Toilet Sekolah dan Peradaban

BEBERAPA waktu lalu saya membaca sebuah artikel tentang perilaku kencing lelaki India yang serampangan. Akibat pipis mereka yang ditembak di mana saja, membuat Pemerintah India membuat terobosan yaitu menyediakan “water canon” untuk menyiram para lelaki yang gagal memimpin alat kelaminnya agar pipis di toilet. Hasilnya, sedikit mengurangi perilaku buruk yang sudah dilakukan berketurunan.

Para pemilik dinding di mana dijadikan tempat berkumpul atau lalu-lalang masyarakat, terpaksa melukis dinding mereka dengan gambar para dewa. Cara itu tergolong ampuh, warga India yang mayoritas Hindu tidak berani mengencingi wajah para dewa. Pemilik dinding dan tembok pun bergembira, tapi tak bisa mewarnai properti mereka sesuka hati. Satu jam saja gambar dewa hilang, maka ratusan orang secara bergantian akan berdiri menghadap tembok sembari menggoyang-goyang alat kelamin.

Melihat perilaku buruk masyarakat India, mengingatkan saya pada masa lampau ketika masih sekolah di salah satu SD di kampung. Sekolah kami yang kala itu terdiri dari sembilan ruang kelas, tidak dilengkapi dengan toilet. Bila berhajat buang air kecil, para siswa laki-laki akan pergi ke belakang sekolah dan kemudian membuka resleting dan segera menghadap ke tembok, sembari menggoyang-goyang “perkutut” yang masih serupa dengan cecak.

Tidak jarang, bila kebetulan bertemu tiga atau empat teman sebaya, maka akan terjadi kegiatan ilegal lomba kencing. Sembari menatap “bayi burung” teman, setiap peserta lomba akan mengenjan sekuat tenaga agar kencingnya lebih kencang.

Ruang kelas yang paling banyak ditembak dengan kencing para bocah lelaki adalah tembok belakang ruangnya murid kelas I hingga III. Saya tidak tahu, kenapa tembok kelas IV hingga V tidak ada yang mengencingi. Mungkin soal attitude saja.

Lalu di mana para guru dan siswa putri buang hajat? Saya tidak begitu ingat lagi. Seingat saya sekolah kami memang memiliki toilet, tapi sisa “Perang Dunia II”. Toiletnya rusak dan sudah over loaded. Kotoran manusia entah dari generasi ke berapa, telah mengering menjadi jejak sejarah di lantai WC. Bahkan di atas “artefak” tinja, beberapa ayam kampung pernah saya temukan bertelur.

Di sekolah kami kala itu satu-satunya sumber air adalah sumur tua bercincin beton yang menjadi pusat pelepas dahaga para murid miskin akut dan miskin sedikit di bawah akut. Jam 11 ke atas, satu timba kecil air sumur akan diminum beramai-ramai oleh murid laki-laki. Termasuk saya. Kerennya, walau minum air mentah serta satu ember rame-rame, setahu saya, tidak ada yang mencret setelahnya. Mungkin tubuh kami sudah mengimunisasi diri, menyesuaikan tubuh dengan alam tempat kami bertumbuh.

***
Saya pernah berharap bahwa ketika SMP dan STM, pengalaman buruk tersebut tidak berulang. Tapi sepertinya, perilaku kita sama saja. Di SMP dan STM, hanya toilet guru yang layak pakai, sedangkan toilet siswa sungguh takkan sanggup digunakan, kecuali sedang diare.

Dari pengalaman itu, kemudian dihimpun dengan ragam pengalaman orang lain di berbagai sekolah lain dapat disimpulkan bahwa salah satu petugas yang paling tidak bertanggungjawab adalah petugas yang ditugaskan menjaga sekolah. Di mana-mana persoalan klasik toilet sekolah tetap itu-itu saja, toilet mampet, toilet sudah tak mampu lagi menampung tinja, hingga toilet yang tidak memiliki air.

Saya juga sempat heran dengan tanggungjawab kepala sekolah kala itu, apakah mereka tidak pernah memeriksa fasilitas sekolah? Mengapa masalah toilet tetap tak pernah tertangani dengan benar, bahkan tidak ditangani sama sekali?

***
Pesan cabul adalah goresan paling kuno yang pernah saya temukan di dinding toilet. Mulai dari toilet sekolah, toilet terminal, toilet meunasah, hingga toilet mesjid, bahkan toilet perguruan tinggi.

Pesan-pesan mesum, kalimat tak bermoral hingga hinaan untuk perempuan yang dibenci, sering saya temukan ditulis di dinding.

Apakah sekarang toilet kita saat inu masih memiliki persoalan yang sama? Semoga saja tidak lagi. Majunya peradaban sebuah bangsa dimulai dari bagaimana bangsa itu memperlakukan toilet.

Ilustrasi dikutip dari website sketsaindonesia.

KOMENTAR FACEBOOK