Tantangan “Tan Malaka” Era Milenial

Oleh Muhammad Rafsanjani

Pemuda acap diidentikkan dengan kekuatan, semangat, berani, mempunyai kemampuan, dan berbagai potensi hebat lainnya. Presiden pertama Indonesia, Soekarno, juga menggambarkan secara dramatis tentang sosok pemuda dalam kata-katanya, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Pemuda memiliki tanggung jawab yang begitu besar terhadap republik ini, apalagi jika melihat sejarah kaum muda dalam perjuangan kemerdekaan maka dengan tidak langsung memberikan tanggung jawab sejarah yang harus dipikul.

Kemerdekaan negeri ini juga tidak lepas dari peran penting kaum muda di mana para pemuda dengan beraninya pada dini hari menjelang 17 Agustus 1945 menculik paksa Bung Karno, lalu meyakinkannya bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan jepang. Soekarno dipaksa untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, kejadian ini dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok.

Hari Sumpah Pemuda merupakan momentum untuk merefleksikan bagaimana perjuangan para pemuda Indonesia dalam merebut Kemerdekaan pada masa kolonial. Pada hari itu, tepatnya pada 28 Oktober 1928 pemuda seluruh Nusantara memproklamirkan pernyataan yang disepakati, untuk mempersatukan seluruh pemuda Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan tanah air. Pernyataan tersebuat dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Menjadi pemuda di era perjuangan kemerdekaan dengan pada masa pasca kemerdekaan tentu saja memiliki tanggung jawab yang berbeda, apalagi menjadi pemuda di era milenial seperti sekarang ini. Oleh karena itu, kita perlu belajar dari perjuangan para tokoh revolusiener republik ini. Mengutip kata-kata Bung Karno, dalam pidato Hari Pahlawan 10 November 1961, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”

Ikon anak muda

Di antara beribu pemuda yang berkeringat dan berdarah-darah berjuang merebut kemerdekaan, ada satu sosok yang saya anggap menarik untuk kita pelajari perjalanan perjuangannya, Datuk Ibrahim Tan Malaka. Tan Malaka adalah bapak revolusi kemerdekaan Indonesia. Mendengar namanya tentu saja tidak akan asing bagi kalangan pemuda terutama mahasiswa. Meskipun pada masa Orde Baru gelar kepahlawanan nasional Tan dicabut karena sosoknya sering kali dihubungkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) musuh bebuyutan Orde Baru.

Ia anak muda yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menguasai ilmu pengetahuan. Kegigihannya dalam mencari ilmu pengetahuan membawa ia ke Belanda dan meninggalakan tanah kelahirannya, Minangkabau. Kehidupan Tan di negeri Kincir angin tidak berjalan begitu mudah, ia mengalami kesulitan dengan biaya dan kondisi kehidupan di sana, namun berkat keyakinannya dalam menuntut ilmu ia berhasil menyelesaikan studinya sampai kembali ke Indonesia.

Setelah kembali ke Indonesia, Tan Malaka menjadi guru untuk mengajar tulis menulis anak buruh perkebunan di Deli, Sumatera Utara. Di perkebunan itu Tan melihat bagaiamana ketimpangan nasib buruh yang rata-rata adalah pribumi dan mereka tertindas oleh penjajah. Mulai dari itulah semangat anti kolonialisme Tan Malaka tumbuh.

Tan Malaka adalah satu dari sekian pemuda yang menggagas konsep Republik Indonesia, gagasannya tersebut tertuang dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, lebih duluan dibandingkan dengan Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije(Indonesia Merdeka) pada tahun 1928 dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka(1933). Naar de Republiek Indonesia yang ditulis oleh Tan, telah banyak menginspirasi tokoh-toko pergerakan di Indonesia, termasuk Soekarno.

Tan Malaka menganggap kemerdekaan itu bukan sebuah hadiah yang diterima dari penjajah melainkan harus direbut. Menjelang kemerdekaan Indonesia, ia berkali-kali bertemu dan berbicara dengan para tokoh pergerakan Indonesia untuk membahas berbagai masalah politik terutama tentang kemerdekaan Indonesia. Tan Malaka menyatakan mendukung gerakan pemuda dan pimpinan revolusi untuk kemerdekaan sebaiknya berada di tangan kaum pemuda.

Kisah perjuangan Tan Malaka diisi dengan mengobarkan semangat perlawanan terhadap kaum penjajah hingga membuatnya hidup dalam pelarian, bergerilya dari satu negara ke negara lainnya dan berpindah- pindah dari penjara ke penjara lainnya. Penjara hanya mengurung fisiknya, namun jiwa dan pemikiran Tan Malaka tidak dapat dibelunggu. Ide dan gagasannya masih terus dikobarkan untuk melawan penjajahan melalui tulisan. Ada beberapa adi karya Tan Malaka yang telah banyak menginspirasi kaum pergerakan diantaranya MADILOG, Naar de Republiek Indonesia ( Menuju Republik Indonesia), Aksi Massa, dan Gerpolek( Gerilya Politik Ekonomi).

Dalam kisah percintaan, Tan Malaka tidak pernah memiliki seorang istri. Ada beberapa gadis yang bersama Tan, sejak bersekolah di Kweekschool, Bukittinggi, sampai perjuangan merebut kemerdekaan. Namun semuanya tidak berakhir di pelaminan karena persoalan cinta yang begitu rumit dilewati Tan Malaka. Kegiatan perjuangan revolusioner Tan jauh lebih menyita perhatiannya ketimbang berpacaran.

Spirit perjuangan Tan Malaka dapat menjadi panutan bagi generasi milenial hari ini. Perjuangan yang digelorakan nya memberi kita pelajaran bahwa ia adalah sosok pejuang yang memiliki idealisme. Bahkan ia rela mengorbankan kepentingan pribadi demi perjuangan bangsa dan nasib orang lain, cinta yang ia tinggalkan menjadi bukti keberpihakannya yang totalitas terhadap negeri ini.

Beda zaman beda tantangan

Hidup sebagai pemuda pada zaman ini tentu saja berbeda tantangan dengan masa Tan Malaka. Jika dulu pemuda berjuang untuk merebut kemerdekaan maka hari ini anak muda harus berjuang mengisi kemerdekaan dengan segala potensinya untuk mewujudkan Indonesia yang berkualitas. Tugas kita memang berbeda dengan para pejuang era revolusi namun semangat perjuangan tokoh-tokoh revolusioner terdahulu masih tetap bisa kita lanjutkan.

Kita generasi milenial ditantang untuk menjadi solusi dari serba-serbi permasalahan negeri. Tantangan “Tan” milenial adalah melawan neokolonialisme. Beragam bentuk penjajahan gaya baru yang menjadi indikator terhambatnya kemajuan Indonesia. Di antaranya, kebodohan, kemiskinan dan ketamakan, permasalahan ini menjadi tanggung jawab pemuda sebagai generasi perubahan untuk melawan neokolialisme.

Permasalahan kebodohan terhadap bangsa ini masih menjadi persoalan yang serius, tercermin dari ketimpangan dalam dunia pendidikan. Mengutip dari Bank dunia(dalam CNN Indonesia 07/06/2018) bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah, hal itu tercermin dari peringkat Indonesia yang berada di posisi terendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Bahkan 55 persen anak usia 15 tahun di Indonesia masih buta huruf.

Kemiskinan juga menjadi tantangan yang harus dilawan oleh generasi milenial. Banyak dari penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah rata-rata. Ketimpangan tersebut tidak lepas dari perilaku para elite politik yang bersikap tamak. Saya mengartikan sikap tamak disini adalah perilaku pejabat yang korup padahal para pejabat sudah diberikan upahnya oleh negara. Baru-baru ini media massa di Indonesia tidak hentinya memberitakan kasus penangkapan pejabat yang korupsi.

Semua permasalahan tersebut menjadi tantangan bagi pemuda Indonesia hari ini selaku agen dari perubahan dan pembaharuan. Apabila penyelesaian tugas tersebut terlalu berat, setidaknya setiap pemuda bisa melakukan perubahan mulai dari individu. Tuntutan melawan kebodohan bisa dilakukan pemuda dengan cara terus fokus belajar, mengembangkan pikiran-pikiran dan menggali potensi diri.

Pemuda Indonesia harus kreatif dan produktif sebagai langkah solutif melawan kemiskinan. Menjadi pelaku industri kreatif adalah salah satu hal yang bisa dilakukan. Sebuah kreatifitas yang identik dengan generasi milenial. Tanpa berharap pada pemerintah, anak muda mampu melakukan upaya mengurangi angka pengangguran dengan membangun industri kreatif sesuai dengan bidang yang diminati, ini merupakan bentuk kontribusi terhadap negeri. Sehingga angka kemiskinan pun dapat menurun.
Kemudian, para pemuda harus menjadi generasi baru yang dapat menjadi panutan bagi masyarakat, dengan cara bersikap bersih dan tidak korupsi. Pemuda jangan terjebak dengan gaya lama yang ditampilkan oleh elite politik negeri yang bersikap tamak. Upaya tersebut merupakan langkah pembaharuan dari buruknya roda pemerintahan yang dijalankan oleh kebanyakan elite politik hari ini.

Oleh karena itu, semangat spirit perjuangan revolusioner Tan Malaka harus tetap mengalir dalam jiwa milenial. Jangan pernah takut berbuat untuk kebenaran karena Tan Malaka dan para leluhur bangsa telah menjadi patron membuka jalan bagi pemuda bangsa untuk terus bergerak dan berkarya. Hidup pemuda , saatnya bergerak untuk kemajuan bangsa.[]

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Sosiologi, Universitas Syiah Kuala dan alumni Dayah Jeumala Amal.