Tiga Langkah Mengetahui Potensi Likuifaksi di Suatu Wilayah

Kondisi bangunan dan jalanan yang rusak akibat gempa 7,4 SR dan fenomena likuifaksi pada skala richter (SR), di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa, 2 Oktober 2018. Petobo merupakan kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa. ANTARA/Muhammad Adimaja

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Gempa bumi yang terjadi di Sulawesi Tengah telah menyadarkan masyarakat, bahwa selain tsunami, gempa bumi juga bisa mendatangkan bencana lain yaitu likuifaksi. Walaupun berdasarkan catatan sejarah likuifaksi telah ada sejak tahun 700-an Masehi tetapi istilah ini sebelumnya masih asing di telinga masyarakat Indonesia, khususnya Aceh.

Gempa memiliki tiga kolateral atau ‘anak’ yang guncangannya bisa mengakibatkan terjadinya kebakaran, tsunami, dan likuifaksi. Meski tidak bisa dicegah sama halnya seperti gempa, tetapi untuk mengetahui apakah suatu wilayah memiliki potensi likuifaksi atau tidak bisa dilakukan dengan tiga langkah.

Ketua Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsyiah, Bambang Setiawan, M.Eng.Sc., Ph.D, menjelaskan likuifaksi merupakan kolateral atau dampak samping dari kejadian besar. Yaitu proses perubahan material yang sebelumnya padat berubah menjadi likuid atau cair.

“Material yang cenderung terlikuifaksi berdasarkan pendapat umum yaitu material pasir. Penelitian di Jepang, selain pasir juga ada material halus dan tanah lempung juga bisa terjadi likuifaksi,” kata Bambang Setiawan dalam Diskusi Literasi Bencana; Tsunami dan Likuifaksi yang dibuat Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Aceh pada Jumat (12/10/2018).

Bambang memaparkan, ada tiga langkah yang bisa dilakukan sebagai screening awal untuk mengetahui potensi likuifaksi di suatu wilayah. Pertama dengan melakukan penelitian mengenai kondisi geologi (Geological Evaluation) di wilayah tersebut.

“Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis dan umur tanah. Umumnya, 80% likuifaksi terjadi pada tanah berusia muda (aluvial) sekitar 10 ribu tahun lalu hingga sekarang.”

Untuk mencegah terjadinya likuifaksi di wilayah dengan umur tanah yang masih ‘muda’, tidak mungkin menunggu waktu hingga ribuan tahun agar sedimentasi tanah menjadi padat. Kecenderungan tanah yang mengalami likuifaksi kata dia terjadi pada level 15 meter ke atas.

Yang perlu dilakukan kata Bambang, yaitu dengan menghindari wilayah-wilayah tersebut untuk ditempati. Atau dengan memperhatikan fondasi bangunan yang dibuat di atasnya, harus melebihi kedalaman level tanah yang rentan likuifaksi.

Hal ini dipraktikkan di Jepang yang membuat fondasi bangunan di daerah rawan likuifaksi dengan model paku bumi hingga kedalaman 35 meter. Namun pembangunan model ini berbiaya mahal sehingga perlu dicari solusinya terhadap bangunan-bangunan tahan gempa dengan harga yang terjangkau masyarakat.

Langkah kedua yaitu melakukan penelitian terkait kondisi kegempaan (Seismicity Evaluation). Likuifaksi umumnya terjadi karena dipicu oleh gempa berkekuatan minimum 5 Skala Richter. Namun yang sering terjadi akibat gempa berkekuatan 7,5 SR.

“Yang di Palu itu 7,4 SR mendekati skala 7,5 SR. Di Pidie Jaya gempa 6,4 SR juga menyebabkan terjadinya likuifaksi di kawasan Pantai Manohara, bagaimana bila skalanya sampai 7,5 SR?” ujar Bambang.

Terakhir, dengan memeriksa tinggi permukaan air di suatu wilayah (Water Table Evaluation). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya permukaan air di lingkungan tertentu. Berdasarkan catatan sejarah, tinggi permukaan air yang sangat rentan terjadinya likuifaksi di bawah 3 meter, bila antara 3-6 statusnya menjadi rentan.

“Dampak lain likuifaksi menyebabkan air sumur menjadi keruh. Fenomena alam ini tak hanya menguraikan material di perut bumi saja, tetapi juga bisa memadatkan material tertentu. Berdasarkan sejarah, daerah yang pernah terjadi likuifaksi kemungkinan akan terulang kembali. Mekanismenya masih menjadi tanda tanya dan perdebatan di kalangan peneliti. Hal ini menunjukkan besarnya kekuasaan Allah Swt.”

Dampak dari terjadinya likuifaksi bisa menyebabkan di antaranya penurunan permukaan tanah, pergerakan ke samping, pembuburan pasir, dan pengangkatan struktur yang ada di bawah tanah.[]