Mie Sure Laweung, Kuliner Khas Pesisir Pidie

Oleh Mirza Ferdian*)

Mau makan enak tak semestinya di restoran mahal dan mewah, di pelosok kampung pun tersedia makanan enak yang membuat lidah serasa dimanjakan. Pengalaman ini kami rasakan, Senin (22/10/2018) saat mencicipi mie sure (tongkol) di Gampong Ujong Pie Kecamatan Muara Tiga, Laweung, satu daerah di Kabupaten Pidie.

Sang koki yang sekaligus pemilik warung mie adalah Karimuddin, umurnya berkisar 36 tahun, sambil menunggu Karimuddin membuat mie, kami menyempatkan diri untuk sedikit ngobrol tentang usaha yang sudah digelutinya selama 18 tahun lamanya. “Saya ini jualan sejak kelas 2 SMA, ketika itu umur saya masih 17 tahun,” kata Karimuddin.

Karimuddin Kecil tak melanjutkan sampai selesai Sekolahnya, dia memilih untuk berjualan mie saja. Dia tidak sanggup mempelajari pelajaran. Bidang studi yang diajarkan terlalu berat baginya. Ia pum memilih jalan untuk berdagang saja. Karimuddin mulai berjualan sejak tahun 2000, saat itu harga mie yang dia jual masih Rp 1000 dan ditambah ikan tongkol kecil Rp 300, jadi untuk satu porsi mie saat itu senilai Rp1.300.

Sekarang para pelanggan jika ingin makan mie instan memakai ikan tongkol, harus membeli tongkol terlebih dahulu dari nelayan yang tidak jauh berada dari warung, memang Karimuddin membuka usahanya pas di bibir pantai, jadi ikan yang tersedia pun adalah ikan segar hasil pancingan nelayan setempat.

Menariknya dalam menjalani usaha, istri dari Karimuddin yang bernama Habibah (29) setia menemaninya jualan, bagiannya adalah membersihkan ikan tongkol yang dibawa oleh pelanggan. Habibah bercerita sehari-hari usaha mereka menghabiskan 6 kardus mir instan, jika pada hari tertentu seperti lebaran, bisa sampai 10 kardus selama satu hari.

“Kadang Abang tidak sempat makan siang, banyak pelanggan yang setia menunggu hingga berjam-jam lamanya. Namun jika hari biasa, pelanggan tak harus menunggu lama,” ujar Habibah.

Setelah 30 menit menunggu antrian, mie kami pun selesai dimasak oleh Karimuddin, kuahnya yang terlihat kental kekuningan, potongan ikan tongkol kecil-kecil ditambah rajangan cabai rawit di atasnya membuat selera seketika memuncak, kami yang berjumlah 12 orang dengan lahap menyantap mie buatan Karimuddin.

Daging ikan tongkol yang lembut berpadu dengan gigitan rawit, kuah mie pun terasa sangat makyus di lidah, seolah tak ada citarasa yang membuat kecewa, perjalanan jauh kami terbayarkan sudah, lelah yang kami rasakan hilang dengan sendirinya.

Jika Anda semua yang punya waktu luang di hari libur dan akhir pekan, saya merekomendasikan untuk bisa mencoba mie Laweung ini, Tunggu apalagi.

*)Penulis adalah staf Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh. Raja kuliner yang ahli memasak kuah beulangong khas Aceh Rayeuk.