Membongkar Stigma Buruk Soal HOTS Saat Ujian Nasional

Ilustrasi soal HOTS

Oleh Ahmadi M. Isa, M.Pd*)

Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) merupakan bagian dari sistem pendidikan Nasional. UN merupakan sistem evaluasi standar nasional untuk pendidikan dasar dan menengah. Sebagai bagian dari evaluasi, pada tahun 2015 Indonesia melakukan perbandingan tingkat kemampuan (benchmark) secara internasional dengan mengikuti Trend in International Mathematic and Science Study (TIMSS) dan Programme for International student Assesment (PISA).

Hasil TIMSS untuk kelas IV Sekolah Dasar, Indonesia mendapatkan rata-rata nilai 397 dan menempati peringkat 4 terbawah dari 43 Negara yang mengikuti TIMSS. Sedangkan hasil PISA, Indonesia mendapatkan rata-rata nilai 403 untuk sains (peringkat ketiga dari bawah), 397 untuk membaca (peringkat terakhir), dan 386 untuk matematika (peringkat kedua paling bawah) dari 72 Negara yang mengikutinya (Sumber: Buku Penilaian Berorientasi HOTS).

Atas dasar itulah pemerintah berupaya melahirkan regulasi-regulasi baru yang mampu meningkatkan mutu lulusan. Adapun beberapa regulasi tersebut adalah: PERMENDIKBUD No. 20 tahun 2016 tentang standar kompetensi lulusan, PERMENDIKBUD No.21 tahun 2016 tentang standar isi pendidikan dasar dan menengah, PERMENDIKBUD No.22 tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah, PERMENDIKBUD No.23 tahun 2016 tentang standar penilaian pendidikan, PERMENDIKBUD No.24 tahun 2016 tentang kompetensi inti dan kompetensi dasar pada Kurikulum 2013 pada pendidikan dasar dan menengah, dan PERMENDIKBUD No.20 tahun 2018 tentang penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan.

Dasar-dasar hukum tersebut adalah beberapa dari banyaknya dasar hukum yang mengharuskan peserta didik meningkatkan standar lulusan yang tentunya mampu bersaing secara internasional. Maka atas dasar ini, pemerintah merancang sistem pembelajaran dan penilaian berorientasi pada berpikir tingkat tinggi atau HOTS (Higher Order Thinking Skills).

Konsep Dasar Higher Order Thinking Skills

HOTS adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar (Resnick: 987).

Lebih lanjut, kemampuan berpikir tingkat tinggi atau HOTS merupakan proses menganalisis, merefleksi, memberikan argument (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, dan menciptakan. Dengan kata lain, berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).

Proses berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Agar siswa memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajaran juga memberikan ruang kepada siswa untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas yang dapat mendorong siswa mengembangkan kreativitas dan berpikir kritis.

Menjadikan Siswa Hot

Sistem pembelajaran HOTS merupakan sebuah sistem yang bertujuan meningkatkan standar kelulusan peserta didik pada lingkup pendidikan dasar dan menengah. Sistem pembelajaran HOTS tentunya banyak menyerap energi siswa karena diharuskan berpikir ke tingkat yang lebih tinggi. Bagaimana tidak, seorang siswa harus mampu menganalisis masalah, menginvestigasi masalah, memecahkan masalah, kreatif dan berpikir kritis.

Permasalahan nyata adalah mayoritas siswa tidak mampu memenuhi kriteria yang diinginkan. Kebanyakan dari siswa hanya mampu berpikir pada tingkat yang rendah bahkan di bawah standar atau LOTS. Buktinya, ketika siswa diberikan beberapa soal yang bersifat HOTS pada suatu materi yang diajarkan, maka mereka mengalami kewalahan dan menghabiskan banyak energi yang dianalogikan dengan hot (kepanasan). Tentunya ini berpengaruh terhadap tingkat kelulusan siswa.

Ada tiga sumber utama yang menyebabkan permasalahan ini terjadi, yang pertama bersumber dari peserta didik atau siswa, kedua bersumber dari pendidik atau guru, dan yang terakhir bersumber dari lembaga pendidikan atau sekolah.

Permasalahan yang bersumber dari peserta didik atau siswa adalah kurangnya minat membaca atau literasi. Permasalahan ini adalah umum terjadi pada siswa terutama di daerah-daerah terpencil. Menurut data UNESCO, dari total 61 Negara Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah. Peringkat 59 diisi oleh Thailand, dan peringkat terakhir diisi oleh Bostwana. Sedangkan peringkat pertama diisi oleh Finlandia dengan tingkat literasi tinggi hampir mencapai 100%.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan minat membaca masyarakat Indonesia masih rendah. Pertama, karena tidak adanya kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Kedua, minimnya fasilitas serta sarana dan prasarana di sekolah yang menunjang siswa untuk membaca. Ketiga, kurangnya produksi buku di Indonesia yang didistribusikan ke daerah-daerah. Terakhir, tayangan hiburan di TV dan media lainnya banyak tidak mendidik bahkan merusak moral anak.

Permasalahan selanjutnya yang bersumber dari pendidik atau guru adalah kurangnya kompetensi dalam mengajar. Berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, menyatakan bahwa seorang guru harus mampu menguasai empat kompetensi utama yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional yang diperoleh dari pendidikan profesi.

Guru adalah panutan bagi siswa, keberhasilan siswa tidak terlepas dari usaha guru dalam memberikan pengajaran yang baik. Pengajaran yang baik tidak bisa didapatkan siswa apabila guru tidak mempunyai standar kompetensi yang bagus. Maka dengan itu, pemerintah telah berupaya memberikan pelatihan kompetensi guru dan tindak lanjutnya dilakukan evaluasi berupa Uji Kompetensi Guru (UKG).

UKG adalah bentuk kegiatan untuk menilai kemampuan guru menguasai empat kompetensi tersebut menurut bidang yang diajarkannya. Guru yang memperoleh nilai yang lebih tinggi dari limit yang ditentukan, maka diharapkan mampu mendistribusi pelajaran kepada siswa dengan lebih baik, menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan, menemukan tips dan trik dalam menjawab soal yang dianggap sulit atau HOTS.

Faktor permasalahan terakhir adalah berasal dari sekolah atau lembaga pendidikan. Sekolah adalah organisasi pendidikan yang di dalamnya terdapat sumber daya pendidikan yang dikelola oleh seorang manajer atau kepala sekolah. Kepala sekolah adalah tampuk utama dalam kontribusi memajukan sekolah. Maka oleh karena itu, kepala sekolah harus dibekali kemampuan manajemen kepemimpinan yang baik serta menguasai lima kompetensi yang berlaku pada kepala sekolah.

Kemampuan mengelola sumber daya pendidikan terutama guru dan peserta didik adalah suatu keharusan bagi kepala sekolah. Supervisi akademik merupakan upaya kepala sekolah untuk meningkatkan profesionalisme guru. Program yang mengarah kepada supervisi harus didukung dan dilaksanakan secara rutin dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat. Dengan demikian, kepala sekolah bisa menilai kemampuan guru dalam mengajar dan merancang perangkat pembelajaran untuk selanjutnya dilakukan evaluasi.

Supervisi berkelanjutan bagi guru tentunya memberi efek pada siswa dalam menguasai materi ajar. Guru yang telah dibina dengan baik maka akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Apabila siswa telah termotivasi untuk belajar, berangsur akan hilang sifat fobia terhadap materi sulit dan soal HOTS.

Mitos Tentang HOTS

Soal bersifat HOTS adalah momok yang menakutkan bagi siswa. Setiap tahun soal USBN atau UNBK selalu dihiasi oleh soal HOTS. Bahkan UNBK tahun 2019 diprediksi 75% soal adalah berbentuk HOTS. Tentunya ini menjadi tantangan bagi sekolah dan stakeholder untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Persepsi yang salah terhadap soal HOTS membuat siswa hot ketika dihadapkan dengan soal tersebut. Siswa beranggapan bahwa soal HOTS adalah soal yang sulit dan membutuhkan banyak waktu dan energi untuk menjawabnya. Sebenarnya, soal HOTS bukanlah soal yang sulit, namun soal HOTS adalah soal yang menuntut siswa bernalar lebih tinggi. Siswa mampu melakukan penalaran yang tinggi apabila guru terbiasa melatih memberikan soal berbentuk menganalisis, memecahkan masalah, berpikir kritis dan pengambilan keputusan. Soal berbentuk tersebut akan mudah dijawab siswa apabila guru mampu memberikan tips dan trik dalam menjawabnya.

Tips dan trik adalah solusi terbaik bagi siswa untuk menjawab soal HOTS. Tips dan trik adalah usaha menfasilitasi siswa dalam menjawab soal dengan memberikan stimulus pada setiap soal. Stimulus inilah sebagai media tambahan bagi siswa untuk mudah menjawab soal yang dianggap HOTS. Jadi mitos bahwa soal hot adalah soal sulit harus dibuang jauh-jauh. Soal HOTS tidak lagi menjadi hot bagi siswa, namun sebaliknya akan menjadi cool bagi siswa apabila menguasai dan memahami tips dan trik menjawabnya.

*)Penulis adalah guru SMA Negeri 1 Trienggadeng, Pidie Jaya dan staf pengajar STIT Darussalamah, Pidie.

KOMENTAR FACEBOOK