Kembalinya Teungku Muhar ke Kursi Anggota Biasa

ACEHREND.COM,Banda Aceh-Selasa (6/11/2018) Ketua DPRA Teungku Muharuddin, memimpin sidang paripurna pergantian dirinya sebagai ketua. Ini sebuah momen bersejarah, setelah ia dipercayakan di sana selama 4 tahun memimpin lembaga perwakilan rakyat.

Sebagai anak muda, Muharuddin dinilai oleh banyak orang memiliki performa sebagai politikus. Hanya satu periode saja ia duduk sebagai anggota DPRA (2009-2014) sebagai anggota biasa. Pada periode 2014-2019, ia terpilih lagi dan ditunjuk sebagai ketua DPRA, karena Partai Aceh (PA) tempat ia bernaung, memiliki kursi terbanyak.

Kisruh sempat muncul kala itu, tapi hanya sebentar. Ridhwan Abubakar alias Nektu yang dari dapil Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang, yang merasa berhak mendapatkan kursi ketua, hanya sebentar melakukan perlawanan. Mantan kombatan itupun mundur dari keanggotaan Partai Aceh dan “resign” dari anggota DPRA.

Perihal Muharuddin, ia terus melaju. Dibekali pengetahuan umum yang mumpuni, menguasai empat bahasa yaitu Aceh, Infonesia, Arab dan Inggris dengan sangat baik, serta didukung oleh penguasaan pengetahuan agama yang bagus, Alumnus Dayah Misbahul Ulum itu, semakin hari kualitasnya semakin nyata saja.

Ia pun mampu menjadi tandem yang pas bagi ketiga wakil DPRA yaitu Irwan Djohan yang merupakan anggota DPRA mewakili NasDem yang dikenal sangat jenius, Sulaiman Abda, politikus senior asal Golkar yang dikenal supel, sabar, berstrategi dan mumpuni, dan Dalimi, politikus Demokrat yang paling minim muncul ke ruang publik.

“Bahwa setelah ketua diberhentikan, Wakil Ketua I, II, dan III, akan duduk bersama, berembuk untuk menunjuk satu orang yang akan melaksanakan tugas sebagai ketua sampai ditetapkan Ketua definitif,” katanya di depan puluhan koleganya di parlemen.

Ia lanjutkan, terkait pergantian dirinya itu sudah dibahas dalam internal partai, sebagai anak partai dirinya tidak perlu menanyakan mengapa, kenapa, karena itu sudah hak prerogatif pimpinan partai.

“hari ini saya dicabut, saya pikir ini biasa, saya akan terima dengan lapang dada, selanjutnya saya akan menyesuaikan dengan status saya setelah diberhentikan, berarti sebagai anggota biasa, artinya. Mulai hari ini setelah diberhentikan, saya tidak lagi menjalankan tugas sebagai Ketua DPRA. Proses administrasi segala macam akan dilimpahkan kepada wakil pimpinan yang lain,” ujar Tgk. Muhar.

Dalam kesempatan itu, politikus muda yang maju ke DPR RI Dapil Aceh II melalui Partai NasDem, mengatakan semoga proses administrasi di Kemendagri bisa berlangsung cepat. Agar proses pengesahan APBA 2019 tidak terganggu.

“Mudah-mudahan rencana pengesahan pada 30 November 2018 tidak molor, tidak terganggu dengan pergeseran ini, karena pimpinan kolektif kolegial. Mudah-mudahan sinergitas antara pimpinan dengan anggota akan terus dapat dibangun,” imbuhnya.

Editor: Muhajir Juli