Ulama Sufi di Ruang Politik Praktis

Khairul Umam.

Oleh Khairul Umam*)

Dalam dimensi ruang dan waktu, sebuah paham atau aktivitas dalam masyarakat yang sudah mengakar tidak bisa kita pungkiri akan menyentuh hal-hal yang kita pikir selama ini bukanlan tempat nya untuk berkembang. Berbagai macam hal-hal atau aktivitas yang dulu hanya dilakukan oleh sebahagian masyarakat, kini dapat dilakukan oleh masyarakat manapun serta di manapun. Serta Aktivitas-aktivitas yang kegunaannya hanya sebatas ruang lingkup tertentu, kini sudah bisa digunakan di ruang lingkup manapun sejauh itu berguna di tempatnya. Seperti halnya tarekat dan politik.

Tarekat dan politik jika secara harfiah kita pahami merupakan dua aktifitas yang sangat jauh perbedaannya. Jika boleh dan bisa, tarekat dan politik bisa kita analogikan seperti bumi dan langit yang berjarak sangat jauh dan tidak bersentuhan sama sekali. Namun jika kita perhatikan secara jeli, bumi dan langit adalah dua elemen yang tidak bisa kita pisahkan dan saling melengkapi meski jarak memisahkan mereka berdua. Ini sama halnya dengan tarekat dan politik.

Tarekat dan politik jika kita tinjau dari sudut terminologi merupakan dua hal yg berbeda. Tarekat jika kita defenisikan secara sederhana sering dihubungkan dengan dua istilah lain, yakni syariat (syari’ah) dan hakikat (haqiqah). Kedua istilah tersebut dipakai untuk menggambarkan peringkat penghayatan keagamaan seorang muslim. Penghayatan keagamaan peringkat awal disebut syariat, peringkat kedua disebut tarekat, sementara peringkat yang tertinggi adalah hakikat.

Syariat merupakan jenis penghayatan keagamaan eksoterik. Adapun hakikat secara harfiah berarti ”kebenaran”, namun yang dimaksud dengan hakikat di sini ialah pengetahuan yang hakiki tentang Tuhan yang diawali dengan pengamalan syari’at dan tarekat secara seimbang. Kemudian, aktivitas yang dilakukan pun sangat jauh dari keramaian dan lalulalang masyarakat dan terpinggirkan disudut-sudut daerah terpencil. Ini sangat berbeda jauh dengan politik, yang jika kita pahami secara dasar merupakan satu aktivitas dan kegiatan demi mecapai satu kekuasaan yang katanya sebagai alat untuk memperjuangkan sesuatu yang layak diperjuangkan. Dan politik sangat dekat dengan keramaian, di mana ada satu aktivitas mobilisasi massa dan hal-hal lainnya dalam satu usaha mencapai keinginan yang dimimpi-mimpikan. Kontras kita rasa jika secara terminologi sudah sangat berbeda ruang lingkup dan tujuan yang ingin dicapai. Namun, jika kita berbicara terekat dan politik kemudian menelusuri hubungan keduanya, dapatkah kita temukan titik temu antara dua kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut?.

Jika kita baca dan memahami sejarah umat Islam, tarekat yang dilakukan oleh para sufi juga sangat dekat dengan panggung politik sejarah umat Islam. Misalkan, dahulu di zaman ke Kekhalifahan Muawwiyah, beberapa sufi juga dengan aktif mengkritisi kebijakan serta gaya hidup Muawwiyah yang melimpah serta bermewah-mewahan yang harus kita akui sangat jauh dari cita-cita umat muslim saat itu. Jelas dapat kita ketahui bahwa aktivitas tarekat yang dilakukan oleh para sufi juga begitu dekat dengan politik umat Islam zaman dulu.

Kemudian, selain dari sedikit catatan sejarah yang saya tulis di atas, eksistensi tarekat dalam rentetan sejarah umat manusia khususnya di panggung politik juga banyak mencatat dan menorehkan tinta emas. Maksudnya, tidak bermaksud menelusuri kehebatan mereka, namun yang ingin kita cari adalah bahwa ada peran kaum sufi melalui tarekat mereka dalam keterlibatan mereka di panggung politik. Misalkan gerakan-gerakan mereka dalam dimensi memberantas kolonialisme dan ada beberapa dari mereka yang kemudian mendirikan parpol untuk perjuangan politik mereka di negeri ini.

Pertama, keterlibatan kaum sufi melalui tarekat mereka telah dicatat oleh sejarah telah melakukan berbagai macam gerakan politik dalam menumpas aktivitas Kolonialisme di berbagai belahan dunia, salah satunya adalah Konstantinopel yang hari ini kita kenal dengan negara Turki. Saat itu, Sultan Muhammad Al-Fatih sebagai pemimpin umat Islam banyak melibatkan para ulama sufi melalui tarekat (darwis) banyak melakukan aktifitas-aktivitas jihad dalam merebut kota kontanstinopel pada tahun 1453 M. Para sufi dilibatkan secara aktif kedalam barisan perjuangan untuk ikut serta membantu perjuangan sang sultan, hingga banyak aktifitas kerohaniaan dari para sufi seperti berpuasa agar jiwa mereka kuat juga dilakukan oleh sultan saat itu demi melancarkan perjuangan mereka. Nampak bahwa para Sufi yang kita pahami sibuk dengan tarekat serta kesendirian mereka juga sangat aktif dalam usaha-usaha politik mereka demi satu cita-cita umat Islam saat itu.

Kemudian, selain perjuangan politik umat Islam saat itu yang dilakukan oleh para sufi melalui tarekat-tarekat mereka di awal-awal sejarah umat Islam. Beberapa dekade yang lalu, di Indonesia sendiri jika kita fikir bahwa panggung politik hanya dikuasai oleh para politisi serta tokoh-tokoh nasionalis lainnya tanpa ada keterlibatan ulama sufi adalah satu kekeliruan. Dulu pada tahun 1928 dan awal-awal kemerdekaan Indonesia tepatnya di masa Orde Lama melalui Syiek Hadji Jalaludin Bukit tinggi dengan tarekat Nasyabandiah juga ikut mempelopori terbentukknya Persatuan Tarbiyyah Islamiah (PERTI) dan Persatuan Tarekat Islam (PTI). yang kemudian gerakan-gerakan mereka sangat aktif dan juga diikuti oleh para ulama sufi Nahsyabandiah saat itu.

Jelas bahwa saat itu para ulama sufi gencar dengan gerakan-gerakan mereka sangat aktif dalam melakukan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hingga setelah Orde Lama, Orde Baru sebagai masa-masa setelah soekarno juga banyak keterlibatan para ulama sufi seperti Syiekh Makmun juga turuk ikut dalam proses demokratisasi bangsa Indonesia melalui tarekat-tarekat mereka. Dari secercah rentetan sejarah di atas dapat kita pahami bahwa peran ulama sufi melaluii tarekat mereka juga aktif dalam euforia politik sejarah dunia.

Kemudian, dari pembahasan di atas tentu kita mengerti bahwa kehadiran ulama sufi melalui tarekat mereka tidak hanya bernuansa individualistik yang erat dengan kesendirian dan kesepian mereka. Namun kehadiran ulama sufi yang biasa beraktifitas dalam tataran pembersihan diri dan hati juga diperlukan oleh politik agar lebih dingin dan tidak kering. Terbukti, kehadiran para ulama sufi dengan beragam tarekatnya bisa mewarnai perjuangan politik umat Islam di awal-awal sejarahnya dan politik Indonesia di awal-awal kemerdekaan.

Namun juga perlu kita ketahui, kehadiran para ulama sufi dalam panggung politik tentu tidak didasari oleh satu alasan saja. Misalkan perjuangan politik yang mereka lakukan tentu tidak didasari oleh semangat perubahan serta kemakmuran yang mereka perjuangkan. Namun juga ada alasan-alasan pragmatis lainnya di mana semangat perjuangan yang dilakukan oleh ulama sufi tidak dapat kita pungkiri berakhir pada keuntungan pribadi mereka. Maksudnya, bukan kita mendiskreditkan perjuangan-perjuangan yang mereka lakukan. Namun, kita coba melihat sejarah dengan mata yang terang dan jujur bahwa ada di antara rentetan sejarah perjuangan kaum sufi di arena politik yang berakhir pada sifat pragmatis yang mengedepankan kepentingan pribadi mereka. Tentu itu sudah hukum Tuhan di mana tidak semua perjuangan yang dilakukan oleh pelaku sejarah tidak bisa kita kategorikan sebagai perjuangan untuk orang-orang banyak, namun juga ada perjuangan-perjuangan demi keuntungan pribadi.

Namun terlepas dari semua itu, harus kita akui bahwa keterlibatan para ulama sufi dalam panggung politik harus kita apresiasi. Mengingat, persepsi masyarakat selama ini bahwa para ulama sufi terkadang sibuk dengan Kesendirian mereka serta aktifitas yang meminggirkan diri mereka dari lalu lalang masyarakat. Ini menjadi satu pembuktian bahwa para ulama sufi juga bisa terjun ke dalam dunia politik demi memperjuangkan hak-hak rakyat. Hak-hak rakyat dalam artian adalah keadilan sosial dan keadialan ekonomi serta perjuangan-perjuangan kemanusiaan lainnya yang dibutuhkan rakyat banyak. Terakhir, ke depan kita berharap bahwa, panggung politik khususnya di Indonesia juga bisa terus diwarnai oleh para ulama sufi yang tugas mereka tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, namun juga bisa mengutamakan keutuhan serta Keadilan. Karena seperti yang kita ketahui, hari ini masyarakat sangat merindukan satu perubahan yang terkadang tidak dapat dikabulkan oleh para politisi Kita di negeri ini.

*)Penulis adalah Ketua HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin.

KOMENTAR FACEBOOK