[Lipsus] Aceh Masih Betah Saja Sebagai Provinsi dengan Pengangguran Terbanyak

ACEHTREND. COM, Banda Aceh – Aceh terus berjuang menurunkan angka pengangguran. Berhasil turun sedikit, sayangnya secara nasional Aceh masih menjadi salah satu dari 10 provinsi dengan angka pengangguran terbanyak.

Secara nasional, posisi Aceh berada di urutan ke-7 dari 10 provinsi yang diklaim Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat masih memiliki angka pengangguran terbanyak.

Berikut daftar 10 provinsi dengan angka pengangguran terbanyak:
1. Banten (8,52 persen)
2. Jawa Barat (8,17 persen)
3. Maluku (7,27 persen)
4. Kepulauan Riau (7,12 persen)
5. Sulawesi Utara (6,86 persen)
6. Kalimantan Timur (6,60 persen)
7. Aceh (6,36 persen)
8. Papua Barat (6,30 persen)
9. DKI Jakarta (6,24 persen)
10. Riau (6,20 persen)

Data itu disampaikan Kepala BPS Pusat Suhariyanto di Gedung BPS, Senin (5/11/2018) kemarin.

Namun, jika dicermati dari angka pengangguran terbuka Aceh sebelumnya, memang terjadi koreksi 0,19 persen.

Untuk diketahui, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Aceh pada Februari 2018 mencapai 6,55 persen, lebih rendah 0,84 persen dari TPT Fe­bruari 2017 sebesar 7,39 persen dan lebih rendah 0,02 persen dari TPT bulan Agustus 2017 yang mencapai 6,57 persen.

Secara nasional, menurut BPS Pusat tingkat pengangguran pada Agustus 2018 atau data terakhir yang dirilis sebanyak 7 juta orang, dan yang paling banyak menganggur justru dari lulusan SMK, mencapai 11,24 persen, disusul SMA, 7,95 persen.

Sementara itu tingkat pengangguran terbuka di perkotaan tercatat menurun dari 6,79 persen menjadi 6,45 persen. Meski demikian, tingkat pengangguran terbuka di pedesaan justru tercatat naik.

Data otoritas statistik menunjukkan, tingkat pengangguran terbuka di pedesaan pada Agustus 2018 mencapai 4,04 persen, atau naik tipis dari periode sama tahun lalu mencapai 4,01persen.

Rustam Effendi menyebut pengurangan pengangguran di Aceh hanya 0,19 persen jelas sangat lamban. Pengurangan jumlah mereka yang menganggur di Aceh dinilai kurang signifikan atau masih minim jika dikaitkan dengan jumlah anggaran pembangunan yang dimiliki provinsi ini.

“Jumlah orang yang menganggur hanya berkurang sebanyak 0,19 persen. Ini jauh di bawah tambahan anggaran pembangunan, khususnya kucuran dana otsus yang rata-rata sekitar 7,0 persen per tahunnya, sejak awal diterima (Tahun 2008) hingga tahun kesebelas (2018),” kata Rustam Effendi.

Apa sebabnya, dan apa jalan keluar agar Aceh mengakhiri kebetahan menjadi salah satu provinsi dengan angka pengangguran terbanyak? Ikuti ulasan Pakar Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Rustam Effendi di aceHTrend. []