Komunitas Saboh Darah Nagan Raya, Lahir untuk Membantu Sesama

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Komunitas Saboh Darah terbentuk di Kabupaten Nagan Raya sebagai wujud kepedulian untuk membantu pasien yang membutuhkan darah.

Ketua Komunitas Saboh Darah, Jailani, mengatakan bila komunitas ini sudah terbentuk sejak 2014 lalu dan bertujuan ingin membantu dan meringankan beban dari pasien dan keluarga pasien yang membutuhkan bantuan darah.

“Kami berusaha ingin memberikan senyuman bagi keluarga pasien yang kadang hilang akibat kepanikan saat mereka membutuhkan tranfusi darah bagi keluarganya,” kata Jailani kepada acehTrend, Selasa (20/11/18).

Jailani menjelaskan, pada saat itu kadang-kadang stok darah di Bank Darah RSUD kosong, begitu juga di PMI Nagan Raya. Berawal dari itu, Jailani dengan beberapa kawannya mencoba membentuk satu komunitas anak muda yang kemudian diberi nama Saboh Darah.

“Kami berharap dengan adanya Saboh Darah ini bisa sedikit membantu terutama pasien yang membutuhkan tranfusi darah,” kata pengusaha warung kopi itu.

Dia menambahkan bantuan yang diberikan pihaknya tidak pernah dipungut biaya apapun dari pihak keluarga pasien, karena gerakan tersebut murni untuk misi kemanusiaan membantu sesama.

Jailani hanya berharap melalui Komunitas Saboh Darah tersebut dapat memperkuat tali persaudaraan antar sesama. “Karena kita hidup di dunia ini tidak sendiri pada saat ada saudara kita yang lagi terkena musibah, di situlah peran saudara-saudara lain untuk membantu,” ujar Jailani.

Jailani menuturkan bila ada yang membutuhkan darah ia bersama kawan Komunitas akan mencari pendonor dan mempertemukan dengan keluarga pasien. Selama ini pihaknya juga harus bolak balik RSUD Nagan Raya untuk donor darah, atau sekadar membawa pendonor ketika ada yang membutuhkan.

Meski permintaan terhadap kebutuhan darah selama ini terpenuhi tetapi pihaknya juga masih kesulitan karena belum banyak yang terpanggil untuk bergabung dengan komunitas.

Selama ini kata dia anggota komunitas hanya berjumlah 23 orang itupun sebagian mahasiswa yang kuliah di luar Nagan Raya. Dengan tingginya permintaan darah makan ini menjadi kendala apalagi mereka yang bergabung menjadi anggota komunitas banyak yang berdarah AB sementara untuk darah O yang mayoritas kebutuhannya tinggi ini masih kurang.

“Kadang kami juga merasa malu saat dihubungi keluarga pasien, karena stok darah dari anggota komunitas masih terbatas. Untuk poding anggota selama ini kita juga gunakan biaya sendiri,” tutur Jailani.

Pada kesempatan ini Jailani juga mengajak anak-anak muda setempat bergabung dalam komunitas untuk membantu mereka yang membutuhkan.[]

Editor : Ihan Nurdin