Skema Segitiga Intervensi Kemiskinan, Membaca Pikiran Plt Gubernur Aceh

SENIN (19/11) di Rakor TKP2K Aceh, saya diam-diam memperhatikan bahasa tubuh Nova Iriansyah.

Dari mimik wajahnya saya menduga bakal ada sesuatu yang akan disampaikan Plt Gubernur Aceh dalam arahannya.

Tapi apa gerangan? Saya yang hadir sebagai “tukang tulis” jadi ikut terpacu mencari jawaban.

Pikiran pertama yang melintas sambil memperhatikan paparan sebelumnya adalah bakal ada ajakan untuk keluar dari cara pandang mainstream.

Saya sempat menghalau pikiran dan mencoba kembali rileks sebagai pihak yang diundang, kembali menikmati sebuah peristiwa jurnalistik dilingkungan pemerinta.

Sesekali, saya melirik rekan duduk di kanan bahu saya. Ada Lukman AG yang serius memperhatikan jalannya presentasi, tapi juga sesekali memejamkan mata.

Disebelah kiri bahu saya, seorang perempuan cantik, terlihat setia dengan hapenya, dan sesekali memberi catatan di buku notesnya.

Dihadapan saya ternampak Muslahuddin Daud, Iqbal Farabi, Zulfikar Muhammad, dan sosok filantropis Edi Fadhil. Sosok ini saya pandang agak lama, dan sesekali saya kedipkan mata, dan dirinya membalas dengan senyum. Mungkin dia sedang berbisik, nakalnya Intan Payong.

***

Persoalan kemiskinan di Aceh, tidak bisa lagi sekedar dipahami secara “langit” alias konseptual belaka.

Solusi yang “membumi” harus dipikirkan dengan menghadirkan skema terbaik, sehingga hadir inovasi cerdas.

Dengan begitu, target penurunan angka kemiskinan 1 persen per tahun, nyata adanya, bahkan sangat mungkin melebihi target.

Arahan bernada menantang itu disampaikan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam Rakor TKP2K Aceh yang juga menyertakan beberapa personil di luar ASN.

Aneh, saya jadi ikut tertantang, dan mulailah pikiran saya berputar untuk menemukan skema di luar mainstream dan membumi.

“Mati aku, bagaimana cara menyampaikan skema segitiga intervensi kemiskinan ini, saya bukan bagian dari TKP2K Aceh, ” gerutu dalam hati.

Dalam sesi diskusi yang masih diikuti oleh Nova Iriansyah, saya berharap skema segitiga intervensi diungkapkan oleh salah seorang peserta.

Sayang, sampai azan mengumandang, sesi diskusi masih bersifat umum. Saya lalu diajak Iqbal dan ditemani Wiratmadinata mencari makan siang di luar.

“Semoga di rapat lanjutan, akan muncul skema segitiga intervensi sebagai solusi penurunan angka kemiskinan di Aceh, ” bisik hati.

***

Tahun 2007 persentase kemiskinan di Aceh ada pada angka 26,65 persen. Sejak 2008 Aceh memulai kerja pembangunan dengan APBA yang didukung Dana Otsus.

Lima tahun kemudian, yaitu pada 2012 angka kemiskinan di Aceh menjadi 19,46 persen. Terjadi pengurangan sebesar 7,19. Secara nasional Aceh berada di urutan 29 dari 33 provinsi.

Lima tahun berikutnya, Maret 2017 angka kemiskinan dari 19,46 persen menjadi 16,89 persen, sekitar 872 ribu orang. Terjadi penurunan, tapi hanya sekitar 2,57 persen, meleset dari target penurunan yang ingin dicapai yaitu 9-10 persen.

Irwandi – Nova yang dilantik 5 Juli 2017 yang akan memimpin hingga tahun 2022 dengan begitu mewarisi angka kemiskinan 16,89 persen.

Dua bulan berkerja, September 2017 angka kemiskinan Aceh berhasil diturunkan sedikit yaitu 0,97 persen, sehingga kemiskinan di Aceh menjadi 15,92 persen.

Tapi, Maret 2018 angka kemiskinan Aceh justru naik 0,05 persen sehingga menjadi 15,97 persen atau 839 ribu orang. Jadi, dari Maret 2017 sd Maret 2018 baru mampu mengurangi kemiskinan 0,92 perseb atau berkurang sebanyak 33 ribu orang.

Begitulah gambaran penurunan angka kemiskinan di Aceh, yang umumnya karena intervensi APBA yang didukung Dana Otsus Aceh. Jika dihitung sejak 2008 hingga Desember 2018 nanti maka total Dana Otsusnya sebesar 64 triliun.

Sementara secara nasional, jumlah penduduk miskin pada Maret 2018 ada pada angka 9,82 persen.

3 Juli 2018 Irwandi Yusuf terjaring Operasi Tangkap Tangan KPK. 9 Juli 2018 Nova Iriansyah dilantik sebagai Plt Gubernur Aceh dengan mewarisi angka kemiskinan sebesar 15,97 persen atau 839 ribu orang.

Sumber: Fb Matang Raya

Skema Segitiga Intervensi adalah pendekatan kolaboratif untuk pengentasan kemiskinan di Aceh melalui aplikasi yang memungkinkan pihak pemerintah, pengusaha dan publik saling ambil bagian dalam membantu warga miskin di Aceh.

Tugas Pemerintah Aceh, yang didukung DPRA adalah menghadirkan infrastruktur Aplikasi Aceh Hebat yang berisi data ril berbasis geospacial tentang warga miskin di Aceh.

Data warga miskin yang diklasifikasi secara program inilah yang akan memandu pihak pemerintah, pengusaha dan publik luas untuk ikut membantu warga miskin melalui aplikasi yang dapat diunduh di PlaySyore.

Tentu saja tanggungjawab menyediakan data ril berbasis geospacial juga ada pada pemerintah, yang bisa menggerakkan Geuchik masing-masing gampong untuk mengirim data agar bisa dientri oleh operator aplikasi.

Tanggungjawab lainnya adalah melakukan pemantauan, verifikasi, dan pendampingan sehingga semua bentuk intervensi benar-benar berjalan sebagaimana mestinya.

Data ril yang diklasifikasi secara program intervensi ini memungkinkan pihak pengusaha dan publik untuk ikut membantu, baik dalam bentuk dukungan dana CSR, dana lembaga donor, maupun dana lainnya, termasuk dana zakat dan dana waqaf uang atau waqaf produktif.

Publik luas bahkan publik dunia juga bisa ikut membantu dengan kemampuan masing-masing. Tinggal operator aplikasi Aceh Hebat menyediakan fitur-fitur yang memandu semua pihak yang tergerak ambil bagian dalam membantu warga yang masih miskin.

Rumah Pasutri dengan Tujuh Anak yang akan dibangun dengan skema filantropi publik melalui media sosial, dan menjadi rumah ke-52 yang akan dibangun melalui koordinasi Edi Fadhil. Sumber Fb Edi Fadhil.

Dengan peta kemiskinan Aceh yang masih besar sebagaimana tergambar di atas, maka nyaris mustahil berharap angka kemiskinan Aceh bisa menyentuh angka satudigit pada akhir periode kempimpinan 2022.

Tapi, dengan membuka kemudahan bagi semua pihak untuk ikut ambil bagian dalam membantu warga miskin, target pengurangan 1 persen per tahun bisa tercapai, dan sangat mungkin melebihi target. Siapa tahu, angka satudigit bisa lebih cepat dicapai, InsyaAllah!