Melihat Budi Daya ‘Bunga Abadi’ di Desa Edelweiss di Kaki Bromo

Bunga edeilweiss hasil budi daya di Desa Wonokitri, Tosari, Pasuruan Jawa Timur. @aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM. Pasuruan – Masih lekat di ingatan kita tentang kejadian pemetikan bunga edelweiss (Anaphalis javanica) oleh dua remaja putri yang sempat viral di media sosial. Dengan statusnya yang terancam punah dan dilindungi UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, tak heran bila sikap dua remaja putri tersebut menuai hujatan dari warganet.

Sanksi bagi para pemetik edelweiss sangat tegas yaitu pidana penjara paling berat lima tahun dan denda paling besar Rp100 juta bagi siapa saja yang memetik atau mencabut bunga edelweiss. Hal ini tentunya menjadi permasalahan besar bagi masyarakat di sekitar Bromo Tengger Semeru yang biasanya menggunakan edelweis sebagai pelengkap upacara adat yang sudah menjadi budaya turun temurun.

Untungnya saat ini sudah ada budi daya edelweiss berkat hasil penelitian Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) bersama Universitas Brawijaya dan hasil budi daya bersama Universitas Gadjah Mada. Sehingga terbentuklah Desa Edelweiss di kawasan penyangga TNBTS.

Salah satunya budi daya edelweiss oleh masyarakat Desa Wonokitri, Tosari, Pasuruan Jawa Timur. Desa yang disebut sebagai Desa Edelweiss ini merupakan wilayah penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang berada di ketinggian 1.900 mdpl di Kabupaten Pasuruan.

Bagi masyarakat setempat bunga edelweiss digunakan sebagai kebutuhan adat yang biasanya diambil dari TNBTS. Upacara adat seperti leliwet, entas-entas, dan karo selalu menggunakan bunga edelweiss sebagai sesajian sehingga dikhawatirkan populasi bunga ini terus berkurang dan semakin langka. Oleh karena itu, Balai Besar TNBTS membudidayakan Edelweiss di luar kawasan TNBTS dengan melibatkan masyarakat Wonokitri untuk memenuhi kebutuhan adat mereka.

“Jadi masyarakat tidak mengambil bunga edelweiss yang ada di TNBTS lagi, tapi menanam sendiri bunga edelweiss di rumah mereka sehingga saat dibutuhkan mereka punya tanaman sendiri. Bunga edelweiss yang ada di TNBTS pun juga bisa lestari kerena warga tidak mengambilnya lagi di sana,” ujar Mike, salah seorang kelompok tani Hulun Hyang di Wonokitri, kepada aceHTrend, Selasa (9/10/2018).

Dengan adanya Desa Eldeweiss TNBTS yang berdiri sejak tahun 2017, program konservasi tumbuhan edelweiss pun dapat berjalan dengan baik. Keberhasilan TNBTS membudidayakan edelweiss di luar kawasan TNBTS membuat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengunjungi Desa Edelweiss.

Konsep Desa Wisata Edelweiss pun rencananya akan diluncurkan pada 10 November mendatang dan akan dibuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin belajar budi daya edelweiss.

“Kita akan launching pada tanggal yang disesuaikan dengan hari baik masyarakat Tengger berdasarkan kearifan lokal setempat. Jadi, bagi wisatawan yang ingin menanam edelweiss, memetik, dan berfoto dengan bunga edelweiss dikenakan biaya yang nantinya akan mendapatkan income bagi masyarakat Tengger,” ujar John Kenedie M, Kepala Balai Besar TNBTS kepada aceHTrend (9/10/2018).

Budi daya edelweiss @aceHTrend/Yelli Sustarina

Saat aceHTrend mengunjungi taman Desa Edelweis pada Rabu (10/10/2018), kelompok tani Hulun Hyang yang berada di Desa Wonokitri menyambutnya dengan sangat baik. Para pemandu menjelaskan tiga jenis edelweiss yang ditanam yaitu Anaphalis javanica, longifolia, dan viscida. Mereka mengenalkan ketiga jenis tanaman tersebut sembari mengajarkan cara penyemaian bibit dan menanam edelweiss.

Setelah Desa Edelweiss diluncurkan pada 10 November 2018 mendatang, pengunjung juga berkesemptan melestarikan edelweiss dengan cara menanamnya.

“Atraksi menanam edelweiss ini cocok bagi pengunjung yang ingin mengabadikan cintanya kepada pasangan. Melalui kegiatan mananam ini pula kita belajar bahwa cara mengabadikan cinta bukan memetik edelweiss, tapi menanamnya agar tumbuh lestari abadi sesuai sebutannya sebagai bunga abadi,” ujar Birama Terang Radityo, penyuluh kehutanan yang mendampingi kelompok tani Hulun Hyang.

Selain itu, desa ini juga membuat program adopsi edelweiss di mana setiap tanaman edelweiss yang ditanam oleh pengunjung akan mereka rawat hingga menghasilkan bunga.

“Adopsi edelweiss akan dikenai biaya sekitar Rp500.000 per batangnya untuk biaya perawatan. Jadi, kami menginformasikan terus perkembangan bunga tersebut kepada pemiliknya dan ketika tanaman tersebut berbunga, kami akan mengirimkan bunga tersebut ke pengadopsi edelweiss beserta dengan sertifikat dan mempunyai serial number yang berbeda di setiap pemilik bunga edelweiss,” ujar Suherman, Ketua Kelompok Tani Hulun Hyang.

Kini masyarakat yang ada di Desa Wonokitri tidak terbentur lagi dengan perkara memetik bunga edelweiss karena setiap bunga yang dipetik akan diganti dengan tanaman edelweiss baru. Begitu juga dengan para pengunjung yang ingin memetik bunga edelweiss diharuskan terlebih dahulu untuk menanam edelweiss sebagai ganti dari tanaman yang diambil bunganya.

Untuk keperluan adat pun mereka tidak perlu lagi harus ke TNBTS karena setiap rumah warga ditanami oleh bunga ini. Kini justru para warga mempunyai bisnis baru dengan budi daya edelweiss untuk para wisatawan yang ingin belajar menanam edelweiss, memetik, dan berfoto dengan bunganya.

Bagaimana? Apakah Anda tertarik memiliki bunga edelweiss untuk mengabadikan cinta dengan sang kekasih pujaan hati? Silakan datang ke Desa Edelweiss untuk mengabadikan cinta melalui bunga edelweiss.[]

Editor : Ihan Nurdin