Meja Fitnah

Ilustrasi

Syahdan, di sebuah kota kecil di sebuah negeri di ujung sebuah pulau, terdapatlah sebuah lepau kopi yang dibuka setiap hari dan sudah melayani para pengunjung ketika salam terakhir salat Subuh. Pemilik lepau itu tidak pernah bertanya siapa yang sudah salat dan yang belum. Semua dilayani dalam kapasitas sebagai pembeli.

Di sebuah sudut lepau itu, ada sebuah meja memanjang, dengan deretan bangku yang mulai aus peliturnya. Meja itu selalu ramai, baik pagi, siang, maupun malam hari. Walau tidak ada batasan siapa saja boleh duduk di sana, tapi alam telah membuat klasifikasi, meja itu hanya untuk para “petualang” yang hidup dari mencekik orang lain. Meja itu telah melekat sebagai sebuah wilayah otonom bagi orang-orang yang selalu merencanakan, membuat, dan menyebarkan kabar bohong, atau kabar setengah bohong atau setengah benar.

Pernah suatu ketika, seorang pertapa dari Gunong Goh, ingin sekali duduk di sana. Ia penasaran dengan meja memanjang di sudut lepau. Dia tertarik dengan wajah-wajah yang kerap kali ia lihat hilir mudik di berbagai tempat, berlagak membela rakyat. Ia penasaran dengan jiwa-jiwa itu, yang menurutnya sangat suci nyaris tanpa dosa.

“Tuanku jangan ke sana, kalau masih ingin menjaga kekeramatan diri,” ujar sang penunjuk jalan.

“Mengapa dikau berkalam demikian, wahai sahaya yang beriman?” tanya sang pertapa.

“Mereka dulu, sebagiannya adalah orang-orang keramat. Tapi kini telah luntur disebabkan duduk dan bergaul dengan majelis itu,” kata sang penunjuk jalan.

“Apatah gerangan yang terjadi?” tanyanya penasaran.

“Meja itu telah dikutuk. Tepatnya telah menjadi terkutuk karena di sana banyak perbuatan terkutuk dirancang dan kemudian dijalankan. Betapa banyak orang-orang baik hancur reputasinya, akibat permufakatan busuk di meja itu. Tawa di sana adalah tawa penuh tipu daya. Air mata di sana adalah sandiwara,” ujar sang penunjuk jalan.

Sang penunjuk jalan pun semakin dalam bercerita, bila betapa hinanya meja memanjang dengan warna hitam manggis yang setiap pagi diletakkan gelas kopi, maidah, serta tangan-tangan para bandit yang tidak berperikemanusiaan.

“Sebegitu hinakah mereka?” tanya sang pertapa.

“Begitulah dunia telah memberikan stigma. Mereka yang duduk di sana itu, memiliki kekuatan batin yang telah mampu menyamai iblis senior sekalipun.”

“Apa itu?”

“Mereka mampu membunuh, tapi juga mampu datang dan memeluk yatim yang ayahnya mereka bunuh. Ini level kebengisan tertinggi manusia yang telah melampaui para iblis muda,” kata sang penunjuk jalan.

“apa nama tempat itu?” tanya sang pertapa.

“Meja fitnah.”[]

KOMENTAR FACEBOOK