Merawat Kebudayaan Aceh Melalui EKA

ACEHTREND. COM, Banda Aceh – Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, pada tahun 2018 ini telah menerbitkan Ensiklopedia Kebudayaan Aceh (EKA), sumber informasi komprehensif tentang masyarakat dan kebudayaan Aceh.

Kehadiran EKA ini sekaligus adalah realisasi dari program Aceh Hebat, khususnya program Aceh Meuadab.

Program EKA ini cukup monumental mengingat inilah sumber tertulis yang menginformasikan secara cukup lengkap tentang masyarakat Aceh dengan segala aspek kebudayaannya dan dicetak dengan tampilan eksklusif berisikan narasi dan foto-foto visual.

EKA ini menjadi penting karena ia juga hadir pada momentum yang tepat. Selain adalah turunan program Aceh Meuadab di tingkat provinsi, ia juga sangat sejalan dengan strategi kebudayaan nasional yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat sebagaimana tertuang dalam UU No. 5 Tahun 2017, Tentang Pemajuan Kebudayaan, dimana turunannya mengamanahkan penyusunan Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) sebagai dokumen strategis pembangunan dan pemajuan kebudayaan nasional Indonesia di masa-masa yang akan datang.

Maka itu dalam konteks strategi pemajuan kebudayaan yang telah menjadi program nasional, Aceh boleh berbangga karena berada di garis depan, dan telah sangat maju dengan menghasilkan Ensiklopedia Kebudayaan Aceh.

Sampai saat ini, masih bisa sangat jarang daerah di Indonesia yang telah menyusun ensiklopedia kebudayaan daerahnya masing-masing.

Pada puncak Konggres Kebudayaan Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hari ini (09/12), yang juga merupakan agenda lanjutan paska penyusunan PPKD, dengan semangat yang sama Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah pun juga menekankan pentingnya upaya merawat khasanah kebudayaan daerah.

Dalam hal ini tentu keberadaan EKA adalah turunan dari semangat yang disampaikan oleh Plt. Gubernur Aceh tersebut.

Kepada aceHtrend, penggagas penyusunan Ensiklopedia Kebudayaan Aceh, Bulman Satar, mengatakan penyusunan EKA adalah sebuah ikhtiar untuk menghimpun semua informasi tentang karakter masyarakat dan kebudayaan Aceh dalam sebuah sumber tertulis, berbentuk ensiklopedia.

Jadi penyusunan EKA ini kita maksudkan untuk merekam dan melestarikan kebudayaan Aceh dalam sebuah media baca, sehingga memudahkan setiap orang, siapa saja, untuk mengakses pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan Aceh.

“Sekaligus juga EKA ini menjadi bagian dari promosi wisata budaya Aceh,” kata Bulman.

EKA ini lanjut Bulman, memiliki arti strategis juga karena ia adalah program all in one yang mencakup empat aspek pemajuan kebudayaan yaitu, edukasi, konservasi, revitalisasi, dan promosi.

“Namun tentu saja sebagai sebuah ensiklopedi budaya karya ini belum final, masih ada kekurangan di sana-sini, maka perlu direvisi dan terus disempurnakan di masa-masa yang akan datang,” tambah Bulman. []

KOMENTAR FACEBOOK