Bernira Ria dan Hujan yang Ngangenin

Mendung sudah menggantung di cakrawala malam sejak azan magrib berkumandang. Banda Aceh begitu padat pada Kamis sore (1/11/2018). Ini lumrah, karena klub sepakbola Persiraja baru usai berlaga melawan PSS Sleman pada babak 8 besar Liga 2. Wajah-wajah warga yang merayap padat di tiap simpang berseri-seri, hal ini wajar, bonden Kutaraja baru menghajar lawan dengan skor 2-1.

Persiraja adalah marwah warga kota Banda, walau sempat menjadi milik Aceh pada era Ligina, tapi klub yang dulu hidup dari APBD itu, memang identik dengan Aceh Besar dan Banda Aceh.

Saya tidak sempat menonton laga yang dihelat di Stadion Dhirmurtala. Ini bukan karena saya kelahiran Bireuen yang juga punya PSSB –klub ini telah mati suri– tapi mungkin karena saya tidak begitu suka menonton sepakbola. Saya lebih suka membaca berita bola ketimbang menonton permainannya.

Hari ini Persiraja memang menggila, dan saya sepakat, tim lantak laju memang harus selalu menggila agar bisa kembali ke kasta tertinggi di Indonesia. Ini persoalan gengsi orang Aceh, bahwa kita bukan pemain boh bhan lampoh u. Oleh karena gengsi itu pula, saya sepakat bila klub bola di negeri kita memang harus didukung oleh pemerintah, agar tetap hidup.

Ah, terlalu panjang saya menulis tentang bola dan Persiraja, tapi tak mengapa, karena bila menyebut Persiraja, maka saya harus membawa kembali ingatan pada sosok fenomenal Irwansyah. Ya, lelaki itu telah membuat saya bangga sebagai putra Aceh kala itu, Irwansyah dipuji oleh tifosi sepakbola Indonesia. Nama-nama lain yang juga ikut saya ingat adalah Tarmizi Rasyid dan Dahlan Djalil, ah, ingatan saya memang sangat terbatas soal sepakbola. Mungkin Kurniawan, sang kiper itu yang juga saya ingat.

***
Malam ini, masih di tanggal yang sama, saya diundang oleh seorang teman yang berprofesi sebagai desainer daring ke sebuah warung kopi di bilangan Beurawe. Katanya ada kopi unik yaitu nirapreso. dari namanya saja sudah unik, walau sudah sering mendengar nama itu, tapi belum pernah saya seruput rasanya.

Nirapreso adalah campuran kopi dan air nira ijuk, disajikan dalam bentuk dingin, dengan rasa sedikit asam di antara dominan manis. Bagi saya tidak ada hal yang wah sebagai kopu, karena rasa kopi hilang sama sekali–menurut saya– dan cocok disebut minuman gaul ketimbang kopi sesungguhnya. Cocok dinikmati oleh generasi gaul yang sudah tersentuh dunia modern dan tidak candu kopi. Karena, bagi penikmat kafein sejati, nirapreso hanyalah minuman remaja.

Sebagai penikmat kopi kambuhan serta hanya mau ngopi kalau bubuknya arabika, saya merasakan bahwa nirapreso hanyalah minuman yang tidak serius. Ketika meneguk nirapreso, saya gagal menemukan kopi di dalamnya. Tentu ini soal taste, tapi jujur, kalau mau ngopi, ya jangan nirapreso.

Ada yang unik dari nirapreso, yaitu walau disajikan dingin, tapi bisa memberikan efek hangat di tubuh. Apakah ini menjadi pengalaman semua orang, atau hanya saya? Entahlah. Tapi sekali lagi, nirapreso tetaplah air nira campur kopi, bukan kopi campur nira, hehehe.

Ketika pertamakali menyeruput nirapreso, ingatan saya segera melanglang buana ke tanah Gayo–negeri yang sangat saya cintai– karena di negeri itu nira tumbuh dengan subur. Di celah-celah gunung berbatu, ijuk tumbuh dengan daunnya yang hijau pekat, dan dari tanoh Gayo pula, berpuluh kilo gula aren diedar ke seluruh Aceh tiap harinya.

Nah, kalau sudah menjadi gula aren, maka paduan yang pas dengan arabica. Di warung-warung yang harga kopinya sudah di atas 5000 per gelas, gula aren kerap disajikan sebagai pengganti gula putih. saya pun karena keseringan mengulum gula merah ketika ngopi, menjadi tidak pas lagi bila ngopi tanpa aren. Aren dan kopi seperti Romeo and Juliet, seperti Aceh dan Gayo, berbeda tapi saling mengikat, berbeda tapi saling menguatkan.

***

Ketika jarum jam menunjukkan angka 22.00 WIB, hujan mengguyur Banda Aceh, nirapreso masih setengah gelas lagi. Minuman ini memang sedap bila diteguk perlahan dan sedikit-sedikit. Rasa manis berpadu asam yang tidak kentara, membuat tenggorokan tidak meminta lebih. Dalam bahasa Aceh disebut s’et-s’et, artinya diminum sedikit-sedikit dan pelan. Sehingga sangat cocok untuk nongkrong lama, apalagi bila uang terbatas.

Hujan yang turun pada jam-jam kritis demikian, membuat saya ingin pulang. Hujan ini memang membuat siapa saja kangen rumah. Saya juga kangen rumah, tapi, ah sudahlah. Rumah saya dengan kota Banda Aceh berjarak 250 kilometer. Bilapun dipaksa pulang, tiba di sana fajar sudah menyingsing dan efek hangat nirapreso sudah pun hilang di perjalanan, digantikan dengan badan pegal-pegal karena masuk angin.

KOMENTAR FACEBOOK