Petani Labuhan Haji Barat Tak Diizinkan Beli Solar di SPBU

Pertemuan di Koramil 10/Labar pada Sabtu, 10 November 2018 @aceHTrend/Masrian Mizani

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Petani di Kecamatan Labuhan Haji Barat (Labar) dikabarkan tidak diperbolehkan membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar oleh pihak SPBU Kecamatan setempat.

Hal ini memicu sejumlah Keujruen Blang di Kecamatan tersebut menyambangi kantor Koramil 10/Labar untuk menyampaikan aspirasi mereka. Akibatnya, petani terkendala pemotongan dan pembajakan sawah.

Pj Danramil 10/Labar, Pelda Rafli Armazi saat menerima para keujruen dan kelompok tani di kantornya menyampaikan, pihaknya selaku Babinsa yang ditugaskan mendampingi para kelompok tani selama ini sudah berusaha untuk mendapatkan kebutuhan minyak tersebut, namun bila terjadi penolakan dari pihak SPBU, itu di luar wewenang pihaknya.

“Selama ini kami selaku pendamping kelompok tani (Babinsa) sudah berusaha mendapatkan minyak. Dan selama ini sudah kita dapatkan dengan segala usaha. Kalau sekarang mungkin pihak SPBU sudah mempertimbangkan segala kebijakan sehingga tidak memberikan minyak tersebut sehingga kami (Babinsa) menyerahkan segala sesuatu kepada para keujruen dan para kelompok tani dalam menangani hal tersebut,” ungkapnya pada Sabtu (10/11/2018).

Pelda Rafli menyebutkan, selama ini Koramil 10/Labar selalu berupaya untuk mengatasi kepentingan para petani. Bahkan pihaknya sudah berusaha dengan mengeluarkan rekomendasi tentang keperluan minyak untuk para petani. Namun usaha tersebut tidak berjalan lama sehingga menyebabkan tersendatnya kerja para petani.

“Oleh karena itu kami selaku pedamping para petani, kami serahkan segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan kepada bapak-bapak sekalian,” ujarnya.

Sementara itu, Insafudin (48) selaku keujruen blang Gampong Kuta Trieng mengaku, pihaknya merasa kecewa dengan pihak SPBU yang tidak memberikan minyak untuk keperluan kerja para petani.

“Kami sadar dan mengikuti apa yang sudah menjadi program pemerintah tentang ketahanan pangan demi terwujudnya kedaulatan pangan Indonesia, sehingga apa saja yang disarankan oleh pemerintah dalam salah satu bentuk tanam serentak juga kami ikuti,” keluhnya.

Sekarang, tambahnya, masih banyak lahan yang belum selesai panen, sehingga akibat tidak diberikan minyak tersebut, petani setempat sangat dirugikan karena bisa mengurangi hasil panen akibat banyak padi yang rontok dari batangnya.

“Kalau begini terus berlanjut, dan kami tidak mendapat minyak untuk keperluan kerja, maka kami bisa saja ke depan tidak mengikuti lagi apa saja yang sudah menjadi program pemerintah terutama di bidang ketahan pangan,” ancamnya.

“Dalam waktu dua hari ini kami sangat membutuhkan minyak solar, dua atau tiga jeriken saja cukup. Karena tidak bisa ditunda lagi untuk panen, kondisi cuaca pun hujan terus,” jelasnya.

Menurut informasi yang diterima awak media, pertemuan singkat di Koramil 10/Labar itu juga dihadiri pihak SPBU Labuhan Haji, M. Nasir, selaku manajer SPBU.

Pada kesempatan itu, M. Nasir atas nama pribadi meminta maaf kepada para keujruen dan kelompok tani, karena kapasitasnya sebagai manajer tidak diberi wewenang mengambil suatu kebijakan terutama menyangkut keperluan minyak para petani.

“Selama ini sudah kita laksanakan kerja sama dengan pihak Babinsa, bisa mengambil minyak untuk keperluan para petani dengan menggunakan rekomendasi dari Pj Danramil 10/Labar,” ujarnya.

Namun sekarang, kata M Nasir, pemilik usaha SPBU sudah melarang kebijakan tersebut, itu semua di luar wewenang dirinya.

M. Nasir juga menyarankan kepada keujruen blang dan kelompok tani agar mencoba menjumpai pemilik usaha SPBU Labuhan Haji, Muksalmina Ali dalam rangka memperjuangkan supaya bisa mendapat minyak untuk keperluan para petani.

“Coba saja langsung jumpai pemilik SPBU Pak Muksalmina Ali, kebetulan saat ini ada di rumahnya depan SPBU Labar,” saran M Nasir.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK