Banda Aceh Masuk Kota Intoleran, Anggota DPRK Pertanyakan Indikator Survey

Sabri Badruddin (Klikkabar)

ACEH TREND.COM, Banda Aceh – Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Kota (DPRD) Banda Aceh Sabri Badruddin mempertanyakan indikator survei yang digunakan oleh Setara Institut, sehingga menempatkan Kota Banda Aceh sebagai kota dengan toleransi sangat rendah di Indonesia.

Dalam rilisnya yang diterima aceHTrend, Senin (10/12/2018) Sabri mempertanyakan kevalidan survei Setara Institut yang telah menempatkan Banda Aceh nomor dua terbawah setelah Tanjung Balai sebagai kota rendah toleransi.

“Seharusnya lembaga tersebut menjelaskan indikator apa yang digunakan oleh dalam penilaian indeks kota toleran tersebut,” kata Sabri.

Menurut Sabri ini sangat aneh dan tidak masuk akal, karena pada kenyataannya sejak abad ke-17 kaum minoritas telah datang ke Aceh, dan sejak itu pula belum pernah tercatat dalam sejarah kaum minoritas terusik di Banda Aceh.

“Belum pernah ada konflik horizontal antar umat beragama, minoritas bebas beribadah dengan nyaman menurut agamanya masing-masing, meski di Banda Aceh menerapkan syariat Islam, tapi masyarakat di Banda Aceh saling menghormati dan tidak saling mengusik, ” kata Sabri.

Anehnya lagi, ujar Sabri dalam penilaian IKT tersebut telah menempatkan kota Ambon dan Kupang masuk dalam 10 besar kota dengan toleransi yang tinggi, padahal sejarah mencatat kedua kota tersebut pernah terjadi konflik antar kelompok agama yang berbeda.

Oleh karenanya Sabri meminta kepada Setara Institut untuk menjelaskan ke publik, indikator apa yang digunakan dalam riset ini dan bagaimana pula metode yang digunakan.

“Apabila perlu setara Institut melakukan riset ulang. Karena riset ini jelas-jelas telah merugikan dan mendiskreditkan Kota Banda Aceh di mata masyarakat luar, ” ujar Sabri.

Editor: Muhajir Juli

KOMENTAR FACEBOOK