Menambang Belut Mendulang Rupiah

Rinai hujan bulan November tidak menyurutkan langkah dua lelaki berpakaian kumal menyelesaikan pekerjaannnya memasukkan keong mas yang sudah ditumbuk ke dalam bubu berbentuk pipa seukuran bambu muda. Selain keong mas, di tiap bubu mereka juga menambahkan ikan sepat yang berfungsi sebagai pemancing, karena aromanya yang khas.

Dua lelaki itu adalah Didin dan Udin, keduanya masih berusia 32 tahun. Mereka berasal dari Unit VI, Gampong Suka Makmur, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

Di bawah gerimis –bukan gerimis mengundang– keduanya sibuk memasukkan umpan ke dalam bubu berupa keong mas yang sudah ditumbuk dan ditambah ikan sepat.

Sudah dua tahun mereka alih profesi sebagai pemburu belut dari rawa ke rawa, dari sawah ke sawah. Ketika kami bertemu di salah satu gampong di Baktiya, mereka baru saja siap memanen belut yang bubunya ditambang semalam di dalam rawa yang penuh kangkung.

Hari ini mereka panen lumayan. Diperkirakan ada sekitar 16 kilogram belut dan sidat yang berhasil mereka “tipu” untuk masuk ke dalam bubu. Namanya saja binatang, walau setiap hari teman-teman mereka tak pernah pulang setelah masuk ke dalam “kapsul” yang penuh makanan, tetap saja silih berganti mereka terjebak karena tergoda dengan umpan di dalam bubu yang sesungguhnya jebakan penuh tipu daya.

“Sudah dua tahun saya menjadi pencari belut. Pekerjaan ini tidak sulit, santai bisa kapan saja dan tentunya tidak di bawah perintah orang lain,” kata Didin, Sabtu (24/11/2018)

Pun demikian, Didin mengaku jarang libur memasang bubu. Pekerjaan ini sangat mudah. Hanya perlu mengumpulkan keong mas dan ikan sepat, kemudian diolah dan dimasukkan ke dalam bubu. Selanjutnya dibenamkan ke dalam rawa, selesai. Besoknya tinggal diangkat dan dipanen.

Perihal jumlah panen sangat fluktuaktif. Terkadang banyak, kerap juga sedikit. Minimal empat kilogram selalu berhadil ia bawa pulang.

Lalu dibawa kemana belut-belut itu? Didin mengatakan mereka menjual kembali ke agen pengumpul seharga Rp20.000 pet kilogram. “Ada agen yang menampungnya.

Didin dan Udin tentu tidak hanya bekerja berdua di bidang “tambang belut. Setidaknya ada 200 penambang belut yang berasal dari Unit V dan VI Suka Makmur, yang menjadikan aktivitas itu sebagai kegiatan inti ekonomi keluarga.

Di lapangan ada empat agen pengumpul yang berada di dua unit itu. Bila dihitung-hitung, setiap hari mereka semua bisa membawa pulang belut sebanyak 700 kg. “Area kerja kami saling terpisah. Ada yang sampai ke Idi, Aceh Timur, ada pula yang ke Nisam, Aceh Utara,” ujar Didin.

Setiap sudah terkumpul 1 ton 700 kg, seorang toke besar akan membawanya ke Sumatera Utara dan Padang. Pasarnya memang sangat menjanjikan, sehingga tidak membuat ragu para pencari belut seperti Didin.

Pasar Sumut menampung belut berukuran besar, sedangkan Padang membeli yang ukuran kecil. “Artinya semua belut yang berhasil kami panen dari alam, laku semuanya,” kata Didin penuh semangat.

Usai bercerita sekitar 10 menit, ia mohon diri. “Saya mohon diri, Bang, mau pasang bubu ke dalam rawa,” katanya ramah.

Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas informasi yang ia sampaikan. Sembari pulang, saya sempat menghitung hasil panennya hari ini. Rp20 ribu dikalikan 16 kg, berapa duit itu? Rp 320.000 guys. Wow, keren!

KOMENTAR FACEBOOK