Pesan Adnan Ganto untuk Aceh

Di beberapa tempat, termasuk dalam temu Forum Aceh Menulis (FAMe) ke-60 di Aula Arsip Aceh, kemarin Dr. H. Adnan Ganto, M.B.A., mengangkat topik bahasan tentang revolusi industri 4.0.

Sebelumnya, di Unsyiah yang hadir adalah anak saya. Dia bendahara di acara Festival Ilmiah Ekonomi Islam yang dihadiri Adnan Ganto, dan di Fame, saya pula yang hadir, dengan topik yang sama. Sungguh, waktu bergerak cepat, apalagi dalam kepungan teknologi.

Saya menangkap, topik itu sebagai pesan untuk Aceh agar bersedia dan mempersiapkan diri menyambut perubahan.

Pesan ini penting, sebab dalam teropongan Dewan Komisaris Morgan Bank ini, revolusi industri 4.0 ini secara fundamental akan mengubah cara hidup, cara berkerja, termasuk cara menjalin hubungan satu sama lain.

Bagi saya, jika Aceh tidak menyadari ini maka Aceh, dalam kelakar saya, akan terus berada di era Evolusi Kemiskinan 3.0. Suatu era dimana gerak turun angka kemiskinan di Aceh sangat lambat.

Bayangkan, dengan 64 triliun APBA (2008-2018) angka kemiskinan di Aceh masih 15,97 persen dari angka kemiskinan 26, 65 persen (2007). Padahal saban tahun uang yang ada di Aceh (APBA+APBK+Dana Desa) ada 46 triliun.

Mengapa Aceh masih begini, salah satu sebabnya, meminjam ulasan Adan Ganto, karena Aceh belum membuka diri untuk menyambut perubahan. Meminjam istilah Adnan Ganto, belum mampu keluar dari jebakan ego masing-masing. Saya menyebutnya karena masih mengandalkan kecerdasan indatu di keadaan yang menuntut beradaptasi dengan kecerdasan buatan.

Padahal, salah satu pemicu kita berada diambang pintu revolusi 4.0, sebagai pintu masuk menuju gampong global adalah kecerdasan buatan atau yang akrab disebut artificial intelligence (AI). Bukan hanya teknologi canggih ini saja, revolusi industri 4.0 juga dipicu oleh big data, e-commerce, fintech, shared economies, hingga penggunaan robot.

Kehadiran teknologi blockchain, yang tidak disinggung oleh Adnan Ganto, menurut saya juga menjadi penyebab akan terjadi distrupsi secara cepat dan besar-besaran, khususnya terhadap cara mendifisikan uang, dan cara memperlakukannya.

Meski di sini kami berbeda cara lihat, tapi Adnan Ganto tidak menampik kemungkinan terdistrupsinya bank akibat kehadiran teknologi blockchain yang menghadirkan uang atau aset digital, walau tidak dalam jangka 30 tahun. Yang jelas, sejak dini banyak bank yang mulai ramah dengan blockchain, meski belum terlalu ramah dengan digital currencynya.

Adnan Ganto juga mengingatkan efek yang perlu diwaspadai dari era industri 4.0 yaitu hilangnya privasi seseorang akibat penyebaran data digital secara mudah. Tiada lagi tempat bagi data untuk disembunyikan. Tapi, bagi saya, jika dunia mau menghilangkan bahaya korupsi, maka pilihannya adalah bersiap dengan tranparansi radikal.

Selama ini, akibat ketiadaan transparansi radikal karena sifat internet yang masih tersentralisasi selalu mampu membuat pelaku kejahatan menemukan cara melakukan korupsi, termasuk kejahatan lainnya di dunia internet. Untuk itu, kehadiran blockchain dengan sifatnya yang terdesentralisasi adalah solusi.

Terlepas dari perbedaan, ulasan Adnan Ganto tentang Era Industri 4.0 dalam diskusi yang dipandu Yarmen Dinamika itu adalah pesan kunci bagi Aceh untuk segera mempersiapkan diri agar berkah dari perubahan yang dipicu oleh teknologi ini dapat bermanfaat bagi menurunkan angka kemiskinan, bukan hanya 1 persen per-tahun, tapi lebih.

Tindakan yang perlu dilakukan adalah mulai berkerja secara eksponensial bukan secara linier lagi, dan ini menuntut semua stake holder di Aceh untuk akrab dengan teknologi sehingga dapat menghadirkan ragam inovasi yang menjamin hadirnya pelayanan publik yang makin cepat, murah, aman, transparan, akuntabel dan melibatkan banyak pihak.