Angka Kematian Ibu di Aceh Masih Tinggi

Ilustrasi ibu hamil. @liberationnews.org

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekolgi (kebidanan dan penyakit kandungan) RS Chik Ditiro Sigli, dr. Arika Aboebakar Sp.OG mengatakan, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi. Berdasarkan hasil survei demografi dan kesehatan di Indonesia kata dr. Arika, pada tahun 2015 AKI di Indonesia mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tiga kali lipat lebih tinggi dari pada target MDGs Indonesia 102 per 100.000.

Diketahui jumlah kematian ibu di Aceh thn 2017 sebesar 148 per 100.000 kelahiran hidup, khususnya di Kabupaten Pidie AKI pada tahun 2017 mencapai jumlah 15 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan di tahun 2018 data terakhir sampai bulan November 2018 tercatat 13 AKI per 100.000 kelahiran hidup.

“Angka Kematian Ibu di Aceh masih tinggi walaupun ada penurunan angka dari tahun sebelumnya pada tahun 2016 jumlah kematian ibu di Aceh mencapai 169 kasus dan pada tahun 2017 dengan jumlah 148 kasus,” kata dr. Arika Aboebakar saat berbincang dengan aceHTrend di Banda Aceh pada Senin (4/11/2018).

Faktor–faktor yang mempengaruhi kematian ibu antara lain karena faktor medik seperti usia ibu pada waktu ibu hamil, jumlah anak, dan jarak antara kehamilan. Selain itu, beberapa komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas merupakan penyebab langsung kematian ibu, yaitu pendarahan pervaginam, khususnya pada kehamilan trisemester ke-3, persalinan dan pascasalin, infeksi, preeklamsia, hipertensi dalam kehamilan, komplikasi akibat partus lama, dan trauma persalinan.

Sedangkan faktor nonmedik antara lain, yaitu kurangnya kesadaran ibu untuk mendapatkan pelayanan antenatal, terbatasnya pengetahuan ibu tentang bahaya kehamilan risiko tinggi, ketidakberdayaan sebagian besar ibu hamil di pedesaan dalam pengambilan keputusan untuk dirujuk, ketidakmampuan sebagian ibu hamil dalam jarak jauh sehingga memerlukan transportasi saat dirujuk ke rumah sakit rujukan.

Berdasarkan laporan tahunan RSUD Chik Ditiro Sigli dari tahun 2016, 2017, dan 2018 kasus preeklamsia di rumah sakit tersebut terus meningkat. Sementara preeklamsia atau keracunan kehamilan ditandai dengan gejala meningkatnya tekanan darah dan kadar protein urine yang positif.

“Bila gejala seperti ini terlambat diatasi bisa mengakibatkan terjadinya kejang yang berdampak pada penurunan tingkat kesadaran dan meninggal dunia.”

Hal ini dapat dilakukan pencegahan preeklampsia melalui penguatan asuhan antenatal (pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh dokter atau bidan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik dari ibu hamil) yang terfokus, antara lain dengan mendeteksi kemungkinan risiko dan memberikan edukasi pengenalan dini tanda bahaya kehamilan.

Risiko perdarahan pascasalin bisa diidentifikasi dengan kondisi anak besar, kehamilan kembar, kehamilan sering, riwayat persalinan secara section saeraria, partus lama, partus macet, dan ibu hamil dengan anemia. Kondisi ini bisa diminimalisir dengan memperkuat pelayanan antenatal meliputi pemeriksaan fisik dengan standar 10 ANC (Ante Natal Care) yaitu:

1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan.
2. Pemeriksaan tekanan darah (mengantisipasi terjadi pre-eklampsia dan eklampsia).
3. Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas – LILA).
4. Pemeriksaan puncak rahim (tinggi fundus uteri).
5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan.
7. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan untuk mencegah anemia.
8. Test laboratorium (cek haemoglobin, protein urine, glukosa urine).
9. Tatalaksana kasus (Penyuluhan atau pengobatan).
10. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB paska persalinan.[]

KOMENTAR FACEBOOK