bergaul. Bahkan, Miftah selalu tampil percaya diri di saat berada di lingkungannya.

“Kami bangga kepada Miftah dan kami berharap kepada Miftah agar terus menjadi anak yang baik, dapat membahagiakan orang tua serta bisa mewujudkan cita-citanya untuk membangun tempat penampungan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK),” pesan Heni.

Tanpa terasa lebih dari dua jam aceHTrend di rumah orang tua Miftah. Cahaya merah di cakrawala tampak jelas di sudut Pantai Cemara Indah Susoh. Menandakan hari sudah petang. AceHTrend pun pamit dengan membawa cerita tentang keteguhan hati seorang anak manusia, yang secara fisik tidak bisa melihat tapi berhasil membuka mata banyak orang, bahwa dalam situasi apa pun agama seharusnya tetap harus dibela dan diutamakan.[]

Editor : Ihan Nurdin