Pemilihan Umum Bukan Perang

Oleh Wahyu Candra*)

Pemilu atau pemilihan umum merupakan proses memilih orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa.

Mendengar kata pemilu, mayoritas masyarakat saat ini pasti langsung berfikir tentang pilpres dan Pileg 2019 yang pada saat ini telah melewati beberapa tahapan.

Pemilu sejatinya adalah sebuah pesta rakyat dalam berdemokrasi atau biasa disebut dengan pesta demokrasi. Sehingga seharusnya masyarakat memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap perjalanan pesta tersebut dari tahap awal sampai ke tahap akhir.

Tapi kenyataan yang kita saksikan hari ini adalah pemilu sudah tidak seperti layaknya sebuah pesta namun lebih seperti perang yang penuh dengan strategi untuk mencapai tujuan masing-masing, mulai dari perang strategi partai dengan partai, caleg dengan caleg, caleg dengan masyarakat, hingga tahap yang memprihatinkan yaitu antara masyarakat dengan masyarakat.

Masyarakat yang saya maksud adalah masyarakat yang mengambil momen pemilu sebagai sumber mencari keuntungan. Sehingga timbullah kelompok-kelompok yang diisi oleh masyarakat-masyarakat yang mendukung capres atau caleg masing-masing dengan tujuan tertentu, dan akibat yang terjadi dari semua itu sangatlah tidak sehat bagi sebuah pesta. Pesta yang seharusnya mewah, bergembira bersama tapi malah terkotak-kotak, terpisah sehingga menjadi kecil-kecil dan penuh dengan pertunjukan yang tidak seharusnya, dengan tujuan untuk menunjukkan kelompok masing-masing adalah kelompok yang paling mampu untuk menguasai pesta.

Ada beberapa contoh pertunjukan penguasaan pesta demokrasi tersebut yang dilakukan oleh peserta pemilu dan masing-masing kelompok pendukung yang merubah pesta menjadi perang, seperti politik propaganda, pembunuhan karakter, hingga hal yang sangat berbahaya sekali yang selama ini telah mampu mengubah mindset masyarakat terhadap demokrasi yaitu money politik.

Efek negatif dari semua itu adalah akan terjadi keretakan hubungan dalam bermasyarakat mulai dari kesenjangan sosial, rasa saling membenci dalam masyarakat hingga calon yang nantinya mendapatkan amanah akan abai terhadap tanggung jawab amanahnya karena alasan semua suara yang diperolehnya adalah sudah dibayar.

Jelas hal tersebut merupakan sebuah kerugian yang sangat besar dari sebuah pesta yang harusnya memunculkan kegembiraan, kebahagiaan dan juga prinsip dasar pesta demokrasi yaitu jujur dan adil.

Maka dari itu, kita sangat berharap kepada pihak yang menjadi peserta pemilu agar tidak membuka ruang-ruang kehancuran pesta demokrasi seperti yang tersebutkan di atas. Karena, jika ruang tersebut tidak di buka oleh para peserta maka otomatis masyarakat pun tidak akan terjebak untuk menjadi bagian dari pelaku rusaknya pesta demokrasi tersebut.

Bicara pertarungan atau perang dalam meraih kursi, money politik merupakan sebuah tindakan yang sangat berbahaya, selain mampu mempengaruhi perilaku orang lain untuk mengikuti permintaannya, money politik juga mampu mengubah cara pandang masyarakat tentang perlu atau tidak perwakilan rakyat di parlemen.
Sangat disayangkan jika sistem demokrasi yang memberi kebebasan kepada rakyat untuk memilih secara langsung lalu dimanfaatkan sebagai arena permainan politik yang bertolak belakang drngan prinsip-prinsip pemilu yang jujur dan adil.

Begitulah politik, orang bisa lakukan apa pun, bahkan tak segan-segan menjilat ludah sendiri walaupun di hadapan publik.

Wilayah money politik itu luas, bukan hanya membeli suara rakyat, tapi juga memungkinkan membeli hukum, agar penyelenggara pemilu, saksi dan penegak hukum tidak menyalahkan kegiatan praktik uang yang dilakukannya.

Akibat dari money politik tersebut juga sangat buruk, karena akan melahirkan pemimpin atau perwakilan yang selalu membanggakan sisi materi, tidak mencintai rakyat dan selalu berpikir untuk mengembalikan modalnya, bahkan ingin meraup keuntungan yang lebih besar, seperti yang sering kita dengar adanya proyek aspirasi yang ujung-ujungnya untuk mendapatkan fee dari proyek aspirsi tersebut.

Jika itu semua terjadi maka sudah terlukis jelas di hadapan kita bahwa kita semua akan berada di masa depan yang suram, penuh kemiskinan, kesenjangan sosial bahkan permusuhan merupakan kenyataan yang pasti akan kita rasakan.

Maka dari itu harapan yang paling utama tertuju kepada peserta pemilu agar benar-benar menjadi peserta pesta dalam berdemokrasi dan bukannya malah menjadi peserta perang yang berfikir menyiapkan pasukan dan persenjataan untuk menyingkirkan siapapun yang dianggap lawan.

Oleh sebab itu, mari kita semua seluruh masyarakat untuk berperan aktif menjadi pelopor diplomasi untuk mencegah perang politik menyimpang itu terjadi.

*)Jubir KRB (Koalisi Rakyat Bersatu)