Menggoreng Muharuddin Vs Mualem, untuk Apa?

Mualem (kiri) dan Muharuddin. (Taufik Ar-Rifai/aceHTrend)

Semakin tinggi sebatang pohon, maka semakin kencanglah angin menghembus, bila akar tak kuat, sungguh batang akan terjungkal.

Pepatah Melayu itu pantaslah disematkan kepada Teungku Muharuddin, politikus partai Aceh yang merupakan Ketua DPRA. Walau ia telah menyatakan menerima dan tidak melawan keputusan DPA Partai Aceh, atas penggantian dirinya dari kursi ketua, tapi masih saja dia diisukan diam-diam melawan keputusan Muzakkir Manaf selaku Ketua Umum DPA PA cum Ketua Umum Komite Peralihan Aceh (KPA), organisasi tempat berhimpunnya eks kombatan GAM.

Keputusan pemberhentian Teungku Muharuddin dari kursi Ketua DPRA tertuang dalam Surat Keputusan (SK) bernomor 0063/DPA-PA/X/2018 tertanggal 2 Oktober 2018 yang mengusulkan penggantian Ketua DPR Aceh dari Tgk Muharuddin kepada Tgk Sulaiman. Surat itu ditandatangani oleh Ketua DPA-PA, Muzakir Manaf dan dan Sekretaris Jenderal PA Kamaruddin Abubakar. Pimpinan Partai Aceh menunjuk Teungku Sulaiman sebagai pengganti Muharuddin.

Atas keputusan pimpinan, Muharuddin mengaku menerima dengan lapang dada dan tidak terganggu. Pernyataan ini disampaikan oleh Teungku Muhar bukan saja kepada media, tapi kepada koleganya yang menanyakan secara langsung kepada dirinya. Sebagai kader dia siap menjalankan keputusan partai.

***
Di tengah persiapan penggantian Ketua DPRA dari MUhar ke Sulaiman, tiba-tiba beredar isu bila Mualem marah kepada Muharuddin, karena Muhar telah bermain di belakang Mualem untuk mengamankan kursi Ketua DPRA. Oleh info yang beredar disebut-sebut Muhar tidak rela bila jabatan yang telah dia jabat sejak terpilih untuk kedua kalinya itu, diduduki oleh orang lain. Muhar dituduh pula bermain dengan pihak Pusat, untuk memuluskan misinya itu.

Bahkan, dalam sebuah pernyataan kepada Media, Mualem mengatakan bahwa Muharuddin jangan seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Mualem mewanti-wanti agar Muhar tidak bersandiwara dengan dirinya.

Kabar tentang kemarahan Mualem itu pun viral di internet. Menjadi bola liar yang justru menyudutkan Mualem sendiri. Banyak netizen menilai bila pernyataan Mualem tidak bijak, tergopoh-gopoh, tidak dewasa dan tidak bertabayyun kepada kadernya. Ada pula netizen lain yang menilai Muharuddin tidak tahu diuntung, gagal berterima kasih dan egois.

Atas pernyataan itu, kemudian melakukan klarifikasi. Ia mengaku tidak pernah mengatakan demikian. Dirinya mendukung Muharuddin menuju Senayan melalui Partai NasDem. “Jangan ada kader dan simpatisan kita termakan dengan isu fitnah yang ujung-ujungnya merugikan Partai Aceh. Dari awal saya sudah tegaskan baik Muharuddin maupun kader-kader lain agar konsen dan kita dukung penuh maju ke Senayan. Jikapun ada yang ingin memanfaat momen ini untuk memecah belah internal kita, abaikan saja,” kata Mualem.

Muharuddin pun mengaku tidak pernah mencoba menelikung dari perintah partai, dia tetap patuh dan setia serta akan menjalankan keputusan partai.

***

Politik adalah dunia yang penuh intrik. Siapa saja yang lemah mentalnya tentu tidak disarankan–oleh dokter– untuk masuk ke gelannggang yang satu ini. Politikus tidak boleh baper, karena terbawa perasaan dalam politik adalah sesuatu yang keliru.

Demikianlah hal yang terjadi antara Mualem dan Muharuddin. Walau keduanya –sebagai atasan dan bawahan– sudah menjalankan tugas masing-masing, sebagai teman, keduanya telah duduk untuk saling menghormati, sebagai pelaksana tugas, keduanya pun komit menjalankan keputusan politik, toh, keduanya tetap digoreng, tetap coba diadu domba.

Saya menduga bila upaya pembenturan antara Mualem dan Muharuddin erat kaitannya dengan pileg 2019. Sebagai kader PA yang potensial, Muharuddin yang maju melalui Partai NasDem ke Senayan, adalah salah satu kandidat potensial. Dukungan Mualem terhadap dirinya akan membuat “orang lain” megap-megap.

Mualem, sebagai mantan Panglima TNA tentu memiliki basis tradisional yang akan melakukan apa saja, bila itu perintah dari Mualem. Loyalis Mualem adalah mereka yang tidak banyak bertanya, apa yang diperintahkan, itulah yang dikerjakan. Mereka tersebar di seluruh Aceh.

Untuk menjegal Muhar, jalan paling praktis dan paling murah adalah dengan mengadu domba keduanya. Memainkan isu-isu strategis nan berbiaya rendah, adalah pilihan.

Pertanyaan selanjutnya, akankah adu domba tersebut berhasil untuk menjegal Muharuddin? Iya atau tidak, hanya waktu yang akan menajwab. Tapi Teungku Muharuddin dan Mualem juga harus berhati-hati. Bukan saja berupaya melawan setiap fitnah, tapi juga mensterilkan lingkar pinggang keduanya dari para penghasut dan agen politik yang hanya mencari keuntungan dari kisruh yang ditimbulkan.

Siapa saja para penghasut yang memancing di air yang keruh itu? Bisa siapa saja, termasuk sejawat politik mereka sendiri.

KOMENTAR FACEBOOK