Mukhlis Takabeya dan Kisah Usai Menang Pilkada

Kumandang azan telah berlabuh ke ufuk barat, lantunan zikir pun sayup-sayup menghilang di tengah suara deru mesin kendaraan bermotor dari ragam jenis yang berlalu, menderu di atas jalan aspal lajur Banda Aceh-Medan. Kota Bireuen kembali bergeliat usai jeda sejenak di pergantian antara siang dan malam.

Lelaki bertubuh tegap itu membetulkan topi pet putih yang tak kunjung lepas dari kepalanya. Ia merapikan lipatan baju kemeja putih seusai shalat magrib di sebuah ruang kecil pada sebuah warung kopi di bilangan Simpang Empat Bireuen, Rabu (10/10/2018).

Orang sering menyebutnya Toke Mukhlis atau Mukhlis Takabeya, lelaki kelahiran Alue Krueb, Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, adalah Direktur PT. Takabeya Perkasa Group, sebuah holding company yang menaungi beberapa unit usaha lainnya, termasuk PT Takabeya Sawita yang bergerak di perkebunan sawit.

H. Mukhlis, A.Md., adalah alumnus Politeknik Lhokseumawe merupakan sosok pengusaha muda yang tidak bisa dipisahkan dengan nama mentereng Toke Saifan alias Haji Saifan, yang telah didaulat oleh rakyat melalui Pilkada Bireuen 2017 sebagai Bupati Bireuen, berpasangan dengan H. Muzakar A. Gani.

Mukhlis, selain sebagai ketua tim pemenangan Saifannur-Muzakar (Fakar) juga adik kandung serta mitra bisnis sang kontraktor senior. Walau tidak sepenuhnya, tetapi banyak ilmu bisnis yang ia dapatkan dari sang abang, yang sering membanggakan sang adik kepada kolega dekatnya.

Paska Pilkada Bireuen 2017, Mukhlis tidak lagi hanya sebagai kontraktor, tapi telah merambah dunia sosial dan kesenian cum olahraga. Ia didaulat sebagai ketua Dewan Kesenian Aceh dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bireuen.

Apakah itu ada kaitan dengan desas-desus bahwa ia akan menjadi suksesor setelah Saifannur menghabiskan masa jabatan?

“Saya pengusaha, sejak dulu saya menghabiskan waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Saya nyaris tidak punya waktu untuk mengurus soal lain. Sampai sekarang saya masih belum begitu peduli dengan politik, karena saya pebisnis, saya pun belum tertarik menjadi bupati,” kata Mukhlis kala bincang-bincang ringan dengan aceHTrend.

Lalu, mengapa ia bersedia diangke sebagai ketua organisasi itu? Mukhlis bercerita bahwa sebagai ketua tim sukses, juga adik dari sang bupati, dia memiliki kewajiban untuk menyukseskan jalannya pemerintahan periode 2017-2022. Dia tidak mungkin lepas tangan begitu saja, karena menjaga kualitas kepemimpinan jauh lebih penting ketimbang meraih kemenangan pada Pilkada 2017.

Kalau soal untung rugi, bila diukur dengan finansial, tentu Mukhlis tidak memiliki provit nyata dari mengelola dua organisasi itu. Tapi lagi-lagi bahwa ia memiliki tugas untuk ikut membantu suksesnya roda pemerintahan Bireuen.

“Saya harus membantu Bang Saifan, di mana ada peluang membantu, pasti saya tidak akan berdiam diri,” katanya.

Menurut Mukhlis, bila dihitung secara kalkulasi bisnis, justru banyak hal yang harus ia tahan kala Saifannur sudah menjadi bupati. Nilai proyek yang ia dapatkan jauh menurun ketimbang ketika orang lain yang menjadi bupati.

“Sebagai kontraktor tentu justru terjadi penurunan jumlah proyek yang Takabeya kerjakan, karena itu tadi, menjaga kenyamanan Saifannur, walaupun sejak dulu Takabeya sudah mendapatkan banyak pekerjaan dengan melalukan lobi dan kepercayaan, bahkan kami pernah bekerja di luar Aceh. Kenapa bisa sampai ekspansi ke luar Aceh? Karena kami memiliki rekam jejak yang bagus,” ujarnya.

Soal dedikasi untuk membantu sudah dia buktikan, contoh paling dekat adalah ketika ia menalangi pinjaman untuk kebutuhan atlet dan pelatih peserta Pekan Olahraga Aceh (PORA) XIII di Aceh Besar dalam waktu dekat. Lebih dari 500 juta Rupiah harus ia hutangkan kepada KONI yang ia pimpin, sembari menunggu cairnya dana dari pemerintah.

Sebagai Ketua DKA, pada November 2018 ia pun akan menggelar semacam pekan kebudayaan antar kecamatan di Bireuen. “Iya, festival kebudayaan, kami ingin menggali khazanah lokal per kecamatan di Bireuen. Selain sebagai panggung hiburan yang memiliki kandungan tradisi, juga sebagai ajang untuk memetakan seni tradisi tiap kecamatan,” katanya.

Mukhlis juga sukses mengangkat citra Bireuen kala menggelar Malam Gala Amal di Meuligoe Bupati Bireuen, yang berhasil menggotong dana publik sebanyak 250 juta lebih. Kegiatan itu merupakan kerjasama PT takabeya, KONI dan DKA Bireuen. Mulai dari SD hingga partai politik (khususnya Golkar) ikut menyumbang.

***
Hujan lebat mengguyur Bireuen sejak sore. Saya kembali memperhatikan angka jam di smarthone yang sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB, artinya sudah bergeser satu setengah jam dari janji awal. derasnya hujan kian menjadi-jadi membuat Sabtu malam (6/10/2018).

“Maaf, hujan deras serta baru saja selesai rapat dengan panitia Malam Gala Amal untuk Palu dan Donggala, Sulteng,” kata Mukhlis yang muncul dari halaman sebuah warung kopi di Matangglumpangdua, Bireuen. Jaket militer warna abu-abu serta penutup kepala warna senada menjadi pakaiannya malam itu. Sepatu boots warna yang seirama terlihat agak basah.

Usai menyantap mie Aceh, kami pun menembus gelapnya malam menuju pegunungan di kawasan Buket Sudan, Peusangan Siblah Krueng. Ikut bersama kami malam itu Mukhtaruddin, mantan Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Bireuen yang di daerah lain disebut KPU. Menyertai kami juga, seorang bintara polisi yang berbadan tegap dan agak kesulitan ketika menyebut huruf R yang bernama Mursyidin.

Malam itu Mukhlis hendak berburu babi hutan di perkebunan sawit yang ia kelola. Saya yang tidak begitu suka berurusan dengan babi, memilih tetap di dalam kabin mobil kala sang pengusaha menembaki satu persatu babi hutan yang ajalnya tiba malam itu.

Hingga jelang subuh, ia berhasil menamatkan riwayat petualangan sebanyak sembilan ekor babi, betina dan jantan. “Banyak babi di sini, apalagi jumlah kelahiran babi sangat tergantung dengan jumlah bulan. Bila bulan 12 berarti jumlah anak bayi yang dilahirkan 12 ekor,” kata Mukhlis sembari menyantap mie instan yang direbus dengan bumbu seadanya di basecamp Takabeya Sawita, kala fajar sudah menyingsing di ufuk timur.

Mukhlis (berjaket loreng abu-abu)

Tidak ada catatan khusus tentang jumlah babi yang tewas di ujung senapan laras panjang berizin yang dimiliki oleh Mukhlis. Tapi ia menghitung kasar bila setidaknya sudah 200 ekor hama pertanian itu diakhirkan hidupnya.

Usai sarapan pagi, ia kembali bergegas, disopiri oleh Mursyiddin, kami menerabas sungai kecil serta jalan yang mendaki, menukik, mengikuti kontur alam yang tidak seirama. Hamparan sawit muda yang berjejer, berderet di atas punggung gunung yang dulunya adalah rimba belantara yang lebat.

Dari atas tempat duduk yang dipasang di bak terbuka double cabin, Mukhlis menatap hamparan luas itu sembari sesekali berbicara dengan Mukhtaruddin.

Beberapa kali mobil itu berhenti kala berpapasan dengan pekerja lepas Takabeya Sawita. Mukhlis bertanya tentang kabar mereka dan apa yang sedang dikerjakan.

Tepat ketika waktu dhuhur telah tiba, kami pun singgah di sebuah dangau kecil di tengah kebun. Empat orang wanita paruh baya baru saja hendak makan siang, dan segera membatalkannya kala melihat toke mereka tiba.

Mukhlis kala bercengkerama dengan Tenaga Harian Lepas (THL) di perkebunan sawit yang ia kelola.

“Baru sekitar 15 menit lalu kami istirahat, baru siap merujak,” kata salah seorang di antara mereka. Mukhlis meminta sedikit rujak itu. Seorang perempuan menyerahkan potongan jambu botol dan sedikit garam.

Mukhlis sempat bertanya sembari bercanda ringan, tawa pun pecah di siang yang basah itu. Seorang perempuan menyerahkan undangan pernikahan putrinya. “Jangan lupa juga papan bunganya,” kata sang perempuan. Mukhlis hanya tersenyum sembari mengangguk.

***
“Semenjak Bang Saifan jadi bupati banyak yang mengatakan saya mendapatkan benefit yang sangat besar. Tapi asumsi itu salah, saya justru harus banyak menahan diri saat ini, karena harus menjaga banyak hal. Nilai kontrak yang saya dapatkan justru lebih kecil tahun ini ketimbang tahun-tahun sebelumnya,” kata Mukhlis ketika kami tiba di basecamp jelang ashar.

Sembari melepaskan penat, lelaki yang tidak merokok itu bercerita bahwa saat ini apa yang dia lakukan selalu dikait-kaitkan dengan Saifannur. “Sikit-sikit selalu ditulis oleh media kurang profesional: Adik kandung bupati, semua dikait-kaitkan,” katanya.

Dia tidak anti kritik, tapi bila sebuah tulisan sudah tidak lagi bertujuan baik, lebih kepada ingin merusak citranya secara sengaja, ia pun sedikit tidak nyaman.

Tapi ia tak mau menghabiskan energi untuk itu. “Biasalah, karena banyak manusia yang selalu menghabiskan waktunya untuk mengerjakan hal-hal yang sesungguhnya justru merugikan dirinya sendiri,” katanya.

Kepada aceHTrend Mukhlis mengatakan, sebagai pengusaha, ia tetap harus berpikir untuk melanjutkan kisah sukses unit usaha yang ia bangun. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk melanjutkan hidup ratusan karyawannya, yang berarti ada ribuan jiwa yang secara tidak langsung bergantung pada denyut nadi Takabeya.

“Tugas saya selain ikut menyukseskan masa kepemimpinan Bang Saifan, juga harus tetap menghidupkan Takabeya. Tentu lebih berat karena banyak hal yang harus lebih saya perhatikan, juga aktivitas sosial yang mendukung citra positif pemerintah.”