Pesona Politik Teungku Muharuddin dan Rentak Haba Cut Meutia

ACEHTREND. COM, aceh Utata – Tengku Muharuddin masih seperti biasa. Orang-orang masih setia bersamanya. Rumahnya masih ramai dikunjungi sahabat. Perjalanannya masih pula setia ditemani teman lama. Orang-orang barupun tak sungkan merapat bersamanya.

“Han ek so koh Tengku Muhar, ” kata Cut Meutia yang hadir bersilaturahmi bersama Wardatul Jannah dan Yusriana di Gampong Matang Payang, Keude Blang Glumpang, Seunuddon, Aceh Utara, Rabu (5/12).

Cut Meutia tidak salah. Dimana Teungku Dayah itu singgah, ada saja yang menyapa. Bahkan, ada pula yang berbisik: “Dia Teungku Muhar, ” kata seseorang kala berada di sebuah warung kopi di Saree.

Bukan hanya orang dewasa, anak-anakpun ramah bila diajak bicara oleh ayah dari dua orang anak itu.

Tgk Muharuddin bersama santri di Dayah Ahlusunnah Wal Jamaah, Bener Meriah

“Cut Meutia, salah seoarang perempuan yang harus ada di DPRA, ” kata Teungku Muhar membalas penilaian Cut Meutia.

Begitulah, Teungku Muhar. Jika ia berkomunikasi, bahasa tubuhnya ikut membantu teman bicara nyaman dan betah berbicara. Saat iya menyampaikan tausiah, rasa adem menebar ke semua pendengar. Tidak ada orasi penuh kebencian, bahkan untuk kejadian yang menimpa dirinya.

Tgk Muhar tausiah di Maulid Nabi, Bener Meriah

Orang-orang yang setia bersamanya juga terlihat senang, bahkan yang kerap menyupirinya. Tegurannya lembut kala mengingatkan agar menyetir lebih pelan. Di dalam pertemuan, dia lebih banyak mengajak tim suksesnya berkerja dengan sebaik-baik komunikasi tanpa perlu membangun konprontasi.

“Bek sagai neu bri komentar yang negatif. Pu yang terjadi adalah hal biasa, lumrah dan bukan sesuatu yang aneh jadi neu tulong peudame suasana, ” kata Teungku Muhar dalam kesempatan bertemu dengan tim suksesnya.

Tgk Muhar bersama timses di Aceh Utara

Selebihnya, alumnus Pasantren Modern Misbahul Ulum itu, menyampaikan pandangan politiknya bagi memajukan Aceh. Menurutnya, gagasan politik Aceh harus menyebar ke level nasional.

“Kita harus sebar gagasan politik Aceh ke berbagai lini di level nasional agar cita-cita politik kesejahteraan juga menggema di kekuatan politik nasional, ” sebutnya.

“Bah loen ngon Wardah yang peukuat di lokal, bek sampe gairah politik Aceh padam,” sebut Cut Meutia yang dibenarkan Ketua Putro Aceh Kuta Pasee, Wardah: “Ka beutoi nyan.”

Cut Meutia tentu punya sisi yang juga unik dan tergolong spesial. Warna perempuan Aceh sangat kental. Dia tidak mau harus berbasa-basi apalagi pada ketidakbenaran. Suaranya langsung menghentak bila tak sesuai dengan yang dirasakannya.

Jika melihat sebuah kejanggalan, ia langsung angkat bicara, walau terkadang harus berbeda dengan pimpinan partai politiknya. Tapi, meski begitu rasa hormatnya kepada pemimpin tidak berkurang.

“Saya menyampaikan, tanpa mengurangi rasa hormat, ” sebutnya yang kerap kali lantang bagai singa marah bila melihat indikasi penghancuran Aceh. “Han ek ku pako, ku lantak saja nyo na agenda yang peurugo Aceh.”

Wardatul Jannah beda lagi. Sosok yang tenang ini punya rentak sendiri bila bicara tentang parlemen. “Kali nyo politisi lokal harus beudoh teuma, pedong loem politik Aceh di ateuh geunareh, hek memang, tapi harus penuh perjuangan, ” sebutnya.

Begitulah Teungku Muhar dan Cut Meutia serta Wardah, yang bertekad menjadi orang-orang yang akan mewarnai parlemen, untuk Aceh.