Kantor Karantina Ikan PPS Lampulo Beri Sertifikat untuk 1,7 juta Ton Ikan

ACEHTREND. COM, Banda Aceh – Pembukaan Kantor Wilayah Kerja (Wilker) Karantina Ikan oleh Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo, Banda Aceh mengakhiri klaim ikan milik Medan, padahal berasal dari Aceh.

“Selama ini, dikira ikan punya Medan, padahal ikan dari Aceh, ini karena sertifikasi kesehatan ikan banyak yang dilakukan di Medan, ” kata Pj Wilker Banda Aceh, Mirza Hera, Rabu (7/11).

Kantor wilker karantina ikan di kawasan PPS Lampulo juga mendekatkan nelayan untuk mengurus sertifikat ikan langsung di area PPS Lampulo. Selama ini, jika hendak mengurus sertifikat khususnya untuk ekspor harus mendatangi kantor SKIPM di Blang Bintang.

“Sejak beroperasi pada 1 Oktober 2018 kami berinisiatif jemput bola, ” kata Mirza Hera.

Mirza Hera melaporkan, terhitung 4-31 Oktober 2018 sudah dikeluarkan 384 sertifikat kesehatan ikan. Jumlah itu diberikan untuk total ikan (segar dan beku) plus 10 ikan hidup 1.726,042 ton.

Sebelumnya, dengan mengurus sertifikat di Blang Bintang hanya ada 4-7 pengurusan sertifikat sebagai syarat layak pengiriman ke provinsi atau juga ke luar negeri.

Dijelaskan, jasa yang diterima dalam 1 kilo ikan adalah 10 rupiah ditambah 5 ribu rupiah untuk jasa sertifikat.

“Jadi, untuk bulan Oktober, terhitung dari tanggal 4 – 31 Oktober 2018 ada penerimaan sebesar Rp19.108.520. Target kami 20-25 juta perbulan jika wilker Banda Aceh ini semakin tersosialisasi, ” kata Mirza Hera.

Selain di Banda Aceh, dengan lokasi di PPS Lampulo, kantor wilker karantina ikan juga ada di Sabang, Simeulue, Langsa, dan Singkil.

“Dibanding yang lain, yang perharinya 2 – 5 pengirman ikan, maka untuk kantor wilker Banda Aceh-Lampulo rata-rata ada 12 frekuensi lebih pengiriman perhari, ” kata Silvia, Kasi pengawasan Data dan Informasi.

Silvia menambahkan, untuk sementara kantor wilker Banda Aceh hanya melakukan uji kesehatan secara klinis. “Untuk uji laboratorium masih dilakukan di Blang Bintang, di sana untuk ikan ekspor, ” katanya.

Dijelaskan juga, ikan Aceh selama ini banyak dikirim ke Medan, Batam, Pekanbaru, Jambi dan juga ke Jakarta. Adapun jenis ikan yang banyak dikirim meliputi ikan tongkol, dencis, salam, kerapu, tuna, cakalang, termasuk juga lobster dan ikan hias.

Plt Gubernur Aceh, melalui Asisten II Taqwallah mengatakan, kehadiran kantor wilker karantina ikan di area PPS Lampulo guna memudahkan dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat khususnya nelayan.

“Dengan makin mudah, cepat, dekat dan lancar pelayanannya maka makin terbuka peluang lebih besar untuk menghidupkan ekonomi Aceh, ini yang terus kita usahakan, termasuk diberbagai sektor pelayanan lainnya, ” kata Taqwallah, di PPS Lampulo.

H Irwansyah Ibrahim, salah seorang pengguna jasa kantor wilker Banda Aceh – Lampulo mengaku sangat terbantu dengan kehadiran kantor karantina ikan di Lampulo.

“Dengan adanya layanan sertifikasi maka kami tidak harus lagi main kucing-kucingan saat mengirim ikan, kami juga mendapat penyuluhan langsung dari pihak petugas wilker di sini sehingga ikan kita lulus uji kesehatan, soalnya jika ikan kita jelek maka pelabuhan kita juga akan jelek namanya, ” kata Irwansyah. []