Mengabaikan Cinta, Menghabiskan Hidup di Jalanan

Malam telah larut, bus malam jurusan Banda aceh-Medan, meliuk-liuk mengikuti jalan aspal yang dibangun mengikuti kontur alam. Tiba di kawasan Seulawah, Aceh besar, gigi dioper ke lebih rendah. Sejenak terdengar jerit mesin bus yang bersedia memacu tenaga lebih dalam, untuk mendaki bukit yang kian kentara menanjaki kaki Gunung Seulawah yang kekar.

Seorang lelaki paruh baya yang berada di balik kemudi, menyulut sebatang kretek hasil produksi sebuah pabrik asal Surabaya, Jawa Timur. Tangan sebelah kanan ia senderkan ke sandaran pintu, jemarinya aktif mengipas abu rokok yang ikut dihisap udara malam.

Berkali-kali, sepanjang jalan, sang sopir membunyikan klakson, memainkan lampu, serta sesekali tertawa melihat tingkah pengemudi kendaraan yang lebih kecil. Atau sesekali merepet singkat, menimpali pemotor yang nekat berkendara, nyaris memepet bus besar itu.

“Pandangan saya terbatas, kalaulah tak jeli, bisa jadi hidupnya akan berakhir di bawah kolong bus ini,” katanya sembari menyundut kretek.

Bus besar itu ber AC. Seharusnya sopir memang tidak boleh merokok. Tapi pengemudi selalu punya alasan bila ada penumpang yang protes. Aroma nikotin yang ia hisap tentu saja akan mengganggu penumpang yang sensitif, khususnya yang bukan perokok. “Tanpa rokok, saya tidak bisa konsentrasi,” kata lelaki yang saya taksir berusia 50-an itu.

Itu pengalaman setahun lalu, saya sudah tidak ingat bus apa yang saya tumpangi kala itu, tapi bus itu masih cukup prima melibas jalanan Aceh yang mulus, tapi sempit.

Bila sudah larut malam, bus berbadan besar memang banyak yang ugal-ugalan di jalanan. Dengan badan bus yang besar, mereka melaju di atas jalan, mengambil posisi di tengah. Banyak yang menyarankan agar pemotor maupun mobil kecil tidak melakukan perjalanan di malam hari, karena kerapkali musibah terjadi justru kala bus besar merasa sudah tak perlu banyak memberi hati untuk mengguna jalan lain. Human error, kerap menjadi pemicu kecelakaan. Korbannya mayoritas adalah orang-orang yang berada di luar kabin bus.

Saya sendiri, sebelum diskusi ringan malam itu, kerap memandang sopir bus sebagai salah satu hantu jalanan yang tidak berhati. Karena laju bus yang sangat kencang serta berjalan di bagian tengah jalan, membuat siapa saja akan terganggu. Banyak kepiluan yang saya dengar akibat menjadi korban bus-bus besar itu.

Tapi, musibah di jalan raya bukanlah milik tunggal bus besar. Kendaraan berbadan kecil termasuk sepeda motor, menyumbang angka yang setara terhadap jatuhnya korban jiwa di badan jalan. Tapi perhatian besar publik tetap pada bus-bus antar propinsi itu. Kenapa? Karena mereka besar, sehingga menjadi tertuduh sebagai monster jalan raya.

Dipanggil Om Oleh Anak Bungsu

Adalah M (sebut saja demikian) seorang sopir minibus L-300 berbagi cerita penuh haru kepada saya pada akhir 2017. Ketika pulang ke kampung di Bireuen, saya sempat bercakap-cakap dengan sopir yang terlihat sangat lihai menyetir. Walau menumpang L-300, tapi serasa duduk di dalam kabin bus besar. Bedanya di bus kecil itu tidak ada AC.

Lelaki yang satu kabupaten dengan saya itu, berhenti menjadi sopir bus antar propinsi, ketika pada suatu ketika pulang ke rumah tiba-tiba anaknya yang berusia lima tahun memanggilnya dengan sebutan Om. Dia kaget, tapi segera menyadari kekeliruan.

Bertahun-tahun lamanya sang anak hanya melihat wajah M melalui foto, paling banter via video call yang jarang dilakukan. Dia terlalu sibuk mengumpulkan pundi rupiah. Bilapun pulang malam sudah larut, dan sebelum subuh ia sudah kembali berangkat kerja.

“Saya pulang hanya sebulan sekali. Padatnya trip membuat saya jauh dengan anak-anak. Ketika berangkat mereka masih tidur dan pulang ketika mereka sudah tidur,” katanya, sembari menahan haru.

Kepada saya M bercerita bahwa dia memang tidak akrap dengan anak bungsunya kala itu. Sang anak kerap menolak bila dia gendong, bahkan membeli jajan pun sang bocah enggan bila yang mengajak adalah sang ayah. Bagi bocah itu, M adalah orang asing, bukan ayahnya.

“Rasa-rasanya sungguh tak berarti segala usaha saya mengumpulkan uang. Anak saya itu menolak saya,” katanya sembari menyapu air mata.

Sebulan setelah mendapat panggilan Om dari sang anak, M mengundurkan diri. Sebagai sopir yang memiliki sertifikat mengemudi dari sebuah lembaga pelatihan, tidak mudah baginya untuk mundur. Perusahaan oto bus tempat dia bekerja mencoba mempertahankan dirinya.

“Setelah saya yakinkan bos bahwa saya tidak mungkin mengorbankan cinta demi belanja, maka diapun mengerti,” tukasnya.

Sejak saat itu, dia memilih bus kecil antar kabupaten. Pilihan trip Bireuen-Banda Aceh menjadi alternatif. “Kini, setiap pagi saya pasti bertemu dengan anak-anak saya. Memang ada keinginan untuk kembali menyopiri bus besar, tapi saya tidak boleh egois. Walau gaji saya di sini kecil, tapi setiap hari bisa bertemu istri dan anak-anak,” imbuhnya.

Menetap Setelah Istri Meninggal Dunia

Lain lagi cerita seorang tukang ojek yang dulunya adalah sopir bus antar propinsi. Pria berkulit gelap yang saya temui di Simpang Empat Bireuen itu bercerita bahw sebelum menikah dia sudah menjadi pekerja di bus besar. Awalnya sebagai harlan, kemudian kernet dan akhirnya menjadi pengemudi.

Kala menjadi sopir, sebagian besar hidupnya di dalam kabin bus. Bilapun menginjak jalanan hanya ketika singgah di terminal atau tiba di poll. Selebihnya dia berada di belakang kemudi.

Tiap kali berangkat, ia tidak pulang hingga berbulan-bulan lamanya. Sesekali pulang, paling lama dua hari sudah kembali berangkat. Bahkan seringpula hanya singgah dua jam saja, sekedar numpang mandi dan numpang bercinta. Bahkan ia sudah tidak ingat lagi raut senyum sang istri. Kehangatan ranjang sudah tidak lagi dia pedulikan, di dalam benaknya hanya ada uang dan uang. Baginya anak-anak harus sekolah setinggi mungkin,biarlah ia mengorbankan kesenangan pribadinya.

“Kadang istri protes juga, dia juga butuh dimanja, tapi kala itu saya lebih peduli kepada pekerjaan demi keluarga, lagipula saya hanya bisa menyetir saja,” katanya.

Hingga bertahun-tahun kemudian, anak-anaknya beranjak besar dan sang istri pun menua. Suatu hari dia mendapat kabar bila sang istri sakit keras. Ia pun pulang, tak lama kemudian sang belahan jiwa menghembuskan nafas terakhir.

“Saya sempat histeris, dia yang setia menunggu saya dalam ketidakpastian, akhirnya dikalahkan oleh waktu. Dia meninggal dunia dalam kesepian. Ketika saya pulang, istri saya sudah sangat lemah. Ia hanya sempat menggenggam jemari saya, genggamannya sudah sangat lemah,” katanya sembari memacu laju ojek yang memang tak lagi garang itu.

Dia sempat berduka sekian lama, hingga akhirnya anak-anaknya meminta dirinya menikah lagi. Sejak menikah yang kedua kalinya, dirinya memutuskan untuk berhenti menjadi sopir.

“Biarlah saya ngojek saja, walau hasilnya kecil tapi saya bisa selalu berada di rumah. Semoga saja ini bisa menebus kesalahan saya di masa lalu. Istri saya yang kedua pun tidak banyak tingkah. Dia selalu bersyukur berapapun uang yang saya bawa pulang,” katanya menutup cerita ketika kami sudah tiba di rumah ibu saya di Teupin Mane, Juli, Bireuen.

***
Dua kisah di atas adalah di antara puluhan kisah miris yang sempat saya dengar langsung tentang riwayat hidup para sopir antar propinsi, baik sopir bus maupun sopir truk. Cerita-cerita kemanusiaan yang kerap tidak sempat dibincangkan.

Menjadi sopir, menurut cerita para pengemudi adalah tantangan yang tidak mudah. Apalagi ketika Aceh dihumbalang konflik. Mereka yang hilir mudik di jalan raya kerap menjadi sasaran amarah pihak-pihak yang bertikai.

Saya sempat mendengar kisah seorang sopir yang meninggal setelah terkena peluru tajam ketika terjebak kontak senjata di sebuah kawasan di pantai timur. Sang sopir yang berjanji akan segera pulang untuk bertemu anak-anaknya dengan janji membawa pulang oleh-oleh dari Medan, Sumatera Utara, tidak pernah sampai di rumah. Ia tewas di dalam kabin truk.

Seorang kenalan saya juga meninggal dunia ketika truck yang dia kemudikan jatuh ke jurang di kawasan pantai barat Aceh. Tubuh lelaki itu remuk redam dan jiwanya tidak tertolong. Kala musibah itu terjadi, anak-anaknya masih bersekolah di SD.

Lain lagi cerita teman saya seorang remaja berusia 20-an. Ayahnya meninggal dunia ketika bus yang disopiri jatuh ke jurang di kawasan Bireuen. Dia yang sangat jarang bertemu dengan sang ayah, justru pada suatu hari harus berurai air mata ketika mendapat kabar tentang musibah itu.

“Sedih kali aku, Bang. Sebelum beliau tiada ada niatku hendak menelpon, tapi selalu saja itu tak kulakukan. Kini, setelah beliau tiada, aku hanya bisa menatap pusaranya saja. Semoga beliau tahu aku sangat mencintainya,” katanya sembari menyapu matanya yang sembab.

***

“Nantikan aku di pelabuhan penuh padat rindu. Bila kelak aku tidak berlabuh, bukan karena diri ini tidak mencintaimu. Maut tak dapat kulawan, doakan saja diriku semampu kau bertahan. Bila kelak kau bosan, lupakan aku. Pesanku hanya satu: Sampaikan pada putera-puteri kita, bahwa ayah mereka lelaki perindu yang tak punya kesempatan melabuhkan cintanya di pelabuhan yang telah kita bangun bersama. Sayang lon keugata.” []