Hilang IPDN Muncul STP

Oleh Abdul Muqni*)

Membaca berita salah satu surat kabar di Aeh edisi 25 Oktober 2018 dengan judul besar “Bireun tak memenuhi kriteria lokasi IPDN”, sebagai putra gampong yang masuk wilayah Bireuen, ada guratan kekecewaan, bukan kecewa karena ingin menjadi mahasiswa IPDN, bukan pula karena ingin menjadi rektor.

Menurut penulis untuk mengubah suatu keadaan harus dimulai dari pendidikan. Pendidikan adalah investasi, investasi pendidikan butuh waktu yang lama tidak sama dengan investasi mangga arum manis okulasi, karena investasi mangga arum manis okulasi cuma butuh waktu tiga bulan untuk mulai berbuah.

Pembangunan sektor pendidikan menghasilkan sistem nilai yang mampu mendorong terjadinya perubahan perubahan positif dalam berbangsa dan bernegara. Kalau itu tujuan pendidikan yang ingin dicapai maka negara harus hadir menjadikan prioritas utama untuk memajukan sebuah bangsa, konflik yang berkepanjangan tidak akan membuat daerah itu maju. Pendidikan harus dijadikan landasan dan paradigma utama dalam mempercepat pembangunan bangsa. Dalam pengembangan kebijakan bidang pendidikan pemerintah tidak boleh statis dan pasif.

Penulis menilai pemerintah daerah Bireun telah abai terhadap pembangunan bidang pendidikan karena gagal menghadirkan IPDN di Bireun. Padahal Gubernur Aceh sebelum menjadi tersangka KPK sudah merekomendasi agar IPDN dibangun di Kabupaten Bireun. Kandidat terkuat Sabang, Bireun dan Aceh Besar ketiganya melakukan lobi- lobi meyakinkan Menteri Dalam Negeri, dalam hal ini Pemda Bireun gagal membangun komunikasi.

Alasan dipilih Jantho sebagai bakal lokasi IPDN karena beberapa sebab antaranya masih asri, dekat bandara serta dekat dengan Kampus Unsyiah dan UIN. Melihat alasan itu sebenarnya kontestasi masih dimenangkan Bireun dengan beberapa point penting yang harus dilakukan pemda Bireun pertama pemilihan lokasi, lokasi dekat bandara,di Bireuen kecamatan yang dekat dengan bandara adalah Gandapura. Untuk pemilihan lokasi antaranya bisa Glekuprai atau Cot Jabet karena di dua gampong itu lahan masih “perawan” dan dari bandara Krueng Mane tinggal nyebrang jembatan butuh waktu 10 menit disertai didukung oleh kampus UNIMAL dan IAIN Lhokseumawe.

Pemda Bireun tidak merasa gagal dalam menghadirkan IPDN, mengutip berita di media online wakil Bupati Muzakkar A.Gani mengatakan tahun pertama H.Saifannur-Muzakkar A.
Gani mereka fokus pada penambahan aset tanah. Walau IPDN gagal dibangun di Bireun ke depan pihaknya masih terus mengupayakan hadirnya Sekolah Tinggi Peternakan direncanakan dibangun di Kecamatan Juli. Kita berharap apa yang disampaikan oleh wakil Bupati Bireun bukan sekedar dongeng menjelang tidur.

Sebagai anak desa saya hanya bisa menyarankan pemilihan lokasi yang tepat agar Sekolah Tinggi Peternakan tidak bernasib seperti IPDN, menurut saya di Kecamatan Juli akan lebih bijak dibangun industri yang bahan bakunya lalu lalang dari Aceh Tengah-Bener Meriah, semua turunkan di Pabrik Juli, tomat cabe kita olah jadi saus, Kopi bikin bubuk dan sebagainya dengan brand ternama kita ciptakan, semoga Bireuen ke depan lebih maju dan pemimpin tambah bijaksana, semoga!


*)Penulis adalah penduduk Tanjong Mesjid, Gandapura, Bireuen.