Keteladanan Tgk Ma’at Di Tiro Dimata Tgk Muhar

“Tgk Ma’at Di Tiro itu teladan yang patut menjadi inspirasi aneuk muda Aceh, ” kata Tgk. H. Muharuddin, S. Sos. I. M. M dalam perjalanan menuju Takengon.

Perbincangan tentang salah seorang keluarga Tgk Chik Di Tiro itu terjadi karena tanggal 4 Desember, sudah menjadi moment sejarah yang dingat, dan masih diperbincangkan, termasuk di media sosial.

“Ya, sejarah tidak boleh dilupakan, dan kepada kita semua dituntut untuk juga membuat sejarah baru, ” sebut Ketua DPRA (2014-2018) itu di dalam mobil, Senin (3/12).

Menurut sosok yang juga dipanggil “Tengku Dayah” itu dalam sejarah Aceh ada banyak sosok yang patut untuk diteladani, salah seorangnya adalah Tgk Ma’at Di Tiro.

“Setahu saya, Wali Hasan juga menjadikan Tgk Ma’at Di Tiro sebagai teladan keacehan, ” sebutnya.

Dalam sejumlah catatan memang disebutkan bahwa tanggal 4 Desember dipilih sebagai hari mendeklarasikan GAM. Pilihan tanggal 4 Desember dinilai sambungan dari 3 Desember sebagai tanggal syahitnya Tgk Ma’at Di Tiro.

“Di mata Wali Hasan, Tgk Ma’at Di Tiro adalah anak muda Aceh yang tahu bagaimana seharusnya hidup, dan tahu pula bagaimana seharusnya mati, ” sebut Tgk Muhar mengutip Hasan Tiro.

Menurut Tgk Muhar, keteladanan yang patut diambil dalam konteks kekinian dari Tgk Ma’at Di Tiro adalah menjadi generasi yang memiliki jati diri.

“Tgk Ma’at Di Tiro dalam usia masih belia, masih 16 tahun, sudah memiliki kesadaran agama yang kokoh, sehingga tidak membuatnya tergoda oleh kehidupan yang menyimpang dari ajaran agama, ” sebutnya.

Untuk diketahui, Tgk Ma’at sebelum diputuskan untuk diburu, Belanda telah mencoba melakukan operasi penaklukan dengan berbagai rayuan, namun semuanya gagal. Tgk Ma’at tidak bersedia keluar dari geunareh Aceh untuk konteks saat itu.

Tgk Muhar mengajak generasi milenial Aceh untuk tidak jauh dari pendidikan agama. Ia mengajak anak-anak muda untuk terhubung dengan dayah, baik sebagai santri ataupun melalui interaksi dengan lingkungan dayah.

Dalam era keterbukaan informasi, jika tidak ada jati diri sangat rawan terkena krisis kepribadian.

“Tanpa memiliki jati diri yang teguh, potensi kemudaan tidak memberi manfaat bagi lingkungan sosial apalagi bagi daerah, juga negeri, juga bagi dunia, ” tambah Tgk Muhar yang pada usia 16 tahun sudah menjadi aneuk dayah di Dayah Darul Fallah, Jeunib, Bireuen. []