Tgk Ma’at Di Tiro, “Milenial” Ideologis dari Aceh

Kolonel H.J.Schmidt bersama pasukan elitnya, menelusuri arah sasaran tembak mereka dengan hati-hati, disertai perasaan ngeri.

Dari jauh, pasukan yang dikenal sebagai Marsose itu berhenti. Dari jarak yang terjaga, mereka melihat sesosok tubuh, rebah mencium tanah.

Setelah memastikan tidak ada gerak, mereka mendekat, dan menemukan jasad dengan nyawa yang sudah terbang.

Sejenak, mereka memandang sosok muda, gagah, dan parlente itu. Meski Marsose dikenal sebagai serdadu kejam, tanpa ampun, saat itu Schmitdt memilih berdiri dengan sikap hormat, melihat kagum pada jasad yang matanya tertembus peluru, begitu pula dadanya.

Sejenak Schmidt terjebak dalam renungan pada jejak syahid Familiy Di Tiro. Ia kembali menatap jasad Ma’at dengan sorot pandang kasihan.

Serdadu Marsose yang berasal dari berbagai daerah di Hindia Belanda, termasuk dari Manado itu, hanya bisa berdiam sambil sesekali menyentuh gagang karaben mereka, sambil terus mengawasi keadaan sekitar Aluë Bhöt, Tangse. 

Sebagai elit militer bayaran berdarah dingin, yang mereka bayang hanya soal bayaran. Setiap mission final, merekapun menanti perintah berikutnya. Seorang Marsose asal Manado saat melangkah pergi, bernyanyi: “Biar susah satu gunung, kami tetap Marsose…”

Kematian Tgk Ma’at Chik Di Tiro pada Minggu, 3 Desember 1911 itu, sebenarnya tidak dikehendaki, termasuk oleh Belanda. Berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk membujuknya melalui utusan perempuan agar bersedia tunduk dengan Pemerintah Belanda.

“Kasihan kepada anak muda ini. Sebab itu diupayakan untuk menyelamatkan nyawanya; tapi tidak mudah, sebab tidak mau kompromi. Kita sudah memberi jaminan hidup dan status sosial, tapi semua ditolak mentah-mentah…. Ini sudah cukup, lebih dari cukup.” (H.C Zentgraaff, Atjèh).

Maka, pantas bagi Hasan Tiro jika 65 tahun berikutnya menemukan inspirasi ideologis keacehan pada Tgk Ma’at Di Tiro, yang dilukiskan sebagai diri yang tahu memilih bagaimana harus hidup dan tahu pula menentukan bagaimana harus mati.

Dengan usia Tgk Ma’at yang masih muda, 16 tahun, tentu idologi Aceh itu tiada tandingannya pada kaum milenial saat ini, yang kerap diklaim sebagai generasi yang paling sulit ditebak, sekalipun sudah memiliki sikap kritis akibat persentuhannya dengan informasi yang berlimpah.

Entahlah, barangkali kita juga membutuhkan jangka waktu hingga 65 tahun ke depan sejak Hasan Tiro berpulang pada 3 Juni 2010. Itu artinya, baru mungkin akan hadir kesadaran keacehan pada tahun 2075.

Sejak 2010, nyaris tidak terdengar ada aneuk muda Aceh yang tampil dengan jati diri keAcehan ala Tgk Ma’at, yaitu jati diri yang kental dengan spirit menolak “penjajahan”, dalam arti kekinian.

Coba perhatikan getaran perlawanan untuk menolak kejahatan korupsi, belum juga menghadirkan inovasi pelayanan publik yang menjamin efektivitas, efisien, cepat, murah, tranparan, dan akuntabel, padahal nyaris setiap hari mereka bergaul dengan teknologi berbasis AI, IoT dan Blockchain.

Hampir saban pemilu mereka menyuarakan anti money politic tapi pada saat yang sama tidak ada prakarsa untuk menghadirkan aplikasi pemilu yang dapat menghilangkan praktek uang dalam pemilihan.

Tanggal 3 Desember ini, kita kembali mengingat Tgk Ma’at Di Tiro tapi sebatas ingatan politik yang kita sebut sebagai dasar bersambungnya gerakan 4 Desember, belum menjadi dasar bersambungnya ingatan revolusi perubahan.