Unsyiah dan Alumni Nyatakan Siap Bantu Gampong untuk Wujudkan Perubahan

ACEHTREND. COM, Banda Aceh – Dana Desa yang disalurkan ke Aceh selama empat tahun (2015-2018) mencapai 14,8 triliun.

Sayangnya, dana desa ini belum menjadi pemicu turunnya angka kemiskinan dan pengangguran di Aceh.

Posisi Aceh masih bertahan sebagai salah satu provinsi termiskin dan termasuk juga dalam 10 provinsi terbanyak pengangguran di Indonesia.

“Dana desa harusnya menjadi alasan penggerak bagi terjadinya perubahan di gampong-gampong, jika belum juga terjadi pasti ada masalah yang perlu dideteksi segera, jangan sampai anggaran gampong sia-sia, ” kata Prof Samsul Rizal, Rektor Universitas Syiah Kuala, Senin (12/11) pagi.

Sebagaimana diketahui, menurut laporan Pemerintah Aceh pada acara Rapat Koordinasi Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakata Desa se-Aceh, di Amel Convention, Kota Banda Aceh, Selasa (6/11), terungkap bahwa dari tahub ke tahun dana desa meningkat.

Pada saat pertama sekali disalurkan pada tahun 2015 total dana desa untuk Aceh senilai Rp 1,7 triliun. Bila dibagi rata dengan jumlah desa di Aceh saat ini sebanyak 6.497 desa, maka setiap desa menerima Rp 263 juta.

Pada tahun 2016 jumlah dana desa yang dialokasikan untuk gampong-gampong di Aceh meningkat 100 persen lebih, menjadi Rp 3,82 triliun. Bila dibagi rata, setiap desa menerima Rp 591 juta.

Tahun 2017 jumlahnya bertambah lagi menjadi Rp 4,98 triliun dan bila dibagi rata setiap desa menerima Rp 753 juta.

Tahun tahun 2018 ini jumlahnya sedikit turun menjadi Rp 4,45 triliun yang penyalurannya dilakukan secara bertahap.

Rektor Unsyiah mengatakan, alasan perubahan baru terjadi manakala setiap gampong memiliki perencanaan yang dibangun di atas data dan fakta (evident based planning) plus APBG dilakukan dengan pendekatan money follow program.

“Agar hadir RPJM dan APBG Gampong yang baik dan benar maka sangat perlu dilakukan pemetaan potensi dan masalah gampong, ” katanya.

Rektor Unsyiah itu mengaku selalu dan senantiasa menghimbau kepala daerah untuk memanfaatkan jasa pengabdian masyarakat yang dimiliki perguruan tinggi.

“Ya, ini sudah beberapa kali saya tawarkan ke Bupati, dan minggu lalu saya juga sampaikan dalam sambutan manfaat dana desa di Aceh Timur, Kerjasama unsyiah dengan Kemendes,” tambah Samsul.

Rektor Unsyiah itu mengaku akan selalu siap memaksimalkan fungsi pengabdian masyarakat dan pelibatan alumni sebagai salah satu sumbangsih perguruan tinggi bagi ikut serta mendorong perubahan di Aceh langsung di gampong-gampong.

Dirinya yakin jika dana desa diperlakukan sebagai modal bagi mendorong perubahan maka akan dengan sendirinya hadir beragam kegiatan ekonomi di gampong sesuai potensi masing-masing gampong.

“Ya, Mudah-mudahan dengan dana desa yang melimpah akan ada perubahan yang signifikan gampung-gampong di Aceh, provinsi Aceh, ini, ” katanya.

Ketua IKA Unsyiah, Sulaiman Abda mengaku kesiapannya untuk membangun gampong bersama alumni Unsyiah. “Kita siap membantu jika gampong membutuhkan jasa pendampingan. Gampong wajib kita majukan, sebab jika gampong sejahtera, Indonesia sejahtera,” katanya. []

KOMENTAR FACEBOOK