16 Nelayan Aceh Ditahan Otoritas Myanmar

Ilustrasi kapal nelayan berbendera Indonesia.

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Otoritas Myanmar menahan sebuah kapal nelayan berbendera Indonesia. Mereka juga menahan awak kapal yang diduga berasal dari Aceh.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Cut Yusminar, saat dikonfirmasi aceHTrend sore tadi mengatakan, kabar itu diterima pihaknya dari Panglima Laot Idi Rayek pada 6 November 2018 terkait penangkapan nelayan Aceh di perbatasan Myanmar.

“Pada hari Selasa, 6 November pukul 08.00 pagi mereka kehilangan kontak tidak dapat dihubungi,” kata Cut Yusminar, di Banda Aceh, Jumat (09/11/18).

Namun pada tanggal 07 November 2018, KBRI Yangon menerima informasi tentang penahanan sebuah kapal nelayan berbendera Indonesia oleh AL Myanmar di Kawthaung, Provinsi Tanintharyi. Sekitar 850 kilometer dari Yangon.

“Ini berada di Myanmar bagian selatan. Kapal tersebut diawaki oleh 16 ABK dan diduga kuat berasal dari Aceh,” ujarnya.

Menurutnya penahanan kapal sejauh ini karena masalah imigrasi (masuk ke perairan Myanmar tanpa izin). Dugaan adanya satu ABK meninggal masih simpang siur dan belum dapat dikonfirmasi oleh otoritas Myanmar.

KBRI Yangon telah melakukan komunikasi dengan Kepala Polair Kawthaung, yang membenarkan penahanan kapal dan awaknya namun belum memberikan informasi secara detail. KBRI juga telah melakukan koordinasi dengan pihak Kepolisian Laut Myanmar dan Kementerian Luar Negeri Myanmar untuk mendapatkan akses kekonsuleran.

“Hari ini (9/11) KBRI telah menyampaikan nota verbal ke Kemlu Myanmar. Saat ini 16 ABK ditahan di Kantor Polisi Kawthaung,” tambahnya.

Sambil menunggu konfirmasi dari Kemlu Myanmar, hari ini rencananya, KBRI Yangon akan berangkat menuju Kota Kawthun melalui jalan darat perjalan ditempuh sekitar 21 jam.

“Transportasi ini ditempuh mengingat saat ini Myanmar sedang peak season turisme, jadi tiket pesawat ke daerah tujuan wisata termasuk kawthaung umumnya sudah yang sold out. Diperkirakan pertemuan dengan 16 ABK baru akan berlangsung besok sore,” tuturnya.[]

Editor : Ihan Nurdin