Meneladani Akhlak Habaib

Penulis (kanan) bersama Ustad Abdul Somad.

Oleh Azmi Abubakar, Lc*)

Beberapa hari ini di media sosial, pemberitaan kedatangan dan acara majlis ilmu yang diisi Habib Umar bin Hafiz sangat menyejukkan tanah Indonesia dan media sosial di tengah hiruk pikuk nuansa politik. Bisa dikatakan Habib Umar adalah sosok pemersatu dan penyejuk umat Islam saat ini dengan membawa mahabbah kepada Rasulullah, Habib Umar adalah sosok yang sangat bijaksana dalam menyikapi berbagai isu termasuk di Indonesia sendiri.

Dalam sejarahnya, dakwah para Habib di Nusantara pada hakikatnya sudah dimulai belasan abad lalu, Melalui jalur perdagangan dakwah Islam ke Nusantara berjalan sempurna, sebagian besar mereka adalah para Habib keturunan Rasulullah yang kemudian banyak juga yang menjadi raja dan ulama kharismatik Nusantara. Habaib jamak dari kata habib, yang berarti kekasih, habib dinisbahkan kepada siapa saja yang bertalian nasab kepada Rasulullah atau disebut juga dengan istilah ahlu bait.

Maka kisah Rasulullah akan lebih terasa jika kita dengar dari para ulama habaib semisal habib Ali Jufri, salah seorang ulama Tarim, murid Habib Umar bin Salim Al-Hafiz yang penulis hadir langsung dalam majlis beliau ketika di Mesir. Habib Umar bahkan pernah menyebut jika ingin melihat wajah Rasulullah maka pandanglah wajahnya Habib Ali Jufri.

Sebenarnya keberadaan para Habib di Indonesia ini sangatkah kuat, mereka menjadi suluh bagi umat, supaya umat tidak lalai dari mengingat Rasulullah Saw. Para Habib ketika menjelaskan kehidupan mulia Rasulullah dan perjuangan Rasulullah, maka kita bisa melihat ketulusan dan rasa mahabbah sehingga deraian air mata kasih sayang bercucuran di mata. Di satu sisi keberadaan habaib di Aceh masihlah kurang mendapat tempat, para habib biasanya banyak mengunjungi Pulau Jawa. Harus diakui bahwa dalam segi keilmuwan Pulau Jawa mempunyai semangat keilmuwan tinggi walaupun di Jawa sendiri berbagai kelompok dan isu agama tak terelakkan.

Apa yang dilakukan almarhum Habib Munzir Al Musawwa yang telah mendirikan majlis Rasulullah yang kemudian diteruskan habib Jindan patut diapresiasi. Majlis Rasulullah telah menumbuhkan suasana kembali tentang cinta kepada Rasulullah. Sudah sedemikian besar penghargaan masyarakat Aceh dahulunya untuk memuliakan para ahlu bait Rasulullah, dalam rangka mendakwahkan nilai kasih sayang dalam Islam. Mereka semua adalah para penguat ahlus sunnah wa jamaah. Maka pada masa ini pula seolah sejarah kembali berputar kembali, kita diingatkan kembali untuk memuliakan mereka sebagaimana indatu kita dahulu. Kita berharap majlis Rasulullah juga bisa eksis di Aceh.

Eksistensi dan ghirah habib di Aceh harus disemarakkan kembali. Kita bersyukur usaha untuk menyemarakkan komunitas pecinta Rasul ini mulai bergerak perlahan, salah satu perkumpulan yang mulai kembali eksis adalah perkumpulan alawiyin yang ada di kampung Bambi, Kabupaten Pidie. Kehadiran komnitas ini dirasakan sangat penting sebagai wasilah untuk menghadirkan para habaib mengisi berbagai kajian keilmuwan. Rasulullah pernah bersabda, siapa yang mencintai keturunanku, maka ia telah mencintaiku.

Lihatlah para habaib dan sifat teladan mereka, juga mempraktikkan wirid yang memaknai kecintaaan kepada Rasulullah yang diajarkan mereka. Ghirah dakwah para habib di Aceh ke depan harus ditumbuhkan kembali. Setidaknya membuat generasi muda mempunyai semangat meneladani akhlaknya Rasulullah. Habib Umar datang membawa misi dakwah yang paling mendekati gaya Rasulullah, beliau bahkan menghadiri pertemuan dengan beberapa petinggi agama lain, ini menunjukkan jika beliau seorang ulama yang sangat berkelas.

kedatangan habib dan para ulama seyogyanya bisa memberikan kesadaran kepada kita tentang pentingnya pembersihan hati dan peningkatan ibadah kepada Allah. Meneladani akhlak para Habib dengan merubah arah warung kopi sebagai pusat kebaikan, bukan malah menambah kemaksiatan itu sendiri. Peran habaib yang menyebarkan agama Islam ke Nusantara tak boleh dilihat sebelah mata, peran mereka sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan di Aceh wujud kecintaan kepada habaib terkadang direfleksikan melalui melalui berbagai macam kasidah.

Beberapa habaib yang datang ke Aceh selalu memuji Aceh, para Habaib mengetahui benar sejarah Aceh dan Islamnya, bahkan banyak di antara para Habaib mempunyai nasab dengan keacehan, di mana mereka adalah anak daripada ulama Aceh dahulunya, Justru sebaliknya, kita mempertanyakan apakah generasi muda Aceh sekarang mengetahui bagaimana kekhususan Aceh yang luar biasa ini di mata habaib? Cinta kepada habaib berarti cinta kepada keturunan Rasulullah. Mencintai Habaib bagian daripada mencintai Rasulullah dan akhlak para habaib yang harus kita teladani. Para habaib dalam dakwahnya selalu menonjolkan rasa mahabbah dan kasih sayang kepada para jamaah. Sifat ini pula yang harus dimiliki oleh para da’i kita terlebih dalam setiap perayaan hari besar Islam di mana peran dai akan terus dilihat untuk menyejukkan hati umat. Semoga!

*)Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir, Mahasiswa Hukum Keluarga Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry, email azmiabubakarmali@gmail.com