Kongres KNPI: Momentum dan Ultimatum

Oleh Nasrul Hadi*)

Ditetapkannya Provinsi Aceh sebagai tuan rumah Kongres Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) ke XV yang akan dilaksanakan pada 6-9 Desember 2018 seharusnya kita apresiasi, tak kecuali oleh Pemerintah Aceh karena kongres tersebut menjadi ajang besar kedaulatan pemuda yang memiliki tingkat pemegang kekuasaan tertinggi. Selain itu Kongres ini menjadi momentum mempromosi Aceh di mata Nasional dari berbagai aspek, namun ajang ini juga harus ada ultimatum pemerintah Aceh mendukung sepenuhnya agar kongres KNPI di Aceh bisa terlaksana sebagaimana mestinya.

Ajang tiga tahunan ini sebenarnya yang dimimpi-mimpikan oleh setiap daerah untuk menjadikan daerahnya sebagai tuan rumah. Bagaimana tidak, KNPI merupakan organisasi besar yang lahir tanggal 23 Juli 1973 silam di Jakarta menjadi satu-satunya tempat berhimpunnya pemuda Indonesia dari berbagai organisasi dan daerah, di mana KNPI bersifat terbuka dan independen. Sesuai anggaran dasarnya pada pasal 7 KNPI memiliki fungsi yang jelas yaitu, perekat kemajemukan pemuda Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara guna mempercepat usaha pencapaian tujuan nasional.

KNPI juga sebagai laboratorium kader pemuda Indonesia dalam rangka mengembangkan potensi pemuda yang berwawasan kebangsaan, mandiri dan bertanggung jawab, guna terjaminnya proses regenerasi dan kesinambungan masa depan bangsa. Sebagai wadah perjuangan pemuda Indonesia dalam rangka peningkatan derajat, taraf hidup, status dan kesejahteraan sosial, guna mempercepat terciptanya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Ajang pemuda tidak boleh dianggap remeh oleh pemerintah. Kalau kita membaca sejarah, bagaimanapun pemuda memiliki peran besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Seperti yang termaktub dalam pembukaan Anggaran Dasar (AD) KNPI disebutkan bahwasanya dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, generasi muda yang memiliki dinamika, militansi dan idealisme; menonjol peranan dan kepoloporannya dalam mencetuskan ide-ide pembaharuan, seperti yang dibuktikan pada tahun 1908 dengan kebangkitan nasional, tahun 1928 lahirnya sumpah pemuda, tahun 1945 dengan usaha merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pemuda telah membuktikan memiliki rasa nasionalisme dan semangat juang yang besar dalam memertahankan NKRI, hal ini membuktikan pemuda taat UUD 1945 pasal 30 ayat 1 yang disebutkan tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.

Kongres KNPI di Aceh sebenarnya moment langka yang harus dimanfaatkan, karena tidak mudah untuk memperjuangkan kongres pemuda di Aceh. Sudah dipercayakan Aceh sebagai tuan rumah KNPI itu artinya stigma Aceh sebagai daerah rawan konflik sudah mulai menghilang. Aceh kini sudah aman, damai dan tenteram untuk pelaksanaan even nasional. Harus Kita buktikan!

Banyak hal positif yang bisa didapatkan bagi Aceh apabila perhelatan ini di laksanakan di tanah rencong. Baik di segi promosi, yaitu promosi syariat Islam; promosi adat istiadat dan budaya Aceh; promosi pariwisata, dll. Selain itu ramainya peserta yang akan hadir delagasi dari berbagai organisasi kepemudaan dan DPD KNPI setiap daerah di seluruh Indonesia, ditambah lagi rombongan pendukung diprediksi bisa mencapai 10.000 pemuda yang hadir di Aceh.

Ramainya yang hadir tentu banyak perputaran uang di Aceh yang mencapai puluhan milyar rupiah. Hal ini berdampak positif terhadap perekonomian masyakat Aceh. Pelaku usaha di bidang transportasi; penginapan; kuliner; pariwisata dan lain-lain akan mendapat keuntungan. Kemudian, promosi Aceh secara gratis pun bisa didapatkan melalui pemberitaan media dan postingan sosial media oleh peserta.

Ini tentu hal menarik menjadikan Aceh trending topik positif dan meringankan beban pemerintah dalam urusan promosi daerah. Tentu, apabila ajang ini terlaksana maka juga sudah mendukung tercapainya program Aceh Hebat yaitu Aceh teuga yang salah satunya perhelatan kongres Pemuda.

Pemerintah Aceh dalam hal ini Dinas Pemuda dan Olahraga seharusnya menyadari hal ini, dan mendukung penuh terlaksananya kongres KNPI di Aceh. Polemik di media antara Panitia Kongres KNPI dan kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Aceh harus segera disudahi dan dicari solusinya. Mengingat Kongres pun yang tinggal menunggu hari. Persoalan anggaran yang dialokasikan hampir mencapai Rp 10 miliar dari APBA seharusnya sudah clear dan segera dicairkan mengingat acara yang sudah begitu dekat. Asalkan sesuai aturan dan mekanismenya.

Di sinilah dibutuhkan komitmen Pemerintah Aceh, harus mengultimatum mendukung kongres KNPI terlaksana sesuai harapan. Memudahkan proses pencairan dana yang sudah dianggarkan dan mendukung fasiltas-fasilitas yang memungkinkan. Jangan sampai akibat dari telatnya pencairan anggaran, bisa menghambat terlaksananya Kongres.

Oleh karenanya Kongres KNPI di Aceh harus didukung oleh semua kalangan, termasuk oleh Pemerintah Aceh, bagaimanapun terdapat simbiosis mutualisme antara pemuda dengan Aceh berkat terlaksananya kongres. Kita meski berfikir positif, banyak keuntungan dan nilai yang bisa didapatkan. Semoga saja kongres KNPI ke XV di Aceh sukses terlaksana.

*)Penulis Ketua Biro Organisasi DPD KNPI Banda Aceh.