Muslim Rohingya: Lebih Baik Mati Daripada Dikembalikan ke Myammar

Pengungsi Rohingya di India. Jumlah mereka yang mencari perlindungan ke negara itu diperkirakan mencapai 40 ribu jiwa. (AP)

ACEHTREND.COM, New Delhi- Polisi India melakukan pendataan terhadap pengungsi etnis Rohingnya yang ‘bermukim” di negara Hindustan. Aparat penegak hukum negara bekas jajahan Inggris itu mendatangi kamp-kamp pengungsian dan meminta para pengungsi mengisi biodata pada formulir yang disebar oleh pemerintah.

Dikutip dari situs Aljazeera, Selasa (16/10/2018) menyebutkan selama dua minggu terakhir, polisi selalu mendatangi kamp dan memaksa pengungsi untuk mengisi formulir yang mereka bagikan. “Hampir setiap hari mereka datang ke sini dan meminta kami mengisi formulir itu,” kata Jafar Alam, pengungsi Rohingnya berusia 27 tahun yang telah “bermukim” di India sejak 2012.

Menurut Alam, pendataan itu dilakuan oleh Pemerintah India, yang nantinya data mereka akan diserahkan kepada Kedutaan Besar Myammar di sana. Selanjutnya pengungsi yang sudah terdata akan dijempuit dan dibawa paksa untuk “pulang” ke negara yang telah mengusir mereka dari tanah airnya.

Alam mengatakan dia lebih memilih mati di India ketimbang dideportasi ke Myammar, karena setiba di sana dia dan siapa saja dari etnis Rohingya akan dibunuh oleh junta militer.

Dari data yang berhasil dihimpun dari sumber independen, baru-baru ini, pada 4 Oktober, Pemerintah India telah menangkap tujuh pengungsi Rohingnya -Mohammad Jalal, Mokbul Khan, Jalal Uddin, Mohammad Youns, Sabbir Ahamed, Rahim Uddin dan Mohammad Salam – ditangkap pada tahun 2012 karena memasuki India tanpa dokumen, dideportasi ke Myanmar.

Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh, baru-baru ini mengatakan mereka harus mengidentifikasi pengungsi Rohingya yang masuk ke India dan kemudian akan mengembalikan mereka ke Myammar.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk komitmen, setelah Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak India untuk mendukung Bangladesh dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada komunitas Rohingya dan mempengaruhi Myanmar untuk melakukan rekonsiliasi.

Sejak itu, ketegangan dan ketakutan mencengkeram kamp pengungsi di Kalindi Kunj, tempat 50 keluarga Rohingya telah tinggal selama beberapa tahun. Mereka takut deportasi ke Myanmar, di mana mereka mengatakan pemerintah akan melemparkan mereka ke penjara atau kamp konsentrasi.

Sikap Pemerintah India yang mendeportasi pengungsi Rohingya, mendapat kecaman dari Annesty India. Aakar patel dari lembaga HAM itu mengatakan tindakan pemerintah merupakan hari-hari gelap penegakan hak asasi manusia bagi etnis Rohingnya yang mencari perlindungan ke negara Hindustan itu.

Diperkirakan 40.000 orang Rohingya, sebagian besar minoritas Muslim, tinggal di India setelah melarikan diri dari penganiayaan di Myanmar yang mayoritas beragama Budha selama bertahun-tahun.

Pemerintah India yang dipimpin oleh partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP) menolak memberikan status pengungsi kepada etnis Rohingya.

Seorang menteri kabinet Perdana Menteri Narendra Modi pada Agustus mengatakan kepada parlemen India bahwa Rohingya adalah imigran gelap.

“Kami tahu ini, Rohingya terkait dengan kegiatan yang salah dan ilegal,” kata Kiren Rijiju, menteri negara untuk urusan rumah.

Sumber: Aljazeera

Editor: Muhajir Juli