Menyusuri Kanot Bu, Komunitas Seni di Antara Puing

Peserta diskusi novel Kura-kura Berjanggut, duduk di depan panflet KKB (Muhajir Juli/aceHTrend)

Terletak nun di sudut Banda Aceh, Komunitas Kanot Bu (KKB) layaknya periuk nasi yang berada di bahagian dapur. Kolompok kreatifitas yang digerakkan oleh para seniman dan sastrawan muda Aceh, bermarkas di sebuah lorong buntu di Gampong Emperom, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh.

Pada Sabtu siang, (15/12/2018) saya dan seorang rekan yang saya panggil Bang Adek–perantau asal Sumatera Barat yang kini telah beranak tiga dan usianya sudah berkepala empat– dengan Fortunernya, bergerak ke KKB.

Saya tidak asing lagi dengan nama KKB atau lebih akrab disebut Kanot Bu, sebuah komunitas yang sangat aktif berkarya. Di sana, mulai perupa, hingga penulis berkumpul. Setahu saya–bisa saja keliru– kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda indie yang berkarya sesuai isi hati.

Idrus bin Harun (bersender di pintu) salah seorang penggiat seni di KKB. (Muhajir Juli/aceHTrend)

Ketika pertama kali menapak di sana, saya menemukan sebuah diorama perang. Komunitas itu bermarkas di sebuah rumah tingkat dua, yang bagian bawahnya telah porak poranda. Seperti sisa eks tsunam, atau serupa dengan sisa pembeoman di Malawi. Begitu juga sebuah bangunan rumah yang tersisa sebahagian dinding, yang berada di sebelah kiri bangunan utama.

Ketika saya datang, suasananya lumayan becek di beberapa titik. Tanah pun terlihat basah, di beberapa sudut semut merah terlihat telah sukses membangun kerajaan.

Harusnya bangunan itu angker. Kondisi hancur-hancuran, bahkan sebuah bekas toilet juga masih terpampang dengan puing bak mandi. “Kolam” dadakan pun terhampar di lantai bekas bangunan rumah yang telah hancur lebur.

Tapi, di tangan para seniman-seniman itu, kekumuhan berhasil disulap menjadi sesuatu yang artistik. Mereka terkesan–begitulah saya berkesimpulan– mempertahankan originalitas tempat itu. Mungkin menjadi semacam refleksi tentang sesuatu.

Peta Aceh yang dibuat dari beling-beling. Tulisan : Bek Bicah, merupakan pesan yang sangat mendalam. (Muhajir Juli/aceHTrend)

Di lihat dari sudut apapun, wilayah kedaulatan KKB itu penuh dengan warna dan coretan-coretan satir, baik yang ditulis dengan bahasa Aceh, bahasa Indonesia maupun bahasa yang dimiripkan dengan Melayu lama.

Gambar-gambar yang artistik namun penuh gugatan, tulisan bertaut indah dengan isi penuh perlawanan, serta barang-barang bekas yang disulap menjadi benda seni yang penuh makna.

Hari itu, tidak seorangpun sempat saya wawancarai. Saya hanya menyapa alakadar seniman perupa Idrus bin Harun, Zulham Yusuf, sempat pula berpapasan dengan Reza Mustafa, dan sempat menyapa Muhadzir M. Salda, yang membalas dengan kata “Kiban Bos?” yang tidak saya jawab lagi, selain hanya membalasnya dengan senyum.

Di sana juga saya bertemu dengan Ihan Nurdin yang merupakan kompatriot saya di aceHTrend–tapi ketika hendak pulang saya baru melihatnya, padahal dia duduk justru di tempat saya berseliweran– dan banyak yang lainnya, termasuk Reza Indria, alumni Harvard, yang dulunya penggerak komunitas seni budaya Tikar Pandan.

Dinding-dinding sebuah puing bangunan, dijadikan kanvas tempat para perupa berekspresi. (Muhajir Juli/aceHTrend)

Kedatangan saya ke KKB adalah untuk mengikuti bedah novel Kura-Kura Berjanggut yang disingkat KKB. Buku setebal nyaris seribu halaman itu, ditulis oleh Azhari Aiyub selama 12 tahun. Ada tiga buku dalam satu novel itu, yang semuanya tentang khayalan tentang sebuah negeri Lamuri pada akhir abad 16 dan awal 17. Lupakan tentang bedah buku itu, karena akan saya tulis di kesempatan lain.

***
Di KKB, saya menemukan dua hal, pertama tentang seni dan kemerdekaan para seniman. Hal itu terlihat dari berbagai jejak mereka di dinding dan berbagai benda yang disulap sebagai wadah untuk mengekspresikan idealiasme dan gagasan.

Saya tidak bisa membayangkan bila segala coretan -coretan itu dibuat pada masa konflik. Tentu akan sangat tidak aman untuk dibuat sebenderang demikian.Dari semua ekspresi jiwa itu, saya menangkap satu hal: Para seniman itu sangat mencintai Aceh.

Kedua, tentang ketamaddunan, ya, walaupun di bahagian bawah penuh dengan corat-coret dengan ragam warna yang mungkin bagi sebagian orang tidak akan nyaman, tapi di lantai dua, tempat bereka berdiskusi dan beristirahat kala penat, suasana berbeda terlihat. saya mengambil ukurannya adalah toilet. Walau dihuni oleh para individu yang memiliki kemerdekaan tersendiri, mereka mampu mengelola toilet dengan sangat bersih. Bahkan untuk buang air kecil saja, alat kelamin harus diposisikan tepat di atas lubang toilet. Jangan coba-coba pipis di lantai, tulisan besar di dinging dengan bahasa Inggris, akan sangat menyakitkan hati. Hehehe.

Toilet adalah alat ukur paling mudah untuk melt perilaku sebuah komunitas. Ketika toiletnya bersih–walau tanpa petugas khusus– berarti banyak hal bisa dilakukan bersama mereka. 80 persen peluang untuk tidak ditipu terbuka lebar. Kejujuran selalu dimulai dari pengelolaan toilet.

Saya pun sempat melirik kamar yang disluap sebagai pustaka cum ruang untuk berdiskusi. Lantainya bersih, tak ada jelaga, serta tidak berbau apek. Bila kebetulan ada penganan yang terjatuh dari tangan, masih sanggup kita makan kembali.

Tentang Komunitas Kanot Bu

Penjelasan ini saya kutip dari website Komunitas Kanot Bu.

Komunitas Kanot Bu lahir pertengahan 2008. Semuanya berawal dari selembar spanduk. Ketika maraknya orang berebut naik jadi calon legislatif pada masa itu, yang mengiklankan (baca: kampanye) diri dengan berbagai baliho, spanduk, dan bentuk iklan lainnya; sebagai responsi terhadap fenomena ini beberapa anak muda membuat sebuah spanduk yang berbunyi: “Meunyoe Jabatan Ka Di Bloe, ‘Oh Hajat Sampoe Di Tarek Laba”, yang dilabelkan dengan Partai Kanot Bu. Kelak spanduk ini dinaikkan di salah satu sudut pasar Meureudu, Pidie Jaya, yang keberadaannya hanya berlangsung beberapa hari saja. Menurut kabar angin spanduk ini diturunkan oleh aparat kepolisian setempat.

Kejadian inilah yang melatarbelakangi beberapa pemuda yang sama-sama punya perhatian tinggi terhadap seni budaya sepakat untuk menindaklanjuti apa yang telah digagas sebelumnya untuk dijadikan sebuah komunitas dengan mengambil nama seperti yang telah dituliskan dalam spanduk tersebut. Setelah melakukan rembuk berulang kali dari warungkopi ke warungkopi, sepakatlah orang-orang ini membentuk Komunitas Kanot Bu sebagai sebuah wadah untuk berkarya dan berkreasi. Jika sebelumnya yang dalam spanduk bertuliskan kalimat politis, hasil rembukan menyimpulkan bahwa Komunitas Kanot Bu mengambil tema kebudayaan sebagai landasan utama untuk bergerak maju ke depan.

Mempunyai tempat beraktivitas di Kel. Emperom Lamteumen Timur, Banda Aceh, dari sebelumnya berada di gampong Blang Oi. Komunitas Kanot Bu berkhidmat pada gerakan kebudayaan secara umum. Menyebarkan nilai-nilai melalui ekspresi kebudayaan. Baik itu sastra, rupa dan corong kesenian lain. Penerbitan karya dalam bentuk buku kerap dilakukan dengan swadaya dan terbatas. Even-even kebudayaan yang pernah digelar lebih diutamakan untuk masyarakat yang tidak memiliki akses menikmati produk kesenian. Komunitas Kanot Bu sampai sejauh ini tetap merangkak menerjemahkan zaman melalui alat kebudayaan.

Sampai saat ini Komunitas Kanot Bu telah membentuk empat Lini Aksi sebagai wadah pengekspresian para anggotanya sesuai selera seninya masing-masing. Lini Aksi tersebut terdiri dari lini desain grafis yang mengkhususkan diri mendesain dan mencetak kaos-kaos khas Aceh bernama Geulanceng, lini perfilman dan fotografi bernama Lensa Kiri, lini penerbitan buku-buku indie bernama Tansopako Press, serta lini hikayat dan musik etnik bernama Seungkak Malam Seulanyan.

KOMENTAR FACEBOOK