Waled Husaini & Teguran Seorang Ayah

Oleh Muhajir Juli*)

Salah satu kegundahan cendekia Islam, termasuk di dalamnya adalah ulama, karena semakin jauhnya umat dari Allah sebagai Rabb sekalian alam. Umat Islam yang kian hedonis, mengabaikan yaumil qiyamah sebagai tujuan akhir, hidup dalam centang perenang sekedar berorientasi pada dunia,telah membuat beberapa agamawan resah dan memilih terjun langsung ke politik praktis.

Dalam 10 tahun terakhir, sudah beberapa ulama memilih bertarung langsung di event pilkada, seperti Abi Lampisang pada tahun 2012, kemudian Teungku H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tusop) yang ambil bagian pada pilkada Bireuen 2017, serta Teungku H. Husaini A. Wahab (Waled Husaini) di Aceh Besar dan Teungku Sarkawi di Bener Meriah. Dua nama terakhir berhasil menjadi wakil bupati di daerah masing-masing.

Waled Husaini, setidaknya sudah tiga kali membuat aksi yang menyita perhatian publik, yang terakhir adalah aksi pukul meja kala melakukan seruan langsung ke berbagai warung di Kota Jantho (ibukota Aceh Besar) Kamis (8/11/2018).

Aksi yang dilakukan bertepatan dengan zuhur itu menarik perhatian publik, bukan saja di Aceh, tapi juga seantero Indonesia. Video aksi Waled yang memarahi siapa saja yang masih duduk atau beraktivitas kala azan berkumandang, viral di internet. Link berita di mass media pun dibaca dan dibagikan oleh banyak orang.

Oleh orang luar, aksi Waled Husaini dikecam dengan berbagai komentar miring, bahkan banyak yang menyampaikan kekesalan dengan kalimat tak patut. Tapi tidak sedikit pula yang memberikan dukungan moral, mereka menilai apa yang dilakukan oleh Waled adalah sesuatu yang wajar.

Sebagai putra Aceh sekaligus yang sepakat dengan penerapan Syariat Islam di Aceh, saya melihat aksi Waled sebagai sesuatu yang wajar dan patut. Apalagi “sweeping” itu dilakukan setelah sebelumnya telah disampaikan seruan tentang hal itu. Ini menurut saya sebagai wujud konsistensi yang bersangkutan terhadap peraturan yang telah dibuat, ini bentuk komitmen menjaga marwah seruan, agar tidak sekedar produk politik tanpa isi.

Sebagai Wakil Bupati Aceh Besar, sekaligus ulama, Waled punya beban ganda sekaligus kewenangan yang memungkinkan. Ini waktunya ia bukan sekedar menyeru, sekaligus punya kewenangan menegakkan seruan, apalagi dilakukan dengan cara penuh jiwa kebapakan yang peduli pada anggota keluarganya.

Saya berulang kali menonton video itu, nyaris tidak ada yang keliru. Waled melakukan aksi laiknya seorang ayah yang memarahi anaknya, karena sang anak telah abai terhadap peraturan yang dibuat sang ayah.

Dengan repetan ala seorang ayah, sembari beberapa kali memukul meja dengan kayu di tangan, Waled memberikan teguran serta repetan yang saya nilai sebagai bentuk kasih sayang, ikhlas dan tentu saja penuh kasih.

Lihat saja, dia hanya meupeppep, sekedar saja sembari menyeru agar siapa saja yang sedang berada di sana agar segera menunaikan shalat, shalat yang menjadi kewajiban setiap muslim yang dalam kondisi apapun tidak boleh ditinggalkan.

Di raut wajah yang telah menua itu, saya membaca kegundahan sang ulama, tentang kondisi umat saat ini, yang kian abai dari terhadap kewajiban utama.

Tindakan Waled saya lihat sebagai tanggung jawab umara terhadap rakyatnya, tentang sebuah wujud nyata dari visi yang pernah diajukan kala maju mendampingi Mawardi Ali.

Dengan aksi yang mengguncang jagad semesta, dengan repetan khas seorang ayah, tak satu orang pun kena timpuk. Tak satu piringpun pecah.

***
Dalam sebuah diskusi terkait tentang itu, saya mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Waled Husaini seharusnya dilakukan oleh ayah di rumah masing-masing. Kenapa banyak yang kaget? Mungkin di rumah-rumah, repetan itu sudah tak terdengar lagi.

Saya menemukan sosok ayah di Waled Husaini, itulah ciri khas seorang ayah, yang marah kala anak-anaknya mengabaikan shalat, ayah yang gundah karena shalat tidak lagi diyakini sebagai fardhu ain, bahkan tak lagi dianggap sebagai sunat muakkad.

Sebagai ayah umat, Waled tentu memiliki keterbatasan. Ia hanya bisa menyeru dan menyeru. Belum ada aturan hukum di negeri ini yang bisa menghukum siapa saja yang mengabaikan shalat. Tapi, apa yang dilakukan oleh Waled merupakan sesuatu yang penting dan menarik. Bilapun aksi itu dikecam, tapi kita menjadi sadar bahwa kita telah terlalu lama kehilangan sosok ayah di rumah masing-masing. Kita telah terlalu lama lupa bahwa kita tidak lagi menjalankan tugas sebagai seorang ayah.

Semoga Allah terus memberikan kesehatan untuk Waled Husaini.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq.

*)Penulis adalah Pemimpin Redaksi aceHTrend. Kader Ansor Propinsi Aceh.