Bireuen Aceh Utara dan Indaco Serta Cinta yang Tak Pernah Luntur

Saya terbangun dari tidur ketika Ali Raban– saya memanggilnya Bang Ali– membangunkan saya yang tertidur di jok belakang minibus MPV Kijang Innova yang kami tumpangi. Kami ternyata sudah tiba di Lhoksukon, tepatnya di depan Mesjid Agung Baiturrahim, Kota Lhoksukon, Aceh Utara, Sabtu (24/11/2018).

“Jir, bangun, shalat subuh dulu,” kata Ali Raban. Ya, jurnalis Metro TV yang kenyang asam garam liputan konflik kala Aceh masih dihumbalang perang, merupakan salah satu jurnalis yang religius yang mengayomi para jurnalis muda di Aceh. Seperti Adi Warsidi yang mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, Ali Raban adalah sosok humble yang menjaga shalat.

Usai shalat shubuh kami singgah di sebuah warkop yang berpaut beberapa meter dari masjid yang selalu punya aktivitas keagamaan seusai shalat berjamaah. Seperti pagi ini, ada pengajian bakda subuh yang diikuti oleh banyak orang. Sayangnya lupa saya potret.

Lhoksukon, bagi Ali Raban memiliki kenangan khusus. Di kota ini dulu ia pernah meliput kala perang masih berkecamuk. Di kota ini ia menyaksikan kekejaman manusia yang memiliki kuasa, orang-orang sipil yang tidak berdaya, diamuk kapan saja, tergantung kapan mereka yang bersenjata tersulut amarahnya.

Maka ketika seorang yang kurang waras meminta satu nasi bungkus, Ali Raban segera memberikan.

Pagi ini kami makan nasi gurih sambal teri yang aduhai. Ali Raban memesan telur kocok tanpa campuran kopi. “Untuk menjaga stamina,” katanya. Saya memesan teh hangat, yang tak sanggup saya habiskan.

Warung tempat kami singgah dikelola oleh seorang anak muda berusia 21 tahun. Namanya Faisal, alumnus SMP 4 Lhoksukon, Aceh Utara. Dia mengaku sudah bekerja di warung ini sejak lima tahun lalu. Perihal mengapa ia tidak melanjutkan ke SMA, saya tidak lagi bertanya. Terlalu sensitif untuk ukuran pertanyaan pelanggan warkop yang tidak dia kenali.

“Saya kelola warung orang lain,” kata Faisal sembari beratraksi dengan gayung kopi.

Warung kopi tempat Faisal bekerja menggunakan bubuk robusta produksi Kabupaten Bireuen. Menurut Faisal sejak lama warkop itu konsisten dengan bubuk tersebut. Setelah saya cek, ternyata bubuk yang digunakan adalah Indaco yang dulunya merupakan kopi yang dihidangkan sampai ke rumah-rumah penduduk.

Hal menarik dari bubuk kopi ini adalah sepertinya ownernya belum bisa move on dari Aceh Utara. Mungkin terlalu cinta. Di bungkusannya, bubuk merek cap angsa itu tetap membubuhkan tulisan: Bireuen Aceh Utara. Hehehe, padahal Bireuen dan Aceh Utara sekarang merupakan dua kabupaten yang berbeda, walau dulunya Bireuen adalah salah satu kawasan kewedanaan di bawah Afdeeling Aceh Utara.

Memang dulu kami bangga menyebut diri sebagai orang Aceh Utara. Walau sebagian besar kami menggunakan bahasa Aceh dialek Peusangan –sebuah wilayah Ampon Chiek yang memiliki bahasa Aceh yanh disebut paling sopan se Aceh– tapi semenjak orang-orang di Aceh Utara semakin menasbihkan diri sebagai orang Pasee, maka perlahan orang Bireuen pun membangun identitasnya sendiri. Sebagai daerah border antara peradaban Samudera Pasee dan Aceh Darussalam, Nanggroe Peusangan –yang melingkupi sebagian besar wilayah Kabupaten Bireuen saat ini, memiliki identitas sendiri. Walau secara genetik, tidak ada perbedaan dengan Pasee Aceh pesisir timur dan utara pada umumnya.

Sejak dikuasai oleh Belanda hingga jelang 2000-an, Pemerintah Indonesia memang membentuk Aceh dan Indonesia lainnya dengan metode mata angin. Identitas aslinya kabur sekabur-kaburnya. Aceh utara, Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Tengah, Aceh Besar. Padahal di sana ada peradaban-peradaban besar, yang memiliki keagungan peradaban besar yang kini ditemukan kembali lewat penggalian sejarah. Termasuk yang dilakukan oleh CISAH dan MAPESA. Dua organisasi tersebut cukup getol menggali sejarah lewat metode pencarian dan penggalian nisan-nisan kuno yang nisannya ibarat pustaka tak bertepi.

***
Matahari pelan-pelan menampakkan diri. Siluetnya tidak begitu tajam, mendung mini bergelayut di langit Kota Lhoksukon yang perlahan mulai sibuk oleh aktivitas manusia. Senandung qasidah Aceh tanpa musik yang diputar melalui smartphone Faisal bergema di warung sempit yang dominan dengan kursi plastik warna orange.

Pengunjung warung kian banyak, datang silih berganti. Saya pun menyudahi tulisan ini dengan perasaan lega.