Kaki Terpotong dan Hidup Miskin, Eks Kombatan Menangis di Pelukan Muharuddin

Teungku Muharuddin (kanan) ketika menyerahkan kursi roda kepada Zainuddin. (Ist)

ACEHTREND.COM, Lhoksukon- Air mata lelaki berusia kepala empat itu menganak sungai. Sekian tahun “terbuang” setelah kakinya diamputasi akibat kecelakaan, eks petempur GAM itupun dikunjungi oleh Teungku Muharuddin, anggota Parlemen Aceh yang bernaung di bawah bendera Partai Aceh.

Kumandang azan magrib telah berlalu beberapa waktu lalu. Pembacaan selawat seusai shalat telahpun berlalu. Muharuddin dan rombongan tiba di Gampong Matang Ulim, Baktoya, Aceh Utara. Ia membezuk Zainuddin (42), Rabu malam (21/11/2018). Lelaki mantan petempur GAM itu telah lama terbaring tak berdaya, setelah kakinya diamputasi.

Kedatangan mantan Ketua DPRA tersebut, bertujuan untuk menghantarkan sebuah kursi roda. Melihat kehadiran Muharuddin, dari tempat pembaringan, Zainuddin menitikkan air mata. Suami Darmawati (39) mengaku terharu. Ia terlampau bahagia, sembari memeluk haru politikus muda nan bersahaja itu.

Zainuddin saat ini telah memiliki lima orang anak. Berteduh di sebuah rumah berukuran 5×6 meter, dengan dinding yang dibuat dari tepas bambu dan tripleks, tidak seluruh bangunan mampu dipasangi dinding. Angin malam, rinai hujan, bahkan semburan hujan deras, adalah makanan sehari-hari Zainuddin dan keluarga. Hal ini diperparah oleh atap rumah yang semakin terang melihat bintang di malam hari.

“Bila hujan turun, saya dan istri serta anak-anak harus saling berdesakan, untuk menghindari hujan,” ujar Zainuudin dengan suara terbata.

Di rumah itu, hanya ada satu kamar tidur dengan satu ranjang sederhana beralas papan bekas. Dapur dan kamar yang hanya dibatasi oleh sekat tripleks, masih sangat tradisional. Mereka memasak menggunakan kayu bakar. Bila ritual memasak sedang berlangsung, maka seisi rumah dipenuhi asap.

Kepada Muharuddin, Zainuddin bercerita banyak hal. Ia pun berterima kasih karena telah dihadiahkan sebuah kursi roda. Ia terlihat bahagia.

Saat konflik Aceh berkecamuk, Zainuddin ikut bergerilya bersama rekan-rekan seperjuangannya, dengan nama sandi Teungku Gajah Puteh. Pasca ditandatanganinya perjanjian damai pada 15 Agustus 2005, Zainuddin kembali berbaur bersama masyarakat. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan tenaganya sebagai kuli bangunan. Pada akhir Juli 2018, Zainuddin terpaksa kehilangan kaki kangannya akibat kecelakaan.

Gobnyan ngon rakan-rakan laen meupok moto di daerah Pidie Jaya. Watee nyan keuneuk berangkat u Banda Aceh meujak kerja bangunan (Dia bersama rekan-rekannya mengalami kecelakaan mobil di daerah Pidie Jaya. Ketika itu mereka hendak ke Banda Aceh untuk kerja bangunan),” ujar Hamdani selaku geusyik desa Matang Ulim kepada aceHTrend.

Aktivitas sehari-harinya kini dihabiskan di atas tempat tidur yang hanya beralaskan kasur usang dan kelambu untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk di malam hari. Bahkan untuk buang air kecil dan air besar sekalipun, Zainuddin harus merangkak pelan ke sebuah lubang khusus di dekat tempat tidurnya.

Saat Tgk Muharuddin menyerahkan kursi roda tersebut, mata Zainuddin nampak sembab. Perasaan haru itu juga terlihat di mata istri dan kelima anaknya. Pasalnya, ia tak menyangka mantan orang nomor satu di parlemen Aceh tersebut masih menaruh perhatian kepadanya.

Editor: Muhajir Juli