[CERPEN]: Mimpi Buruk Baidah

ilustrasi

Oleh Rahmat Hidayat

Dekatlah lagi, akan kubacakan sebuah cerita padamu agar lekas terlelap.

***

Dengan disinari cahaya purnama, Zubaidah tampak berjalan tergopoh-gopoh memasuki pekarangan rumah Aceh yang hanya dipagari tanaman teh setinggi satu meter. Wajahnya tampak ketakutan. Ujung kain sarung cokelat lusuh berbatik sayap-sayap burung yang mulai tampak pudar, ditariknya selutut dengan kedua tangan. Sandal jepit di kedua kakinya yang tampak putus diikat tali rafia hitam, dari sepasang sandal tidak sejodoh itulah berasal bunyi kletak kletuk yang berhasil membangunkan ayah Baidah di tengah malam berangin kencang.

“Yah, Yah..Yah..!!!” teriak Baidah memanggil ayahnya.

Di dalam, terdengar krasak-krusuk ayah Baidah membuka pintu. “Ada apa Baidah? Kenapa berteriak malam-malam begini? Apa yang terjadi?” Tanya Ayah Baidah sembari tergesa-gesa menuruni tujuh anak tangga yang sama renta dengan ayahnya itu.

“Bang… Min yah, Bang Min belum kembali selarut ini.” Ayah Baidah terdiam, seakan dia tahu apa gerangan yang terjadi. Lelaki berbaju putih itu menarik napas dalam-dalam seraya menghelanya dengan panjang. “Haaa… Ayah pikir apa lah yang sudah terjadi padamu Baidah.. Baidah..” Baidah menangis sambil menghamburkan diri ke ayahnya.

Sudah sebulan lamanya Baidah punya kebiasaan aneh, dia sering bermimpi buruk dan berjalan menghampiri rumah ayahnya yang terpaut 30 meter dari rumahnya. Hal ini sebenarnya mulai terjadi sejak suaminya tidak pernah kembali ke rumah sejak pamit mencari ikan bace di hutan meuria yang berada di kawasan rawa berjarak 1 km dari belakang rumah mereka. Hutan meuria merupakan hutan yang dipenuhi pohon sagu. Di sana diketahui masyarakat banyak ikan bace. Tapi tidak ada yang berani masuk ke dalamnya, tak terkecuali pun hanya di pinggir hutan. Konon, masyarakat percaya ada Jen Pari menghuni pohon-pohon meuria seluas sepuluh kali lapangan bola itu.

Hantu yang ditakuti masyarakat setempat itu digambarkan secara turun temurun sewujud manusia yang punya sayap lalu terbang mengelilingi hutan di celah magrib. Warga percaya hutan yang berdesakan pohon sagu itu harus dijauhi meski sumber rezeki dari daunnya bisa dianyam menjadi atap rumah. Sagu dari pohon maupun ikan yang banyak di airnya akan membuat kaya siapa saja yang berani menantang kepercayaan terhadap Jen Pari.

Si Min dikenal warga laki-laki yang sangat pemberani, walaupun begitu, warga tidak pernah menemukan si Min saat menyisir hutan beramai-ramai selama tiga Jumaat.

Pagi itu sebelum pamit berangkat menuju hutan, dia berkata pada Baidah bahwa Jen Pari itu cuma akal-akalan Teungku biar pohon meuria tidak habis ditebang jadi umpan bebek.

“Jika Jen Pari memang ada, akan kupatahkan sayapnya untuk kupakai pulang padamu, tunggulah aku di rumah,” rayu si Min pada Baidah yang sudah mengizinkan dia pergi.

Saat itu juga si Min berjanji akan membawa pulang ikan bace yang banyak untuk dijual ke warung nasi Keuchik Radat langganannya. Uangnya nanti akan dibelikan mimpi Baidah yang belum pernah tuntas: sebuah tempat tidur dengan kelambu antinyamuk.

Karena duka itu Ayah Baidah cukup paham depresi yang dialami Baidah. Walaupun begitu, mimpi buruk Baidah setiap malam Jumat ini selalu saja dapat mengejutkan ayahnya yang kini tinggal seorang diri.

Pohon kelapa yang menjulang tinggi sebelah barat rumah Ayah Baidah bergoyang kejang, dedaunannya berdesir keras dikibas-kibas angin musim barat bulan Januari ini. Bulan semakin gagah, Zubaidah masih menangis di pundak ayahnya.

“Sudahlah Baidah, jangan menangis, si Min pasti kembali. Kata Teungku Mae, si Min masih hidup dalam hutan meuria itu. Ingat Baidah, Ayah menikahkan kamu dengan lelaki yang kuat.” Mendengar itu, tangan Baidah meraih pucuk ija sawak putih seserahan suaminya saat menikah sebulan lalu dan mendekapnya ke wajah. Dia semakin menangis tersenguk-senguk.

Laki-laki berjangut putih yang dikenal sebagai Bileu Menasah Kampung Meria itu dengan berlahan mengusap kepala anak semata wayangnya. Ibu Baidah telah meninggal sejak Baidah berumur 4 tahun. Ayahnya mengasuh Baidah sendiri dengan kasih sayang yang tidak terhingga. Sehari-harinya, ayah Baidah bekerja sebagai pemanjat kelapa di kampungnya. Selain itu, ayahnya juga punya beberapa pohon di sebelah barat rumahnya. Dari situ ayah Baidah menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari buahnya.

Dulu, saban hari saat ayah Baidah sedang memanjat pohon kelapa di kebun samping rumah untuk memetik kelapa tua lalu diolah menjadi minyak goreng, kemudian dijual ke kedai-kedai kampung. Tiba-tiba pelepah kelapa tua jatuh mengenai kepala Baidah kecil. Baidah tidak menangis, dia muntah-muntah dan terlihat linglung selama satu minggu, sejak itu ayah Baidah berjanji pada dirinya tidak akan manjat kelapa lagi, dia hanya akan memungutnya bila jatuh. Karena kesalahannya menjatuhkan pelepah yang tidak sengaja mengenai Baidah itulah dia akan menjaga Baidah apapun yang terjadi sampai akhir hayatnya.

“Baidah, tidurlah di sini malam ini, Ayah di sini menjagamu, Nak. Aku Ayahmu, aku juga mengasuh sebagai ibumu sejak kau kecil. Jangan takut, dan jangan menangis Baidah. Si Min pasti kalahkan Jen Pari penghuni hutan meuria itu. Karena kunikahkan kamu dengan laki-laki yang lebih kuat dari pada Ayahmu ini.”

Malam kian larut, Baidah sudah tertidur dengan nyenyak di pangkuan sosok tua itu. Suaminya tidak pernah kembali. Ayahnya tahu, tiada laki-laki yang cukup kuat untuk menjaga mimpi buruk putri tercintanya agar tak kembali selain dirinya yang kian mengantuk.[]

Catatan:
Meuria: pohon sagu
Jen Pari: nama sejenis hantu
Bace: ikan gabus
Ija sawak: kerudung
Meunasah: Langar
Bileu: pengurus Langar

KOMENTAR FACEBOOK