Krisis Akhlak Siswa dan Urgensi Kompetensi Guru

Oleh Fajri*)

(Refleksi Hari Guru Nasional 2018)

Rasa-rasanya dunia pendidikan tanah air telah dibuat geger berkali-kali oleh perilaku kekerasan siswa kepada guru maupun perilaku kekerasan guru terhadap siswa. Jika Anda hitung jumlah kasus kekerasan yang menodai dunia pendidikan tanah air, maka akan Anda temui angka yang melebihi jumlah jari di tangan dan kaki.

Mengamati sikap dan perilaku pelajar yang kurang ajar saat ini tentunya membuat dada sesak. Seakan-akan mereka bukanlah pelajar, seakan-akan ada jurang yang memisahkan apa yang mereka pelajari dengan sikap dan perilaku mereka. Apa yang salah sebenarnya dengan pendidikan kita?

Mencermati lebih jauh penyebab perilaku menyimpang pada seorang murid adalah minus spritual. Minus spritual bisa disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya adalah pengaruh buruk teknologi saat ini di mana adegan-adegan kekerasan bisa diakses dengan mudah dan tanpa batas oleh murid, hingga membekas di otaknya dan timbul keinginan untuk mempraktekkan jika ada kesempatan.

Penyebab lain adalah minimnya alokasi waktu untuk pelajaran agama di sekolah dan kegiatan pembinaan ruhiyah hingga menyebabkan lemahnya iman dan sangat mencintai maksiat. Selain itu juga kondisi keterpurukan ini juga disebabkan oleh lingkungan yang buruk di mana keteladanan menjadi sesuatu yang langka. Faktor lain yang juga tidak patut dikesampingkan adalah penyakit sekolahisme yang menjangkiti pada orang tua saat ini.

Sekolahisme adalah anggapan bahwa pendidikan hanya di sekolah saja. Anggapan inilah yang membuat orang tua abai terhadap pendidikan anaknya karena merasa kewajiban pendidikan telah selesai dengan menyekolahkan anaknya.
Imam Ibn Qayyim, semoga Allah merahmatinya, dalam kitabnya Tuhfatul Maulud menyebutkan bahwa penyebab perilaku menyimpang pada anak adalah abainya para ayah dalam memperhatikan kebutuhan jiwa anak dan hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan fisik dan sebagainya.

Di samping faktor-faktor di atas juga disebabkan oleh orientasi pendidikan yang cenderung sekuralis yang tidak menjadikan taqwa dan akhlak sebagai tolak ukur kelulusan.

Pemerintah saat ini memang sedang gencar-gencarnya melakukan kampanye pendidikan karakter dan revolusi mental namun pada saat yang sama pula melakukan pembiaran terhadap siaran televisi yang merusak akhlak. Ini merupakan sesuatu yang absurd tentunya.

Padahal Jika kita mencermati tujuan pendidikan Nasional yang tercantum dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3 adalah : untuk mengembangkan potensi dasar peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Bahkan dalam lirik lagu Indonesia Raya sekalipun disebutkan “bangunlah jiwanya bangunlah badannya” artinya Undang-undang di atas dan potongan bait lagu Indonesia Raya selaras dengan nilai-nilai Islam yang sangat menekankan pembangunan jiwa.

Upaya pembangunan jiwa mutlak diperlukan. Karena, jika kita abai terhadap persoalan ini maka generasi muda akan terjebak dalam kubangan materialis, hedonis, pornografi dan pornoaksi. Kondisi demikian tentu akan membuat jiwa mereka menjadi kosong dari ruh dan nilai-nilai agama serta berdaya spritualitas yang rendah.

Begitu pentingnya pembangunan jiwa sampai-sampai Tuhan berfirman: “Qad Aflaha man tazakka” sungguh telah beruntung orang-orang yang menyucikan jiwanya.

Fakta Guru Saat Ini

Tak dapat dipungkiri profesi guru adalah profesi mulia. Dan untuk menjadi seorang guru butuh proses yang panjang tidak simsalabin abakadabra. Profesi guru erat sekali kaitannya dengan tradisi keilmuan, artinya seseorang yang berprofesi sebagai guru apapun bidang studi yang diampunya hendaknya adalah seorang yang berilmu dan menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan yang membuat ilmunya bertambah dan secara bertahap kompetensinya menjadi meningkat.

Tulisan singkat ini tidaklah bermaksud menghakimi dan mengkerdilkan guru. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa penyebab krisis akhlak yang menjangkiti para siswa hari ini boleh jadi salah satu penyebabnya ialah guru yang kurang berkompeten baik mental atau intelektual disamping sebab-sebab yang telah disebutkan sebelumnya di atas.

Begitu banyak saat ini guru yang mencukupkan kapasitas keilmuannya hanya dari apa yang didapatkannya di bangku kuliah saja. Tanpa ada usaha untuk menaikkan taraf keilmuannya dengan membaca atau bahkan menulis. Rasa tanggung jawab memilih profesi guru juga sangat kurang hal ini terindikasi dari tidak ada persiapan sama sekali sebelum memulai kegiatan mengajar. Tidak sedikit saat ini guru yang ada yang hadir ke sekolah hanya karena sudah digaji dan mengejar tunjangan sertifikasi.

Pada dasarnya pemerintah mengalokasikan dana sertifikasi guru untuk meningkatkan kompetensi guru, artinya dari dana sertifikasi yang diterima. Guru harus memberikan return berupa peningkatan kompetensi dan peningkatan kinerja. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Kebanyakan guru menggunakan dana sertifikasi untuk peningkatan kesejahteraan dan abai terhadap peningkatan kompetensi.

Sebab lain yang mungkin menyebabkan krisis akhlak siswa adalah minimnya teladan yang baik dari guru. Contoh kasus yang paling menganga soal ini adalah guru yang merokok di lingkungan sekolah dan menjadi iklan gratis bagi siswa. Padahal di gerbang sekolah tertulis besar-besar selamat datang di area bebas asap rokok. Lalu kemudian jika ada siswa yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah akan dikenakan sanksi. Pertanyaannya adalah agar para siswa tidak merokok di lingkungan sekolah mereka harus meneladani siapa?

Kasus lain adalah jual beli kunci jawaban ujian nasional yang sangat santer terdengar menjelang ujian nasional berlangsung dan pembiaran siswa mencontek saat menjawab Ujian Nasional sebagaimana temuan Federasi Guru Serikat Indonesia sebagaimana diberitakan media Berita Satu. Kedua kasus ini nyata-nyatanya menyalahi pakta integritas Ujian Nasional yang ditandatangani oleh guru pengawas ruang Ujian Nasional.

Perilaku menyimpang yang dilakoni guru di atas tentunya mempengaruhi dan menulari pada sikap dan prilaku siswa. Seyogyanya para guru menyadari bahwa setiap gerak gerik, sikap dan perilaku dan tutur kata akan diindrai oleh siswanya. Guru yang berkripabadian yang baik bertutur kata lembut, soleh, berakhlak mulia dan siap secara mental dan intelektual akan digugu dan ditiru oleh muridnya dan akan membuahkan rasa ta’dhim dan hormat dari murid-muridnya.

Begitu juga sebaliknya perilaku negatif guru juga akan diindrai oleh siswa. Guru yang tidak siap secara mental dan intelektual rasa-rasanya sulit meraih rasa ta’dhim dan hormat dari siswa. Yang terjadi malah sebaliknya akan dicibir apalagi siswa zaman sekarang yang rada-rada kritis akibat arus informasi yang begitu dahsyat yang diterimanya lewat medsos.

Urgensi Kompetensi Guru

Selain disiplin ilmu tertentu yang harus dimiliki seorang guru. Guru juga semestinya memiliki berbagai macam kompetensi yang dapat menyempurnakan profesinya sebagai guru.

Prof. Dr. Oemar Hamalik dalam bukunya Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, menyebutkan bahwa masalah kompetensi guru merupakan hal yang urgen yang harus dimiliki guru dalam setiap jenjang pendidikan. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. Kurikulum pendidikan haruslah disusun menyesuaikan kompetensi yang dimiliki guru. Tujuan, program pendidikan, sistem penyampaian, evaluasi dan sebagainya hendaknya direncanakan memenuhi standar agar relevan dengan kompetensi guru secara umum. Dengan demikian diharapkan guru mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin.

Dalam hubungan dengan kegiatan hasil belajar siswa, kompetensi guru berperan penting. Proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur dan isi kurikulumnya. Akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal.

Upaya Pemerintah

Sebenarnya pemerintah telah melakukan banyak hal berkenaan dengan peningkatan kompetensi guru. Di antaranya adalah sertifikasi guru, mengadakan seminar dan pelatihan untuk guru, menaikkan standar pendidikan guru, dll.

Upaya meningkatkan kompetensi guru bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh pendalaman penghayatan, pikiran dan kerja keras semua kalangan yang bergelut didunia pendidikan. Perlu ada program dan evaluasi berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi guru. Terutama dari pribadi guru sendiri mengingat tidak semua kompetensi yang dibutuhkan guru tercover oleh bangku kuliah.
Harapan kita tentunya dengan peringatan Hari Guru Nasional tahun ini membuat guru semakin profesional dan berintegritas demi lahirnya generasi impian. Semoga.


*)penulis adalah kepala MAS Imam Syafi’i.

Foto ilustrasi: Guru SMP 18 Banda Aceh yang diabadikan tahun 2007. (Dikutip dari fb Jailani Sawang)