Milad GAM, Irwansyah Ajak Pengikut Hasan Tiro untuk Flash Back

ACEHTREND.COM,Banda Aceh- Bekas pentolan Juru Bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Aceh Rayeuk, Teungku Muksalmina mengajak siapa saja yang masih mencintai Aceh untuk menjadikan 4 Desember 2018 (Milad GAM ke-42) sebagai momentum untuk melihat kembali perjalanan perdamaian antara GAM dan RI di Finlandia pada 15 Agustus 2005.

Mantan Ketua Umum DPP Partai Nanggroe Aceh (dulunya Partai Nasional Aceh) itu mengatakan, Selasa (4/12/2018) banyak yang sudah berhasil diraih oleh Aceh setelah terjalinnya perdamaian, tapi masih banyak pula yang masih harus diperjuangkan.

Point MoU Helsinki masih ada yang belum masuk dalam UU Nomor 11 Tahun 2006. Padahal kunci kekuatan Aceh ada pada kewenangan yang disepakati di dalam butir-butir perjanjian.

“Milad 4 Desember bukan sekedar peringatan kosong tanpa makna. Kita semua yang masih setia kepada Aceh, harus memperjuangkan cita-cita bersama tersebut. Kuncinya ada pada kemauan dan fokus, tanpa itu, saya kira 4 Desember akan menjadi sesuatu yang biasa saja, seperti tanggal-tanggal lainnya,” ujar lelaki yang memiliki nama asli Irwansyah, yang kini memikul jabatan sebagai Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo-Ma’ruf Amin Propinsi Aceh.

Menurut eks petinggi militer di badan perjuangan Teuntra Neugara Aceh (TNA) yang merupakan sayap militer GAM, flash back (kilas balik) menjadi sangat urgent, agar wacana pembangunan Aceh tidak sekedar pepesan kosong. Rakyat Aceh sebagian justru sudah mulai tidak percaya lagi pada janji politik elit Aceh dari beberapa oknum GAM yang bagi warga sudah sebagai bualan tanpa isi.

“Kita harus melihat berbagai kelemahan diri. Mengapa banyak point MoU Helsinki yang belum direalisasikan? Apakah mutlak kesalahan orang lain, atau kita yang semenjak damai sudah kehilangan orientasi keacehan?” Ujar Irwansyah.

Untuk ke depan, Irwansyah mengajak komponen GAM dan orang-orang Aceh lainnya yang non GAM, untuk bersatu padu memperkuat tali persaudaraan demi memperjuangkan kepentingan Aceh yang lebih besar ketimbang kepentingan pribadi.

“Sudah saatnya berhenti sebeng-sebeng, masih banyak yang harus kita perjuangkan. Tanpa tekanan dari kita semua secara serius, mustahil orang lain yang akan all out untuk kepentingan Aceh,” imbuhnya.