Maulid di Masjid Bermenara dari Tanah Liat Tertinggi

Oleh: Aidil Ridhwan*)

Bulan Rabiul Awal menyapa kaum muslimin sedunia. Terlepas dari bid’ah atau tidaknya merayakan maulid Nabi, namun bergembira dengan diutusnya Rasulullah ke dunia ini sebagai pembawa risalah adalah anjuran syariat.

Begitu juga halnya dengan warga di Kota Tarim, Provinsi Hadhramaut, Yaman. Di kota para habib ini, saya benar-benar merasakan nuansa adem-ayem. Terlebih lagi di bulan Rabiul Awal ini. Warga Tarim gegap gempita sambut bulan lahirnya Rasulullah Muhammad saw. Tak saling mencaci. Siapa yang mau bermaulid dipersilakan, sedangkan bagi yang tidak bermaulid, tidak boleh mencaci.

Mulai pertama hingga akhir Rabiul Awal, maulid digelar di masjid yang berbeda-beda. Meski kecil, namun Tarim meiliki 360 masjid. Selasa (20/11), pembacaan sirah Rasul digelar di masjid Al Muhdhar. Acara yang digelar langsung setelah shalat subuh itu dihadiri ribuan jamaah, terdiri dari warga setempat dan pelajar-pelajar asing.

Kesenangan dan keceriaan terpampang begitu jelas dari wajah-wajah jamaah. Musim dingin yang sedang melanda kawasan Tarim ini tak menyurutkan niat mereka untuk merayakan momen itu. Kecintaan mereka kepada Rasulullah begitu tulus dan ikhlas. Walaupun tanpa disuguhi makanan dan minuman selain wedang jahe (qahwah), namun antusias mereka sangat patut kita teladani.

Terlepas dari itu, mereka bukan hanya sekadar menghadiri tanpa menghayati arti. Nilai-nilai kelakuan dan perkataan Rasulullah juga terjelma dalam kehidupan masyarakat Tarim sehari hari, semisal menyebar salam. Maka tak heran, ketika di sepanjang jalan menuju ke suatu tempat, saya harus siap-siap menjawab salam dari warga yang melintas di depan saya. Mereka akan mengucapkan salam kepada siapapun, baik yang dikenali ataupun tidak. Hal itu sesuai dengan tuntutan Rasulullah saw.

Masjid Al Muhdhar

Masjid ini berada sekitar 1 km dari tempat saya berdomisili. Di Tarim, Al Muhdhar merupakan salah satu masjid yang memiliki nilai sakral. Kontruksi bangunan yang kekinian membuat decak kagum siapa saja yang melihatnya. Disertai dengan menara yang menjulang tinggi menambah keagungnya masjid itu.

Lebih unik, konstruksi bangunan menara hanya terbuat dari tanah liat bercampurkan jerami (warga Tarim menyebutnya labin). Ketinggian menara ini mencapai 175 kaki. Sejak penobatan Tarim sebagai Capitals of Islamic Culture (Kota Kebudayaan Islam) oleh organisasi Pendidikan Sains dan Kebudayaan Islam (ISESCO), menara Al Muhdhar sebagai ikon penghargaan tersebut.

Selain itu, warga Tarim memiliki kepercayaan yang terbukti bahwa masjid Al Muhdhar ini salah satu tempat dikabulkan doa. Nah, jika Anda berada di Tarim, tak lengkap rasanya jika belum mengunjungi masjid Al Muhdhar, meski hanya untuk melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid. Selamat Rabiul Awal bagi syedara-syedara lon di Aceh!


*)penulis asal Pante Garot, Pidie, alumnus Ummul Ayman, melaporkan dari Tarim, Yaman.

KOMENTAR FACEBOOK