Telur Terbang di Washington, DC

MEMASUKI bulan September, udara sudah mulai menurun menjadi dingin. Namun karena di penghujung musim panas dan awal musim gugur, keadaan masih nyaman untuk melakukan kegiatan outdoor. Daun-daun memerah dan menguning.

Pukul 14.10, tanggal 15 September 2003, tiba-tiba kami mendapat sebuah pesan email. Dikirim dari Washington, DC oleh ETAN, sebuah NGO yang banyak berjuang untuk membela Hak Asasi Manusia di Timor Leste dan Indonesia.

ETAN akan menggelar demonstrasi damai di Washington, DC pada tanggal 18 September.

“Senior Indonesian Minister Susilo Bambang Yudhoyono will be the featured speaker at the annual dinner of the U.S.-Indonesia Society. Join us to protest the Aceh, East Timor, and Papua policies of Yudhoyono and the government and military he represents”. Demikian diantara isi email tersebut.

Menteri senior Indonesia, saat itu sebagai menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Susilo Bambang Yudhoyono, akan menjadi pembicara utama pada pertemuan makan malam tahunan US – Indonesia.

ETAN mengajak untuk bergabung untuk melakukan unjuk rasa sebagai protes atas kebijakan SBY yang mewakili pemerintah dan militer terhadap Aceh, Timor Leste dan Papua.

Saat itu, pemerintah sedang menerapkan status Darurat Militer di Aceh. Tindakan brutal ini, menurut beberapa NGO di Jakarta, di awal tiga bulan pertama operasi telah terjadi 942 kasus pelanggaran HAM terhadap 2229 korban.

Tanggal 16 September, seorang kawan yang sedang kuliah di Fairfax dan bermukim di sekitaran Washington, DC juga mengingatkan kembali akan demo itu. Kami segera menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat Aceh yang ada.

Saat hari H tiba, puluhan keluarga Aceh yang bermukim di Harrisburg dan Philadelphia di Pennsylvania, Baltimore dan sekitarnya di Maryland, dan yang ada di seputaran Washington, DC dan Virginia semua merapat ke ibukota Amerika Serikat ini.

Sekira pukul 6 sore kami sudah standby di depan Willard Inter-Continental Hotel, tempat acara. Berada di 1401 Pennsylvania Avenue, hanya sepelemparan batu jaraknya dari White House, Gedung Putih, kediaman presiden Amerika Serikat.

Ada sekitar 50 masyarakat Aceh dan lebih kurang 30 aktifis ETAN yang berhadir.

Sambil menunggu semua peserta datang, kami mengobrol dengan polisi yang bertugas mengamankan demo. Salah seorang dari mereka sangat tertarik dengan cerita-cerita kami tentang kekerasan di Aceh. Dia simpati sehingga banyak bertanya.

Sekira pukul 6.45 sore, seorang gadis cantik dengan pakaian yang sangat rapi, bergaun pesta mendatangi. “Boleh saya minta flyernya, sudah bisa masuk ke dalam, acara mau dimulai”, katanya.

Pertama saya pangling melihat gadis itu, saya kira tamu undangan acara makan malam itu. Rupanya dia salah seorang mahasiswi yang sedang magang (intern) di kantor ETAN. Padahal sering bertemu di berbagai acara, tetapi sore itu pakaiannya berbeda.

Memang disetting agar gadis itu berpakaian rapi dengan gaun malam, seolah-olah undangan pada acara makan malam itu. Saya langsung serahkan flyer yang memang sudah disiapkan. Kemudian dia masuk ke dalam hotel.

Dari luar hotel, di balik kaca kami melihat ke dalam lobby. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan memasuki hotel. Gadis intern yang kami kirim ke dalam mulai beraksi. Berlagak seolah panitia acara, dia sibuk membagikan flyer kepada tamu yang berdatangan. Tamu itu sebagian kaget, sebab judulnya acara makan malam US – Indonesia, tetapi flyer yang dibagikan justru berisi tentang pelanggaran HAM yang dilakukan oleh militer di Aceh, Papua, dan Timor Leste.

Karena belum ada tanda-tanda SBY sampai ke tempat acara, saya mengajak tiga orang kawan untuk mengecek pintu belakang hotel. Pintu belakang juga sepi, hanya ada aktifitas loading biasa.

Kemudian kami kembali ke pintu depan. Rupanya aksi gadis intern di lobby hotel sudah dicium oleh security, ada sepasang tamu undangan yang melapor ke panitia karena penasaran, kenapa flyer yang dibagikan itu justru menghujat Indonesia. Akhirnya gadis itu dikeluarkan dan bergabung dengan kami.

Saat kami sedang protes sambil menunggu kehadiran SBY, tiba-tiba ada tiga orang yang mau masuk ke dalam hotel. Seorang bertubuh tinggi besar. Mirip dengan SBY dan dua lainnya seperti pengawal.

“Nyoe nyan jih?”, saya mendengar seorang senior yang lama bermukim di Malaysia sebelum ke Amerika Serikat bertanya kepada kawan di sebelahnya.

“Sang nyoe nyan”, jawab kawan di sebelahnya. Mungkin iya, itu dia SBY.

Tiba-tiba ada yang berteriak, “nyaaaaann jiiih”, dengan sangat nyaring.

Itu dia orangnya! Demikian teriakan itu.

Dalam beberapa detik setelah teriakan itu, puluhan telur busuk beterbangan mengenai orang yang bertubuh besar itu. Dia dan dua orang sebelahnya langsung pontang-panting lari masuk ke dalam lobby hotel.

Dari balik kaca, orang itu berdiri mengarah kepada kami sambil mengejek, setelah kami perhatikan, rupanya bukan SBY.

Kemudian hari, saya dengar itu adalah salah seorang diplomat kemlu yang berpostur mirip SBY sengaja masuk lewat pintu depan untuk mengecoh para demonstran.

Setelah kejadian itu, seorang polisi yang sebelumnya standby di mobil patroli untuk mengawal kami, turun dari mobilnya. Dia berbisik kepada saya, “sebentar lagi dari radio (dispatch) akan diperintahkan untuk menangkap yang melempar telur tadi. Sebelum ada perintah itu, bagusnya semua yang melempar, pergi saja dari sini. Nanti saya pura-pura tidak melihat”, demikian pesannya.

Karena waktu demo sesuai izin pun sudah habis, kami kemudian bubar. Kepada yang melempar telur saya sampaikan pesan polisi tadi. Akhirnya malam itu, kami menjauhi kawasan hotel dan mencari kedai kopi di seputaran ibukota itu.

Di kedai kopi kami saling bertanya, siapa yang memberikan ide kejadian telur terbang itu, sebab memang tidak ada dalam rencana. Semua tidak ada yang mengaku. Tetapi kami sama-sama tahu siapa orangnya, karena asal kami singgung kejadian itu, dia duluan yang tertawa.

Alhamdulillah pada pukul 00.00 tanggal 19 Mei 2005, presiden SBY resmi menghapus Darurat Sipil di Aceh, setelah sebelumnya juga menetapkan Darurat Militer. Walaupun sudah berstatus Tertib Sipil, tetapi saat itu TNI/Polri non-organik masih beroperasi di Aceh. Penarikan dilakukan setelah penandatangan MoU di Helsinki.

Semoga darurat ini dan itu tidak terulang lagi di Aceh. Semoga Pemerintah tidak seperti keledai, terperosok ke dalam sebuah lubang berkali-kali. []