Baranom dan Keurupuk Mulieng Beureunuen

Dara Beureunun canden that boh ming, keurupuk mulieng teumon bu cot uroe.

Jangan pernah mencari Gampong Beureunuen, karena Anda tidak akan pernah menemukannya, demikian juga kecamatan, konon lagi mukim. Beureunun adalah nama keude (kota, pusat keramaian) yang berdiri di atas dua gampong yaitu Gampong Baro Yaman dan Baro Barat Yaman, di Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie.

Seperti Matangglumpangdua yang mampu mengalahkan nama besar Kecamatan Peusangan, begitulah hegemoni Beureunuen atas Mutiara. Sebuah wilayah imajiner yang justru mengalahkan nama daerah yang ada di dalam administrasi negara.

Keude Beureunuen atau kini disebut Kota Beureunuen, disebut-sebut sebagai kota tersibuk selain Sigli di Pidie. Denyutnya bukan hanya siang hari, tapi hingga malam hari, masih saja aktivitas jual beli berlangsung.

Di Mesjid Agung Beureunuen terdapat makam ulama POESA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) Teungku Daoed Beureueh, yang merupakan cendekia Islam dari kelompok “pembaharu” yang dalam sejarah pergolakan di Aceh memiliki sepak terjang yang kontroversial. Beberapa waktu lalu, mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah pernah harus keluar dari kompleks mesjid ini dengan “menumpang” panser polisi, karena diusir oleh kelompok yang mengklaim diri Aswaja (kelompok Islam tradisional, berpatron ke dayah bermazhab Syafii) yang memang sejak lama tidak pas dengan grup Zaini Abdullah yang disebut-sebut sebagai “kader” organisasi pembaharu yang kerapkali membid’ahkan amalan pengikut Mazhab Syafii. Pengusiran itu sendiri karena Zaini dinilai mendukung kelompok pembaharu yang juga membuka kegiatan komunitas di mesjid itu.

***
Pada Minggu malam (2/12/2018) saya bersama teman singgah di Keude Beureunuen. Kami dalam perjalanan pulang ke Bireuen dari Banda Aceh. Teman saya yang bernama Razack, seorang dokter yang masih muda spesialis penyakit dalam, ingin membeli keurupuk mulieng, yang menjadi ciri khas Beureunuen.

Ya, di Kota Beureunuen keurupuk mulieng atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai kerupuk melinjo, tersedia sangat banyak. Semacam super center, yang menyediakan ragam kualitas kerupuk yang tidak ramah bagi pengidap asam urat.

Di Aceh, keurupuk mulieng duduk di kasta tertinggi sebagai kerupuk kelas mewah. Mungkin, bila diklasifikasikan dengan jenis kartu ATM salah satu bank swasta, jenisnya di kelas Platinum Plus. Tidak ada kerupuk mulieng yang low class, yang ada hanya medium hingga high class.

Kerupuk mulieng kelas premium dibuat dari biji melinjo mengkal di pohon, kulit bulirnya sudah merah menyala, sedangkan tempurung bijinya sudah coklat kehitaman. Daging buahnya putih bersih. Tampilan kerupuk mulieng kelas premium sangat bersih, putih nyaris tanpa cacat.

“Di sini, untuk yang sangat bagus harganya 70 ribu rupiah per kilogram. Mungkin kalau di luar Beureunuen akan lebih mahal,” ujar seorang pedagang sembari menimbang kerupuk mulieng yang dipesan pembeli.

Tidak ada harga di bawah Rp50 ribu, demikian pernyataan pedagang. Maka wajar bila kerupuk mulieng memang berada pada strata elite. Bahkan tidak semua orang di Aceh memakannya, bilapun ada, kebetulan saja kala menghadiri kenduri atau maulid.

Kerupuk mulieng adalah komoditas, walaupun bukan yang utama, tapi menjadi trade mark Beureunuen. Semua produksi melinjo rumahan dibawa ke Beureunuen, dari kota inilah kerupuk mulieng kemudian dikirim ke berbagai kota di Aceh, juga ke luar daerah.

Malam itu, tidak ada yang menjawab laju-laju per bulan tiap toko yang menjual kerupuk melinjo. Mereka mengaku tidak ingat. Tapi, beberapa pedagang mengatakan bahwa permintaan konsumen sangat tinggi, bisnis kerupuk melinjo sesuatu yang menguntungkan.


Melinjo sepertinya berjodoh dengan tanah Pidie. Walau bisa tumbuh subur di mana saja, tapi soal bulir melinjo, hanya tanoh Pidie yang mampu memproduksinya. Sama seperti pala yang hanya lebat berbuah di Aceh Selatan dan rumbia banyak di Aceh Barat, begitulah melinjo yang berbuah lebat di kampung-kampung di Pidie. Seperti lebatnya buah pinang di Kabupaten Bireuen.

Saya banyak berteman dengan orang-orang Pidie dari berbagai kecamatan, dari banyak cerita mereka, selalu saja punya pengalaman menjadi petani melinjo ketika kecil. Bahkan ada kisah, seorang keponakan nekat menjual “tabungan” biji melinjonya, untuk membayar biaya kuliah pamannya, yang tiba-tiba pulang kampung untuk mengabarkan membutuhkan uang kuliah kepada kakaknya. Sang paman yang kini telah sukses menjadi anggota DPRA selama tiga periode adalah Drs. Sulaiman Abda, M.Si, yang ketika tiap pulang ke Teupin Raya, Pidie, selalu menjenguk sang keponakan yang kini membuka usaha jahit baju bersama suaminya.

Baranom

Dari mana asal mula nama Beureunuen? Dari banyak cerita, salah satu yang menarik adalah tentang baranom. Pada suatu ketika kawasan yang kini disebut keude Beureunuen, dilanda banjir besar. Tingginya air mencapai para-para rumah. Dalam bahasa Aceh para-para disebur bara, nah ketika banjir itu air yang tinggi melebihi bara rumah. Sehingga disebut bara nom atau para yang tenggelam, begitulah tinggi airnya.

Oleh perjalanan waktu, kata baranom pun berevolusi oleh lidah manusia hingga menjadi Beureunuen. Tentang perubahan nama, terlepaa dari benar atau keliru kisah baranom, merupakan sesuatu yang biasa di dalam ilmu bahasa dan budaya. Perubahan nama sebuah daerah kerap punya hubungan dengan lidah orang luar yang mendominasi atau karena keputusan politik.

Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh sekarang disebut Ule Le. ULe Le kian nyaman di lidah karena kekeliruan pengucapan oleh jurnalis luar Aceh kala meliput tsunami. Walau secara sejarah, kekeliruan itu dimulai oleh kafir Belanda yang mengucap dan menulisnya dengan nama Olele.

Hal yang sama juga berlaku untuk Saree yang dalam bahasa Indonesia bermakna rata, kini disebut Sare (seperti menyebut nama Gareng, begitulah bunyi e) (penulisan tetap saree) yang tidak memiliki arti sama sekali.

Well, bila Anda ingin berbelanja keripik melinjo dengan ragam pilihan, singgahlah di Beureunuen. Tenang, penjualnya ramah-ramah (ramah khas Aceh), selama Anda tidak menawar harga secara tidak berkeprimanusiaan, maka Anda akan tetap dilayani dengan baik. Bahkan mereka tak segan menambah sedikit –bila Anda beruntung–

Di Beureunuen, bukan hanya dijual kerupuk melinjo, juga tersedia sagu dan kerupuk kulit kerbau yang khas di sana. Lets go ke Beureunuen![]