Cerutu dan Pesan Wak Leh Nainggolan

M. Saleh Nainggolan (kiri) pedagang rokok keliling di Banda Aceh, berfoto bersama penulis. (Hendra Keumala/aceHTrend)

Hari ini, Sabtu (3/11/2018) saya mendapatkan hadiah berupa sebatang cerutu produk salah satu perusahaan cerutu asli Indonesia. Seorang pengusaha Aceh yang bermukim di Batavia, menitipkan sebatang untuk saya, sebagai pesan–mungkin demikian– bahwa kami masih berteman. Atau minimal ia ingin menyampaikan pesan tak tersurat bahwa dirinya masih mengingat nama saya.

Jangan tanya berapa harga sebatang cerutu yang diberikan kepada saya, karena tidak mungkin saya ceritakan di kolom ini. Ini tentang etika pertemanan, mahal atau murah adalah soal lain, hadiah adalah tentang rasa, tentang pesan bahwa ingatannya masih tersisa untuk mengigat nama saya.

Cerutu adalah sesuatu yang asing bagi saya. Sebagai perokok kambuhan yang layak disebut “residivis”, seumur hidup belum pernah menyundut cerutu, hanya sesekali menghirup aroma asapnya dari aktivitas menyundut kenalan yang kebetulan sedang hangout sembari bercerita ngalor-ngidul.

Jumat malam (2/11/2018) sebuah komunitas penikmat cerutu hadir di Banda Aceh. Namanya Aceh Cigar Club yang diinisasi oleh Sabri Ali dan teman-temannya. Kehadiran komunitas ini tentu sesuatu yang baru di ibukota Propinsi Aceh, walau para penikmatnya sudah ada sejak lama–saya tidak punya data pasti tentang personal-personal itu.

Menurut cigarindonesia.id,cerutu memberikan kesan eksklusif, mewah, dan unggul. Kenikmatan cerutu ada dalam rasanya, sebuah sensasi yang khas yang hanya bisa didapatkan dengan etiket dan penilaian tertentu. Pecinta cerutu menciptakan harmoni antara momen dalam kehidupan mereka dengan pikiran mereka. Oleh karena itu dibutuhkan perjalanan panjang dan rasa syukur yang tinggi untuk menikmatinya.

Memang, cerutu bukanlah “rokok” yang diproduksi untuk kelas menengah ke bawah. Sundutan berukuran besar itu diperuntukkan untuk kelas atas alias jetset, atau oleh orang Aceh disebut awak elit. Oleh jetset sekalipun, cerutu tidak dihisap dalam kondisi sedang bekerja. Daun tembakau yang digulung tanpa dicampur dengan balutan kertas ini memang diciptakan untuk dinikmati pada waktu-waktu khusus.

Harganya pun, dari seratusan ribu per batang, hingga jutaan, tergantung kualitas dan asalnya. Dengan harga demikian, sekali lagi ingin saya sampaikan, bahwa itu sundutan orang-orang hana peng bicah (orang kaya raya) atau para pejabat yang memiliki deposito unlimited (entah bagaimana caranya).

***
Bagi kelas menengah, khususnya kaum urban kota, berkesempatan menghisap cerutu adalah sesuatu yang wah. Maka tidak heran, kala Aceh Cigar Club dilaunching dan panitia menyediakan cerutu gratis yang diletakkan di atas meja, ada individu yang mengambilnya lebih dari sebatang, demikianlah cerita yang berkembang.

Seorang teman pernah berkata bahwa cerutu bila disalahtafsirkan, konon lagi tenggelam ke dalamnya, akan berbahaya bagi pejabat publik yang pendapatannya semata dari gaji yang disediakan oleh negara. Untuk itu, anggota DPRK, bupati, walikota, kepala dinas, polisi, tentara, yang hanya hidup dari mengurus rakyat, sebaiknya jangan ketagihan. Ingat, jangan ketagihan. Silahkan mencoba atau menghisapnya sesekali, tapi jangan sampai menjadi gaya hidup.

Bila sudah menjadi gaya hidup, akan berdampak bagi pendapatan, yang nantinya akan membuat neraca keuangan tidak akan seimbang. Bila sudah tidak seimbang, tentu akan berpotensi untuk nakal, dalam artian akan menyikat apa saja, demi memenuhi kebutuhan gaya hidup.

Khususnya anak muda yang masih magang menjadi calon orang kaya, seumpama aktivis LSM, para tim asistensi yang hanya hidup dari gaji asistensinya, dan profesi lainnya yang belum mapan. Silahkan bercerutu, tapi jangan sampai menjadi kebutuhan untuk menjaga lifestyle, karena ujung-ujungnya tidak akan bagus.

***

Semalam yang lalu, kala sedang ngopi di sebuah warkop di bilangan Beurawe, banda Aceh, saya dan teman-teman yang sedang asyik bicara tentang peradaban dan budaya, dihampiri oleh lelaki tua berbadan kurus, berkulit hitam, berpenampilan dekil dengan wajah kusut masai. Ia berjualan sirih manis, kacang, telur puyuh, kuaci dan rokok.

Nama lelaki itu M. Saleh Nainggolan, berusia kepala lima dan berasal dari Sumatera Utara. Lelaki yang mengaku telah mualaf sejak 1996 itu merupakan pedagang sirih dan rokok keliling yang bergerak dengan sepeda bututnya dari warkop ke warkop.

Jam kerjanya dari pukul 15.00 WIB dan berakhir pukul 03.00 dinihari. “Saya pulang ke rumah setelah subuh. kasihan kalau harus membangunkan istri larut malam,” katanya menjelaskan.

Dalam waktu sekejap kami segera akrab. saya menyebutnya dalam tulisan ini dengan nama Wak Leh, penyundut sigaret kretek berputing coklat itu, mengaku memilih menjadi pedagang keliling dengan sepeda, selain untuk menafkahi keluarga, juga tidak punya keberanian menjadi peminta-minta.

“Saya malu meminta sekedah, saya malu mengulurkan tangan kepada orang lain, tanpa adanya barang yang bisa saya jual,” katanya sembari duduk.

Kepada kami, dia banyak bercerita, dan cerita itu tidak mungkin saya tulis di kolom ini–ini bukan berita,hanya sekedar kolom saja– yang intinya dia memilih bekerja keras berkeliling menjual rokok dengan sepeda butut, ketimbang menjadi pengemis.

“Hidup itu sederhana, kalau tak mau susah harus bekerja keras. Hidup jangan menyusahkan orang lain dan jangan pula mencari rezeki dengan cara menyusahkan orang lain,” katanya.

***
Ketika tulisan ini selesai, cerutu hadiah tersebut masih di atas meja, lengkap dengan bungkusan plastiknya yang belum saya buka. Saya sedang menimbang dua hal, menghisapnya dengan catatan harus menunggu momen yang pas, atau menghadiahkan kembali kepada orang lain?

Tapi pilihan kedua tentu tidak bijak, hadiah tidak boleh dihadiahkan kembali. Tapi jujur, cerutu ini tidak bisa saya nikmati sendirian, apalagi kala hari sedang rindu ingin pulang.

Tapi, saya tentu tidak akan bercerutu di rumah yang jaraknya 250 kilometer dari Kota Banda Aceh. saya tidak merokok di rumah, selain menghormati istri dan anak-anak, saya tentu tidak akan memiliki waktu untuk menikmati cerutu itu. Saya terlalu sibuk dengan urusan domestik bila sudah di rumah.

KOMENTAR FACEBOOK