60% Hoaks Mengangkat Isu SARA

@aceHTrend/Hendra Keumala

ACEHTREND. COM, Banda Aceh – Kabag Hukum Kerja Sama Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia,
Medio Decci Lustarini, menyarankan bagi penguna media sosial agar melakukan penyaringan terhadap informasi yang diterimanya sebelum menyebarkan informasi tersebut kepada orang lain.

Menurut Decci Lestari hal tersebut penting dilakukan oleh pengguna media sosial supaya mereka terhindar dari berita hoaks.

Decci menjelaskan, sampai dengan November 2018 tercatat sebanyak 844 berita hoaks yang telah diklarifikasi, itu belum masuk jumlah yang belum diklarifikasi. Dari berita hoaks ini dampak yang paling besar adalah mengarah pada disintegrasi bangsa

“Karena hampir 50 persen sampai 60 persen dari berita hoaks itu sifatnya SARA, yang menyerang kepada isu agama, suku, ras atau menyerang kedaulatan dari negara Indonesia itu sendiri,” kata Decci dalam Dialog dan Literasi Media dengan tema Komunikasi Sehat Indonesia Bersahabat di Balai Kota Banda Aceh, Senin (12/11/18).

Menjelang pilpres, Kominfo mengupayakan untuk menyaring berita-berita hoaks dengan melakukan edukasi dan literasi media. Ia berharap masyarakat juga bisa menyaring informasi yang dikenal dengan saring sebelum sharing.

“Cara mengetahui berita hoaks dengan mengunakan Google kita bisa mengecek foto atau kepala berita informasi yang beredar. Atau dengan mengunaka TurnBackHoax.id,” ujarnnya.

Dalam hal ini Kominfo sendiri telah mengeluarkan rilis secara berkala tentang berita-berita hoaks yang muncul di media sosial yang semakin banyak terjadi.

Berita-berita hoaks tersebut banyak disebar melalui Whatsapp atau Whatsapp grup yang menduduki urutan nomor dua penyebaran paling cepat, setelah Twitter dan Facebook.

Ia mengimbau masyarakat untuk saring sebelum shared informasi yang diterima, serta mengupayakan membaca berita yang didapat untuk tabayyun terlebih dulu apakah berita tersebut benar dan bermanfaat untuk disebarkan.

“Kalau benar tapi tidak bermamfaat tidak perlu di-shared kepada orang lain apalagi tidak benar itu sebaiknya tidak perlu di-shared kepada orang lain,” tutur Decci.[]

Editor : Ihan Nurdin