Ziarah Sunyi Muharuddin di Makam Tgk Ilyas Leube

ACEHTREND. COM, Takegon – Satu demi satu langkah kaki menaiki anak tangga, dan baru pada anak tangga ke-42, langkah kaki Teungku Muharuddin tiba di makam Teungku Ilyas Leube.

Di sisi kanan pejuang tiga masa itu, ada makam anaknya Ilham yang meninggal 25 Februari 2014, dan juga Iqlil yang meninggal 30 Juli 2015.

Teungku Ilyas Leube sendiri syahid 15 April 1982 di Pengunungan Jeunib 15 April 1982 dalam insiden pengepungan usai lokasi mereka diketahui aparat RPKAD.

Dengan bersimpuh, Tgk Muharuddin melafaz doa dalam sunyi hati. Lalu, dengan mengambil posisi duduk, alumni Pasantren Modern Misbahul Ulum memimpin tahlil – samadiah dalam irama pelan.

“Astarfirullahal ‘azim minkulli dzambil ‘azim la yaghfiru dzunuba illa rabbul ‘alamin… ”

Dauh pohon Saingon seakan ikut terlihat bersamadiah untuk seorang yang oleh Tgk Daud Beureueh digelari Leube karena pengetahuan agama dan kedekatannya dengan rakyat, meski sebenarnya dia memiliki garis darah biru Reje Linge.

Tengku Ilyas Leube memang satu perjuangan dengan Abu Daud Beureueh, dan menjadi pejuang terakhir yang “turun gunung.”

Namun, karena apa yang diharapkan bagi Aceh tidak diwujudkan, Teungku Ilyas Leube kembali “naik gunung”, memilih jalan perjuangan bersama Hasan Tiro.

Sebuah pilihan tidak mudah namun cukup mendasar, apalagi usai dirinya berdiskusi panjang dengan Hasan Tiro, bisa jadi di pinggir Lut Tawar, sebelum keduanya sepakat bertemu lagi di Gunung Halimun, tempat GAM dideklarasi 42 tahun lalu, tepatnya Sabtu, 4 Desember 1976.

Ajal tidak dapat ditolak, sebelum cita-cita terwujud, Teungku Ilyas Leube syahid. Namun, kesadaran ahli dakwah itu masih tersimpan, di ingatan istrinya, Salamah (86).

“Karena sudah ditanya maka saya terangkan, Teungku, suami saya, ingin apa yang dimiliki oleh Aceh bermanfaat bagi semua yang tinggal di Aceh tanpa membeda-bedakan suku, ” kata Salamah usai acara Maulid Nabi yang digelar di depan rumahnya, Bandar Lampahan, tidak jauh dari komplek makam suami dan juga anak-anaknya.

Menurut Salamah, kepentingan Aceh harus diperjuangkan, dan tidak menjadi soal jika harus berbeda-beda jalur perjuangan.

“Sejauh tujuannya untuk kepentingan Aceh bagi semua rakyat maka itu baik, ” sebut sosok nenek yang masih sangat jernih pendengarannya, meski sesekali terbatuk saat bincang-bincang.

Kepada Tgk Muhar, ia berpesan agar selalu berjuang untuk kepentingan Aceh. “Jaga amanah Teungku yang sudah berjuang hingga rela tinggal di hutan,” tuturnya.

Tgk Muhar, di komplek makam mengatakan sosok Teungku Ilyas Leube sebagai salah seorang yang ikut membangun dan menyebarkan ideologi keacehan sambil berdakwah.

Ideologi yang menjadi dasar meluasnya gerakan perlawanan di masa lalu itu kemudian menghasilkan perdamaian untuk memungkinkan Aceh menjemput kesejahteraan bagi semua.

“Jadi, gerakan mewujudkan kesejahteraan harus pula kita wujudkan melalui gerakan membangun, dan ini mengharuskan kita untuk hadir dimana saja, termasuk hadir di parlemen DPR RI, ” tegasnya usai dipeusijuk dihalaman Masjid Al Mazkar, Kampung Kenawat, Lut Tawar, daerah kelahiran Tgk Ilyas Leube. []