Saran Akademisi Unimal terkait Pengelolaan KEK Arun

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikulsaleh, Ayi Jufridar, dari segi konsep status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun akan sangat mendukung pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Namun, kata Ayi dengan catatan harus benar-benar dikelola dengan serius.

“Dari segi konsep, KEK Arun sangat mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan, tetapi sejak dicanangkan sampai sekarang, kabarnya akan diresmikan pada Desember 2018, tetapi apanya yang akan diresmikan. Kalau hanya meresmikan pembangkit listrik atau sekadar konsep, tidak perlu seorang presiden harus hadir untuk peresmian secara seremonial,” ujar Ayi Jufridar saat dihubungi aceHTrend, Sabtu (1/12/2018).

Menurutnya, dari empat rencana bisnis kawasan KEK Arun, yaitu di sektor minyak, gas, energi, dan maritim sejauh ini belum terlihat aksi konkret. Pembangkit listrik yang sudah beroperasi saat ini misalnya, kata Ayi apakah bisa diklaim sebagai hasil kerja KEK Arun?

“Bukankah tanpa kehadiran KEK Arun pembangkit listrik tersebut sudah menjadi rencana strategis jangka panjang PLN,” ujarnya.

Hingga saat ini kata dia, beberapa perusahaan BUMN yang berada di garis terdepan untuk implementasi KEK Arun masih berkutat dengan persoalan domestik seperti pasokan gas yang sering tersendat. “Persoalan klasik seperti ini harus tuntas sebelum KEK Arun diimplementasikan di lapangan,” sebutnya.

Sejauh ini, sambung Ayi, belum ada akses informasi yang jelas kepada masyarakat, baik langsung maupun melalui media massa, berapa banyak investor yang akan masuk dan kapan. Informasi seperti ini, harusnya bisa diperoleh investor dan masyarakat serta pelaku ekonomi di daerah.

“Saya juga belum tahu apakah sudah ada kantor administrasi KEK Arun di Lhokseumawe. Apakah sudah ada kantor perizinan satu pintu,” katanya.

Pengelola KEK Arun diminta untuk melakukan sosialisasi secara intens mengenai program ini dan apa dampaknya kepada masyarakat, terutama di sektor ekonomi dan sosial. Masyarakat harus mendapatkan edukasi tentang apa saja yang bisa dilakukan untuk merespons kehadiran KEK Arun. Bukan sekadar informasi, diharapkan masyarakat juga bisa didampingi agar memiliki akses dan tumbuh bersama KEK.

“Sekarang bukan zamannya lagi menjadikan masyarakat sebagai objek pembangunan ekonomi. Dalam konsep pembangunan ekonomi inklusif, masyarakat bukan hanya harus memiliki sense of belonging (rasa memiliki suatu kelompok atau organisasi dalam diri anggotanya) terhadap aset ekonomi, tetapi juga menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan,” kata Ayi yang pernah menjadi moderator diskusi KEK Arun yang digelar AJI Lhokseumawe, akhir 2017.

KEK Arun akan diresmikan pada pertengahan Desember 2018 ini. KEK Arun memiliki empat rencana bisnis utama kawasan, meliputi minyak, gas dan energi, kedua pelabuhan dan logistik, ketiga industri petrokimia, dan terakhir pertanian dan perikanan yang menyasar sektor agro industri dan pengembangan hasil laut.[]
Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK